Ma’had Aly Situbondo, Pandemi Bukan Bencana

Ma’had Aly Situbondo, Pandemi Bukan Bencana

Hingga saat ini kita masih dihantui bayang-bayang virus corona. Pasalnya, lembaga kesehatan manapun masih belum menemukan vaksin khusus yang dapat digunakan untuk menyudahi pandemi virus ini. Dengan begitu, paling banter pemerintah hanya bisa melakukan upaya meminimalisir penularan virus ini, tidak benar-benar menghentikannya.

Sebagai upaya meminimalisir penularan, pemerintah Indonesia mulai membatasi ruang gerak aktivitas berbagai lembaga, termasuk lembaga-lembaga yang ada di pesantren.

Kenyataan semacam ini membuat beberapa pesantren yang ada di Indonesia dilema antara tetap bersikukuh memulai aktivitas pada biasanya yang itu melibatkan ribuan santri dan beresiko menciptakan penularan virus dengan jumlah yang bombastis, atau memilih tidak melakukan apapun dengan konsekuensi aktivitas di pesantren menjadi mandeg dan tak terurus.

Menghadapi kenyataan semacam ini, Lembaga Ma’had Aly Situbondo mengambil jalan tengah (al- Awshatiyah) dengan berpegang teguh pada kaidah fikih.

مالايدرك كله لايترك كله

“Apa yang tak dapat kamu tunaikan semuanya jangan sampai kamu tinggalkan semuanya”

الميسور لا يسقط بالمعسور

”Sesuatu yang sulit dilakukan jangan menjadi alasan untuk meninggalkan sesuatu yg mudah dilakukan”

Jalan tengah (al- Awshatiyah) yang dimaksud di sini adalah Lembaga Ma’had Aly Situbondo mengambil langkah tegas sekaligus hati-hati. Terhitung sejak Tanggal 20 Juni 2020, Ma’had Aly Situbondo secara resmi sudah memulai aktivitas belajar-mengajar. Namun, aktivitas belajar-mengajar tahun ini sangat jauh berbeda dibandingkan dengan aktivitas belajar-mengajar yang dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya.

Letak perbedaan tersebut sekurang-sekurangnya bisa kita temukan di dalam dua hal.

Pertama, tim pengajar. Untuk tahun saat ini, dosen pengajar yang bergerak membimbing para Mahasantri hanya terbatas pada dosen yang bermukim di sekitar lingkungan Ma’had Aly Situbondo saja. Misalnya, KH. Afifuddin Muhajir, Dr. Ustaz. Ach. Muhyiddin Khotib, Ustaz. Ahmadi Muhammadiyah, dan Ustaz. Muhammad Riskil Azizi. Sementara dosen-dosen yang lain masih ditangguhkan sampai dengan waktu yang masih belum diketahui.

Pembatasan tim pengajar tersebut dilakukan sebagai bentuk antisipasi kemungkinan penuluran virus corona melalui orang-orang yang datang dari luar.

Kedua, porsi atau waktu belajar. Di tengah pandemi corona, waktu belajar yang dijalani para Mahasantri Ma’had Aly Situbondo tidak begitu padat sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Saat ini mereka hanya dijadwalkan ikut pengajian  pada pagi dan sore hari. Di selain dua jadwal itu, waktu mereka digunakan untuk melakukan diskusi ringan atau menakror hafalan dan materi yang telah usai dipelajarinya

Langkah semacam ini dilakukan, selain karena minimnya tim pengajar, faktor kesehatan juga menjadi alasan yang mengilhami pengurus Ma’had Aly Situbondo untuk mengurangi jadwal belajar para Mahasantri, agar Mahasantri tetap sehat dan memiliki imun yang kuat.

Akhiran, keterbatasan ini seharusnya dijadikan sebagai momentum titik balik bagi kita agar kreatif dan tetap survive dengan berbagai tantangan zaman. Bukan malah sebaliknya, menjadikan kita sebagai generasi pemalas yang menyerah begitu saja pada keadaan, tanpa mau berusaha dan bergerak menunaikan hal-hal yang sesungguhnya masih bisa dikerjakan.

Penulis: Syarifuddin, S. Ag (Santri Aktif Ma’had Aly Marhalah Tsaniyah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *