PEMBENTUKAN KARAKTER BERBASIS KITAB KUNING.

PEMBENTUKAN KARAKTER BERBASIS KITAB KUNING.

Secara umum belajar kitab kuning di pondok pesantren terbagi pada dua kategori formal dan non formal. Formal yaitu belajar di madrasah dengan sistem pendidikan modern dan sangat terikat dengan absensi, peserta didik sangat terikat dengan aturan dan sistem yg dibuat oleh madrasah/sekolah, dan biasanya sang guru diberi imbalah / ujroh yang lazim disebut honorarium.
Non formal yaitu proses pendidikan di luar madrasah seperti ngaji kitab kuning yang dibacakan oleh kiai atau seorang ustadz di serambi pondok, masjid, musolla dll, termasuk juga adak seorang santri atas kringinannya sendiri kepada seorang guru. Pengajian non formal ini disebut juga pengajian umum karena bisa diikuti oleh siapa saja tanpa melihat latar belakang yang mengaji, bahkan terkadang diikuti oleh masyarakat non santri. Dalam pengajian ini tidak ada absensi, tidak ada sangsi bagi yang tdk ngaji, santri yg duduk di jenjang Ibtidaiyyah bisa ngaji bareng dengan yg sudah menjadi mahasiswa.. Alhasil sangat tergantung pada kesadaran santri itu sendiri. Dalam pengajian non formal ini benar2 didasarkan pada KEILHLASAN yang tinggi dari sang mu’allim dan muta’allim.
Lalu bagaimana pengaruhnya terhadap kejiwaan santri’/ Muta’allim?
Sekedar urun rembuk dari yang saya rasakan saat ternyata:

1. Jiwa saya sangat merasa terikat keguruan dengan kiai / ustadz yg mengajar di non formal tersebut. Ketika misalanya saya kirim fatihah krpada guru2 sya, maka aecara reflek semua yang pernah ngajar di non formal itu terbayang secara reflek.

2. Saya merasa sedikit tahu isi kitab kuning karena pengajian non formal ini. Untuk bisa merasa bahwa ilmu ini didapat dari pendidikan formal membutuhkan waktu untuk melogikakan dan di fikir dengan rabaan2 pengalaman yg d alami.

3.Saya merasakan bahwa saya bisa mengerjakan beberapa amaliyah yg wajib dan yg sunnah terbentuk dari kesadaran yg muncul dari proses pendidikan non formal tersebut.

4. Saya merasa jadi seorang santri karena pernah mengaji dari proses pendidikan non formal. Dan beberapa perasaan lain yang saya alami secara reflek. Lalu pertanyaannya adalah kenapa demikian? Setelah saya berfikir tahapan tahapan yg di lakukan, ternyata kata kunci utamanya adalah AL-IKHLAS. Ke ikhlasan di sini tercermin dari kesabaran, kesungguhan, ke Istiqomahan dan tentu do’a kiyai/guru yg membaca kitab,tentu juga ke ikhlasan, kesabaran, kesungguhan yg mengaji kitab tersebut, hal ini terjadi karena proses pembelajaran yg dilakukan tidak takut karena absensi, sangsi dan lain lain.

Tulisan ini hanya mengungkapkan perasaan dan pengalaman pribadi, tentu bisa berbeda dengan pengalaman sahabat yang lain.
Senior saya ustadz Moh Asra pernah bilang para pengajar kitab kuning seperti itu yang mendapatkan pahala besar, karena beliau2 mgajar tanpa pamreh dan tidak digaji, kecuali karena keikhlasan mereka.
Inilah buah dari suatu keikhlasan.
Salam Silaturahim (SS) untuk guru dan sahabat saya. Tanwirul Afkar, KH. Afifuddin Muhajir, Ust. Abdul Moqsith GhazaliPusat IksassMohammad Isfironi FadjriAhmad Zaini AhsinZainul Muin HusniImam Nakha’iImam MalikImam Buchori, KH. Jaiz Badri MasduqiAssyaif Bari.

 

Penulis: KH. Dr. Muhyiddin Khatib, M.H.I (Dosen Ma’had Aly Situbondo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *