Salah Kaprah, Wajah Baru Pembodohan Kepada Umat

Salah Kaprah, Wajah Baru Pembodohan Kepada Umat

Insyaallah Dan Bi-Idznillah

Dua ungkapan Islami yang sangat familiar di telinga setiap Muslim, yaitu “insyaallah” (إِنْ شاءَ اللَّه) dan “bi-iznillah” (بِإِذْنِ اللَّه), makna keduanya serupa tetapi tidak sama. Oleh karena itu, barangkali penting dijelaskan agar tidak keliru dalam penggunaan, tentu tanpa maksud menggurui, maaf Juga tanpa mempersoalkan bagaimana ejaannya yang tepat dalam bahasa Indonesia.

Ungkapan “insyaallah” yang berarti “jika Allah berkehendak” digunakan untuk rencana perbuatan yang lazimnya dilakukan oleh makhluk Allah, baik manusia atau lainnya. Dikaitkan dengan kehendak Allah bukan berarti Allah yang mengerjakannya, tetapi sebagai ekspresi sikap santun kepada Allah karena rencana apa pun tanpa kehendak-Nya akan menggantung terus di angan-angan.

Contoh penggunaannya dalam Alqur’an

إِنَّ ٱلۡبَقَرَ تَشَـٰبَهَ عَلَیۡنَا، وَإِنَّاۤ إِن شَاۤءَ ٱللَّهُ لَمُهۡتَدُونَ» [البقرة: ٧٠]

“Sesungguhnya sapi itu belum jelas bagi kami, dan kami insyaallah akan menemukannya,” (QS. Al-Baqarah:70).

Artinya, jika bersamaan dengan kehendak Allah kami akan menemukan dan menyembelih sapi dimaksud.

Contoh lain,

سَتَجِدُنِیۤ إِن شَاۤءَ ٱللَّهُ صَابِرࣰا» [الكهف: ٦٩]

“Engkau akan mendapatkan aku insyaallah sabar,” (QS. Al-Kahfi:69).

Adapun ungkapan “bi-idznillah” yang berarti “dengan izin Allah” digunakan untuk sesuatu yang sepenuhnya di bawah kuasa Allah dan sama sekali tidak ada campur tangan makhluk di dalamnya.

Contoh penggunaannya,

فَهَزَمُوهُم بِإِذۡنِ ٱللَّهِ } البقرة: ٢٥١{

“Maka mereka (Nabi Dawud dan tentaranya) mengalahkan mereka (Raja Jalut dan tentaranya) dengan izin Allah” (QS.Al-Baqarah:251). Menang dan kalah itu murni kuasa Allah.

Dalam keseharian kita, ungkapan “insyaallah” kerap salah tempat dan jadinya lucu. Suatu saat, mungkin anda bertanya pada seseorang, berapa kilo dari sini ke Situbondo, dia jawab: “Insyaallah 40 kilo”. Arti harfiahnya, jika Allah berkehendak maka jaraknya 40 km. Mafuhm mukhalafahnya, jika Allah tidak berkehendak maka bisa 30 km atau 50 km. Padahal jarak itu sesuatu yang telah nyata-nyata ada. Tetapi, tentu bukan itu yang dia maksud, bukan? “Insyaallah” di sini hanyalah pengganti dari “kira-kira”

wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *