Pemeritahan Kok Model Cicak!!!

Pemeritahan Kok Model Cicak!!!

Fir’aun vs Musa Dan Cicak vs Burung Pipit

Ustaz Abdus Somad (UAS) bertanya kepada jama’ahnya:
UAS : “Andai kita hidup di zaman Fira’un, kira-kira kita jadi pengikut siapa, Fir’aun atau Nabi Musa ?”
Jama’ah : “Musaaaaa….”
UAS : “Yakiiin ?”.
Jama’ah : “Yakiiiiiin…..”_
UAS : “Tapi yang membangun kota-kota di Mesir itu kan Fir’aun? Yang bangun infrastruktur juga Fir’aun. Yang bangun piramida Fir’aun. Yang paling kaya Fir’aun. Yang punya bala tentara banyak dan kuat Fir’aun. Yang punya banyak pengikut Fir’aun. Yang bisa memberi perlindungan dan jaminan Fir’aun. Yang Berkuasa Fir’aun. Yang bisa menyediakan makanan dan minuman Fir’aun. Yang bisa mengadakan hiburan Fir’aun. Yang bisa membuat pusat perbelanjaan Fir’aun. Bahkan jika teknologinya sudah ada mungkin Kartu Mesir Sehat dan Kartu Mesir Pintar juga dia buat. Sementara Nabi Musa, siapa dia? Hanya seorang penggembala kambing. Bicara saja tidak fasih alias cadel (akibat pernah memakan bara api diwaktu bayi). Hanya memiliki sebatang tongkat butut. Masih yakin mau ikut Nabi Musa?” tanya UAS sekali lagi.
Jamaah terdiam…
UAS : “Nabi Musa yang hanya sebagai penjaga kambing itu tiba-tiba mau mengajak kita menyeberangi lautan tanpa sampan, tanpa prahu, tanpa kapal, apa yakin kita mau ikut Nabi Musa?”
Tak satu pun jama’ah menjawab. Semua tertunduk dan diam seribu bahasa.
UAS : “Betapa sesungguhnya manusia zaman Firaun dan zaman sekarang tidak ada bedanya. Di Zaman sekarang, mayoritas kita tergila-gila pada harta, wanita, pangkat, jabatan, pujian, rayuan. Itulah al-wahn (cinta keduniawian), kata Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Sungguh, Fir’aun itu akan tetap ada hingga akhir zaman. Wajah, bentuk dan namanya boleh berubah, namun secara hakikat dia akan terus ada. Sebab sejarah akan berulang dan kita harus tetap yakin seyakin-yakinnya bahwa Fir’an, biidznillah dan dengan kuasa ALLAH azza wa jall pasti kalah. Fir’aun dikalahkan oleh Musa.

Siapa pun yang akan terpilih itu sudah takdir Allah dan sudah tertulis di Lauh Mahfudz, tetapi Allah akan mencatat ke mana kita berpihak.

Belajaralah dari cicak dan Burung Pipit👇
Saat Nabi Ibrahim alaihis salam dibakar oleh Raja Namrudz, datanglah burung pipit. Ia lalu bolak-balik mengambil air dan meneteskan air itu di atas api unggun besar yang membakar Nabi Ibrahim alaihis salam.

Cicak tertawa melihatnya: “Hai pipit, bodohnya yang kau lakukan itu. Paruhmu yang kecil hanya bisa menghasilkan beberapa tetes air, mana mungkin bisa memadamkan api itu?”

Burung pipit menjawab: “Wahai cicak, memang tak mungkinlah aku bisa memadamkan api yang besar itu, tapi aku tak ingin Allah melihatku diam saat seorang kekasih yang dicintai-Nya dizholimi. Allah tak akan melihat hasilnya, apakah aku berhasil memadamkan api itu atau tidak, tetapi Allah melihat ke mana aku berpihak”.

Cicak terus tertawa dan, sambil menjulurkan lidahnya, ia berusaha meniup untuk mengipasi api yang membakar Nabi Ibrahim alaihis salam agar semakin marak.

Memang tiupan cicak tak ada artinya. Tak menambah besar api yang membakar Nabi ibrahim alaihis salam, tetapi Allah melihat ke mana cicak berpihak.

Hikayat ini terjadi sekarang dan akan terus berulang saat Alqur’an dinistakan, suara adzan dipermasalahkan, bendera tauhid dibakar dan pembela agama dikriminalisasi.

Aku bertanya padamu sahabat, ke mana engkau berpihak? Memang, pilihanmu tak akan mengubah sedikit pun takdir Allah, tetapi Allah akan mencatat ke mana engkau berpihak, berada di barisan mana dirimu, siapa yang kamu dukung, siapa yang kamu pilih untuk jadi pemimpin? Ingat-ingat, pilihanmu akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat.

Renungkan itu sejenak saudara Muslimku, semoga Allah menyatukan kita kelak di Surga-Nya 🙏 amiin 🤲

Penulis: KH. Zainul Mu’in Husni (Dosen Ma’had Aly Situbondo sekaligus Pengasuh Ponpes An-Nadwah Besuki)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *