Napak tilas Pemikiran Kiai As’ad, Pandangan Mendalam Menaati Pemerintah Lalim

Napak tilas Pemikiran Kiai As’ad, Pandangan Mendalam Menaati Pemerintah Lalim

“akrobat” wakil rakyat yang selalu menjadi hiburan tersendiri bagi rakyat tak pernah menjenuhkan, bahkan semakin mengasyikkan. Tak memandang apakah dalam masa kriris ataupun tidak, tidak penting, yang penting rapat dan kenyang. Lihat saja “gonjing-ganjingnya” mereka dalam masa pandemi, mulai dari pembahasan pmbahas omnibus law, padahal badai pandemi belum usai kemudian kurang optimalnya penggunaan dana untuk covid-19. Dari saking sadisnya, bapak presidan sempat “murka”, bahkan mengeluarkan ancaman perombakan kabinet.

Tak tau apakah memang keadaan yang mengalahkan para wakil-wakil rakyat atau memang ada niat busuk terselubung ?. Kalau seandainya memang keadaan yang mengalahkan mereka,kita hanya bisa berharap, semoga keberuntungan menyertai. Namun kalau berlandasan niat busuk, kita doakan semoga mereka mendapat hidayat. Tapi walaupun demikian, bagaimana sikap kaum rumput seperti penulis ini, apakah masih harus wajib patuh dan menaati ?

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

artinya, wahai orang-orang beriman, taatilah Allah,utusan-Nya, dan ulil amri kalian.

Ayat ini biasanya menjadi amunisi bagi para wakil untuk meredam amarah rakyat. Sudahlah terserah mereka, yang jelas di dalam kitab al-Hawi fi Fikhi a-Syafi’i dikatakan, term ulil amri memiliki tiga pemaknaan, pertama adalah para pemimpin negara kemudian bisa diartikan para Ulama’ dan terkahir bisa di artikan sahabat nabi. Sedangkan di dalam kitab bahru al-Madid di jelaskan, pokoknya orang yang mengurusi keperluan orang lain disebut sebagai ulil amri.

Perlu diingat, sekalipun posisi ulil amri disamakan, namun tidak seratus persen sama, karena kepatuhan kepada ulil amri sangat terbatas beda halnya taat kepada Allah dan rasul, sampai hari kiamat wajib taat. Di samping itu, taat kepada ulil amri hanya dalam hal urusan dunia. Sedangkan kepada tuhan dan utusan-Nya beda lagi, harus taat dunia-akhirat.

Kewajiban taat kepada pemimpi juga ditegaskan di dalam hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari,

على المرء المسلم السمع والطاعة فيما أحب وكره ، إلا أن يؤمر بمعصية فلا سمع ولا طاعة

Artinya, wajib bagi seorang muslim menaati dan mendengarkan segala intrupsi pemimpin dalam segala hal, baik  orang itu suka atau tak suka. Hal ini selama bukan intrupsi yang bersifat maksiat. Kalau sudah memerintah kepada hal yang bersifat maksiat, jangan taati.

Imam nawawi mengatakan, kewajiban menaati perintah pemimpin yang bukan maksiat merupakan hasil konsensus para Ulama pun sebaliknya keharaman mentaati pemimpin yang memerintah kepada kemaksiatan adalah hasil konsensus, tak bisa diganggu gugat. Ini yang menarik, di dalam kitab al-Fikhul Minhaj ala Mazhab Imam Syafi’i tertuang kalimat, kewajiban taat kepada pemimpin berisifat mutlak, baik pemimpin yang adil ataupun yang lalim. Hal ini sebagaimana hadis Nabi yang diriwayatkan Abu Hurairah,

عنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ سَيَلِيكُمْ بَعْدِي وُلاَةٌ فَيَلِيكُمُ الْبَرُّ بِبِرِّهِ وَالْفَاجِرُ بِفُجُورِهِ فَاسْمَعُوا لَهُمْ وَأَطِيعُوا فِيمَا وَافَقَ الْحَقَّ وَصَلُّوا وَرَاءَهُمْ فَإِنْ أَحْسَنُوا فَلَكُمْ وَلَهُمْ وَإِنْ أَسَاؤُوا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ

Artinya, sepeninggalku nanti ada pemimpin-pemimpin yang akan memimpin kalian, pemimpin yang baik akan memimpin dengan kebaikannya dan pemimpin yang lalim akan memimpin kalian dengan kelalimannya. Maka dengarlah dan taatilah mereka pada perkara-perkara yang sesuai dengan kebenaran saja. Apabila mereka berbuat baik maka kebaikannya adalah bagimu dan untuk mereka, jika mereka berbuat buruk maka bagimu (untuk tetap berbuat baik) dan bagi mereka (keburukan mereka).

Ala kullihal, bahwa menaati para wakil rakyat atau pemimpin, baik mereka grombolan tikus-tikus ataupun perkumpulan manusia berhati malaikat. Kita sebagai rakyat, harus patuh. Sudahlah bosan bicara tingkah laku mereka terus, sebagai penutup penulis akan sedikit berkisah-walaupun kisah ini sudah jamak diketahui tapi tak apa, semoga ada barakatnya- mengenai sesuatu hal yang bahkan oleh kebanyakan orang dianggap sederhana. Tokoh utama kali ini adalah salah satu  masyakhina, Kiai As’ad Syamsul Arifin. Di sini akan dikisahkan bagaimana sikap beliau kepada aturan pemerintah dan UUD

Pada suatu kesempatan Kiai As’ad bepergian jauh ke luar kota dari sukorejo. Beliau ditemani salah satu sopir yang bernama musykirin yang konon sekarang pun tampil menjadi seorang tokoh pula. Lepas salat isya’, musykirin melaju di jalanan kota semarang. Pada saat di perempataan ternyata lampu merah sedang menyala yang itu berarti semua kendaraan harus berhenti. Namun musykirin malah menerobos lampu merah dengan dalih jalanan lagi sepi.

Konon Kiai As’ad langsung naik pitam yang kemudian berdawuh, “turun dulu nak”. Mendengar titah Kiai, musykirin tanpa pikir panjang, langsung melambatkan mobil dan menepi. Tak seperti biasanya, Kiai langsung turun sendiri, tak lagi nunggu dibukakan pintu oleh musykirin. Mengapa kamu tidak berhenti padahal sedang lampu merah ? tanya Kiai As’ad. Mohon maaf Kiai, jalanan lagi sepi, jawab musykirin.

Melihat itu, Kiai justru semakin marah, loh kamu itu harus tahu. Lampu lalu lintas itu peraturan negara dan sudah ada undang-undangnya. Para pemimpin mengadakan rapat membahas UUD lalu lintas butuh biaya besar. Sedangkan biaya yang digunakan diambil dari uang rakyat. Kamu bisa dosa kepada orang banyak. Biasakan mempunyai pandangan luas, jangan hanya terbatas kepada apa yang terlihat oleh mata, dawuh Kiai. Mendengar itu musykirin menjawab, iya kiai, saya tak akan mengulanginya lagi. Dari kisah ini silahkan cari ibrah dan manfaatnya sendiri. Bukankah sudah pada cerdas-cerdas. Wassalam. (asb)

Penulis: Admin Tanwirul Afkar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *