Ihsan Sebagai penyempurna dalam Beragama.

Ihsan Sebagai penyempurna dalam Beragama.

Dalam agama Islam terdapat tiga hal yg menjadi pilar dalam beragama. Pilar-pilar ini seharusnya dipahami dan dimaknai secara mendalam kemudian diaplikasikan secara apik ke dalam kehidupan. Tiga pilar ini yakni Islam, iman dan ihsan. Jika ketiga pilar ini sudah diimplementasikan dalam kehidupan, maka lahirlah pribadi yang quraniy.

Dua yang pertama yaitu Islam dan Iman sudah menjadi sesuatu yg familiar di telinga kita, namun banyak yang melupakan pilar ketiga yaitu ihsan.  Padahal ihsan memiliki dampak yang sangat besar jika diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bisa menjaga seseorang dari perbuatan tercela bahkan terlarang serta meningkatkan kualitas ibadah yang dikerjakan.

Terdapat hadis panjang yang menjelaskan perihal ihsan, yakni ketika Rasulullah ditanya oleh malaikat Jibril perihal Islam, iman dan ihsan. Saat berbicara tentang ihsan beliau menuturkan sebagai berikut :

أَنْ تَعْبـــُدَ اللَّهَ كَأَنَّــكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Engkau menyembah Allah seakan engkau melihat-Nya, maka bila engkau tak melihat-Nya maka sesungguhnya Allah melihatmu.” (HR.Muslim)

Berdasarkan penjabaran Rasulullah tentang ihsan diatas, dapat kita pahami bahwa beribadah kepada Allah seolah-olah kita melihat-Nya, namun jika kita tidak dapat melihat Allah maka yakinlah bahwa Ia selalu melihat seluruh gerak gerik kehidupan kita.

Berbicara tentang ihsan, ada kisah menarik dalam kitab Minhāj al-Islām karya imam Bakar Jabir al-Jazairi. Diceritakan bahwa ada seorang majikan yg dibuat marah oleh budaknya. Berhubung budak tersebut cerdas, ia menyindir sang majikan menggunakan salah satu ayat alquran, yakni surah Ali Imran 134. Berikut percakapan antara majikan dan budak tersebut:

Budak : والكاظمين الغيظ (orang-orang yang menahan amarahnya)

Majikan : “iya, aku menahan amarahku”

Budak : والعافين عن الناس (orang-orang yang memaafkan kesalahan manusia)

Majikan : “aku memaafkanmu”

Budak : والله يحب المحسنين (Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan)

Majikan : “sana pergi, aku sudah merdekakanmu karena Allah.”

Melihat kisah inspiratif diatas, betapa hebatnya sang majikan melalui beberapa level tingkat ketaqwaan kepada Allah yang tak lain karena sifat ihsan yang ia miliki (selalu merasa dilihat oleh Allah). Seharusnya yang pada awalnya ia marah, malah tidak jadi marah karena ditahan amarahnya. Setelah berhasil menundukkan amarahnya, sang majikan langsung naik ke level berikut nya yakni memaafkan kesalahan orang lain, dimana memaafkan merupakan hal yang agak berat bagi kebanyakan orang pada umumnya. Kemudian, pada akhirnya sang majikan malah langsung melakukan kebaikan dengan cara memerdekakan budak tersebut.

Akhirnya, ihsan merupakan penyempurna bagi kehidupan kita dalam beragama. Tak hanya mampu menjaga dari hal-hal yg mengurangi kedekatan kepada Ilahi, melainkan juga mampu meningkatkan kualitas ketaqwaan kita terhadap Allah SWT. karena kita selalu merasa diawasi kapanpun dan dimanapun kita berada.

Penulis: Riski Maulana Fadly

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *