CEGAH CORONA, PRINSIP-PRINSIP KESEHATAN DALAM ISLAM

CEGAH CORONA, PRINSIP-PRINSIP KESEHATAN DALAM ISLAM

Pertama, kita mempunyai kewajiban untuk memenuhi hak-hak tubuh. Hak tersebut diantaranya adalah memberi makan ketika lapar, mengobati bila sakit, dan mengistirahatkan tubuh saat letih. Nabi menjelaskan:
فإن لجسدك عليك حقا
“Sesungguhnya badanmu mempunyai hak atasmu” (HR. Imam Bukhari:1839)
…………
…………….
Kedua, kita diberi peluang untuk menolak takdir dengan melakukan takdir lain. Kita boleh menolak takdir penyakit yang akan menimpa kita dengan cara menghindar atau mengobati. Sebab, Islam tidak menganggap sembuh atau sakit merupakan takdir yang tak bisa ditolak. Seperti kasus gagalnya rencananya Sayyidina Umar menunju Syam, karena beliau mendengar informasi di sana ada wabah tha’un. Itulah yang dimaksud dengan lari dari takdir menuju takdir lain.
………………
Ketiga, Islam mengakui adanya penyakit yang menular, sehingga kita harus senantiasa menjaga diri dari penularan penyakit. Penyakit yang menular antara lain lepra, tha’un corona. Nabi bersabda: “Berbicaralah dengan orang yang berpenyakit lepra dengan jarak sejauh satu atau dua tombak.”
…………….
………………..
Keempat, Islam mengingkari berbagai bentuk pengobatan secara ghaib yang tidak sesuai dengan agama. Misalnya jampi-jampi yang tidak benar, dan permaian sulap yang dilakukan oleh para tukang sihir. Artinya, mengobati penyakit harus dengan cara traditional, kedokteran atau dengan do’a-do’a yang telah diajarkan oleh Nabi.
………………..
Kelima, Islam mendorong para pakar kesehatan supaya terus berusaha menyembuhkan penyakit yang sampai detik ini masih belum ditemukan obatnya. Sebab, tidak ada penyakit yang tidak ada obatnya. Sebaliknya, bagi orang yang tidak berkompeten mengobati penyakit, maka dilarang melakukan praktek pengobatan.
من تطيب ولم يعرف منه طب فهو ضامن
Barangsiapa mengobati padahal dia tidak dikenal ahli pengobatan, maka ia menanggung akibatnya (HR. Ibnu Majah dan Hakim)
…………………………….
………………………………….
Keenam, Islam menganjurkan supaya kita memelihara kesehatan jasmani dan kesehatan ruhani. Keduanya memiliki kaitan yang sangat erat. Penyakit batin dapat berpengaruh terhadap kesehatan lahir, misal penyakit hasud dapat mengganggu saraf otak. Begitu juga sebaliknya, penyakit lahir berpengaruh terhadap kesehatan akal dan otak. Dalam sebuah ungkapan disebutkan:
العقل السالم فى الجسم السالم
“Akal yang sehat terletak dalam tubuh yang sehat”

Sumber, Majalah Tanwirul Afkar 369

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *