Testimoni Kiai Zaini Mun’im Nurul Jadid, Dari Rokok Hingga Kaidah Fikih

Testimoni Kiai Zaini Mun’im Nurul Jadid, Dari Rokok Hingga Kaidah Fikih

Dari Memori Nostalgia, Saat Tidak Bisa Menikmati Barangnya, Cium Saja Aromanya

Tahun-tahun pertama saya mondok di Nurul Jadid, saya sering melihat Pengasuh, Hadratus Syaikh KH. Zaini Mun’im, merokok, tetapi itu hanya di dhalem (kediaman) beliau sendiri saat melayani tamu. Sedang di luar dhalem, di halaman, di sawah atau di tempat-tempat lain, saya tidak pernah melihat beliau merokok. Ini artinya bahwa beliau bukan perokok berat, melainkan mungkin iseng saja.

Tetapi, konon, menurut santri-santri senior di atas saya, beliau justru tergolong perokok berat. Namun, istimewanya, beliau hanya merokok tembakau dan tidak pernah merokok sigaret kretek. Tembakau pun bukan sembarang tembakau, melainkan tembakau super asal Madura yang tergolong langka dan sangat mahal, yaitu yang dikenal dengan tembakau Jambangan atau Campalok. Jambangan adalah nama beberapa petak tanah tegalan di ujung barat Kecamatan Guluk-guluk, Sumenep. Dari tanah inilah lahir tembakau super istimewa yang disebut tembakau Jambangan.

Tembakau Jambangan sangat dikenal namanya di kalangan masyarakat Madura. Sekali lagi, yang dikenal luas cuma namanya saja, sedang barangnya tidak banyak yang tahu atau melihatnya, termasuk saya sendiri, karena dia memang tembakau kelas atas yang harganya di atas Rp 1 juta perkilo gram. Praktis tidak dijual di pasaran bebas dan penikmatnya pun hanya kalangan elit saja. Di samping itu, juga ada mitos yang membumbuinya, yaitu bahwa tanah Jambangan adalah bekas petilasan Potre Koning sehingga ada nilai sakralnya juga, dohlala Nah, tembakau jenis inilah kesukaan Hadratus Syaikh sebagaimana dituturkan KH. Abdul Haq Zaini, salah seorang putera beliau. Beliau melinting sendiri rokoknya dan biasanya lintingannya sangat kecil dan langsing.

Berita bahwa beliau perokok berat tembakau jenis ini agaknya tidak bisa disangkal. Buktinya, beliau sering merokoknya meski tidak di sembarang tempat. Suatu ketika di bulan Ramadhan, saat membaca khataman kitab Tafsir al-Jalalain di masjid pesantren, saya melihat beliau membawa lintingan rokok tembakau tersebut ke masjid. Tentu beliau tidak merokoknya karena lagi puasa dan di masjid pula. Tetapi saya melihat dengan mata kepala saya sendiri sesekali beliau menciumi lintingan rokok itu dan tampak sangat menikmatinya. Hal itu membuat hati saya bertanya-tanya kenapa beliau menciuminya terus. Kemudian, dan ini uniknya dan baitul qashid dari status ini, beliau dawuh seakan hendak menjawab pertanyaan saya: “Jika merokok tidak boleh untuk saat ini karena lagi puasa, maka setidaknya bisa menikmati aroma tembakaunya saja sesuai kaidah:

مَا لَا يُدْرَكُ كُلُّهُ لَا يُتْرَكُ جَلُّهُ

“Sesuatu yang tidak bisa dicapai keseluruhannya setidaknya tidak ditinggalkan sebagiannya.”

Subhanallah, rasanya baru kemarin sore hal itu terjadi. Lahul Faaatihah…

Penulis: KH. Zainul Mu’in Husni (Dosen Ma’had Aly Situbondo sekaligus Pengasuh Ponpes An-Nadwah Besuki)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *