Mengingat Lupa, Bu Nyai Hani Ulama Perempuan Dari Ujung Timur

Mengingat Lupa, Bu Nyai Hani Ulama Perempuan Dari Ujung Timur

Adalah Bu Nyai Hani nama populer dari salah satu putri KH. Dhofir Munawwar. Nama lengkapnya, Aisyatin Hani’ah. Nama ‘Umi Hani’ diperoleh saat pulang dari haji bersama Kiai Hariri. Beliau adalah sosok Bu Nyai yang sangat disegani dan disenangi dikalangan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo. Beliau dijuluki sebagai foto copy abahnya, yaitu KH. Dhofir Munawwar karena ia mewarisi keilmuan dan ketegasan dalam menjalankan amanah yang dipasrahkan oleh Kiai As’ad.

Beliau menikah dengan kiai sufi dan karismatik yang berasal dari kota Malang, KH. Hariri Abdul Adhim. Keduanya dikaruniai tiga orang putra, yaitu Lora Rohikil Mahtum, Neng. Sofil Widad, dan Lora Abdurrahman Kayyis (sekarang sebagai Wakil Mudir Mahad Aly sekaligus Pemangku Asrama Ma’had Aly). Di samping itu, keduanya juga mempunyai anak rodho yang diserahkan oleh ibundanya, yakni Lora Mahbub.

Semasa hidup,  beliau diberi kepercayaan menjadi kepala Madrasah Ibtidaiyyah. Ia juga diberi kepercayaan untuk mengurus pondok pusat putri bersama ibundanya (Nyai Zainiyah). Di kalangan ketua kamar, Bu Nyai Hani dikenal sebagai sosok yang ramah dan komunikatif. Ia tidak membatasi hubungan antara kedudukannya sebagai ibu Nyai dengan santri. Ia juga istiqamah mengadakan perkumpulan dengan ketua kamar dan  pengurus setiap satu bulan sekali. Di dalam perkumpulan tersebut, ia selalu memberi motivasi secara dzahir dan batin. Selain itu, ia juga merupakan sosok yang terbuka kepada ketua kamar. Ia sering mendengarkan masalah dan memberikan solusi sehingga ketua kamar merasa lega dan semangat untuk melaksanakan amanahnya. Dalam suatu kesempatan, Bu Nyai mengatakan, Menjadi ketua kamar sama halnya jihad fi sabilillah”. Perhatian yang ia berikan tidak hanya dirasakan oleh ketua kamar lama tetapi juga dirasakan ketua kamar baru, mereka dibimbing dan dikenalkan apa yang seharusnya menjadi tugas mereka. Dari sangat pedulinya ia kepada santri, beliau banyak menghabiskan waktunya di asrama pusat. Bahkan, sering kali Bu Nyai pulang hanya untuk makan, ganti baju dan mandi.

Ibu dari Neng Ufil ini juga diberi amanah untuk menangani keuangan pesantren menggantikan ayahnya setelah ayahnya wafat pada tanggal 30 mei 1985. Dikalangan pengurus keuangan pesantren, ia dikenal sangat peduli terhadap staf. Ia sering turun tangan sendiri untuk menanyakan keluhan santri dalam membayar uang pesantren. Menurut informasi yang didapatkan dari Ustadzah Dra. Mua’ni (anggota bidang keuangan pesantren), sikap Bu Nyai sangat ramah dan peduli. Sering kali ketika Bu Nyai pulang ngajar dan melewati kantor Uang Tahunan Pesantren (UTAP), ia berkata “bedhe pessenah?” (ada uangnya?) dengan wajah penuh canda dan senyuman.

Menurut H. Mansur Idris, Nyai Hani merupakan sosok yang jujur dan bertanggung jawab. Padahal di masa Nyai Hani menjadi pengurus keuangan, peluang untuk tidak jujur sangatlah sedikit. Hal ini di karenakan ketelatenan yang ia miliki. Meskipun teknologi tidak secanggih zaman sekarang (masih belum di nota dan di audite), namun hal itu tidak mematahkan semangat Bu Nyai untuk terus mengedepankan kejujuran. Salah satu contoh kejujuran dan tanggung jawab Bu Nyai dibidang keuangan adalah setiap kali ia mendatangi kota Jember, ia selalu menyempatkan diri untuk mencocokkan nota pembelian barang pada toko-toko yang menjadi pusat pembelanjaan stafnya. Hal itu bertujuan untuk membuktikan benar atau tidaknya pembelian yang dilakukan oleh staf keuangan pesantren.

Sebagai seorang Bu Nyai, ia memiliki komitmen yang tinggi terhadap perkembangan pesantren dan berusaha untuk mewujudkan impian-impian para leluhur. Tidak heran jika rutinitas kesehariannya digunakan untuk mengajar dan mendidik santri dalam bertingkah laku dan beribadah. Di samping itu, Bu Nyai juga aktif memberikan pengajian dan perkumpulan santri yang biasanya dilaksanakan tiga bulan sekali. Ia selalu menghadiri perkumpulan wali santri yang dilaksanakan sebelum pulang dari pondok. Ia juga sering mengisi acara besar di pondok, seperti maulid Nabi saw. dan idul adha. Ia mewariskan banyak peninggalan kegiatan di pondok ini,  yang sampai sekarang masih tetap eksis. Salah satunya adalah acara wisuda bagi mahasiswi.

Bu Nyai Hani dikenal sebagai sosok pemberani dan tegas untuk menyampaikan apa yang seharusnya disampaikan. Terkadang Bu Nyai Uswatun Hasanah mempercayakan Nyai Hani untuk memberi masukkan pada Nyai Zainiyyah. Hal ini dikarenakan ia mempunyai cara tersendiri dalam menyampaikan pendapat, tidak langsung menyalahkan tapi justru mengajak musyawaroh.

Penulis: Tusamma dan Elia Rahmani Fitri (Santri Aktiv Mahad Aly Marhalah Tsaniyah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *