Idul Adha, Berkurban  Kok Diwakilkan

Idul Adha, Berkurban  Kok Diwakilkan

Di era yang serba praktis ini, manusia modern menginginkan segalanya berjalan instan. Semua urusan ingin dijalani dengan mudah dan tidak ruwet, termasuk urusan ibadah. Untuk itu, biasanya urusan tersebut tidak ia kerjakan sendiri, melainkan meminta pertolongan orang lain.

Ibadah berkurban misalnya. Kesibukan yang padat, atau ketidakmengertian terhadap tatacara berkurban menjadi motivasi orang dewasa ini untuk menyerahkan urusannya kepada panitia kurban yang dibentuk oleh pemerintah, organisasi keagaamaan masyarakat, sampai ta’mir masjid. Panitia ini mengurusi segala tetek bengek dalam proses kurban, mulai dari pembelian hewan kurban, penyembelihan dan pemotongan, sampai pembagian daging.

Pertanyaan yang muncul kemudian, apakah seseorang boleh menyerahkan urusan ibadahnya kepada orang lain, dalam hal ini ibadah kurban? Lantas apa status panitia kurban itu sendiri?

Ibadah ada tiga macam: Pertama, Ibadah Badaniyyah Mahdlah, seperti shalat dan puasa. Ibadah semacam ini tidak bisa diwakilkan, sebab tujuan ibadah ini adalah memberikan ‘it’ab an-nafs (beban personal), dan itu tidak mungkin diwakilkan. Kedua, Ibadah Maliyah Mahdlah, yakni ibadah yang mengandung unsur material-finansial, seperti zakat, kafarat, dan berkurban. Ibadah semacam ini dapat diwakilkan baik dalam kondisi normal maupun darurat, sebab tujuan dari ibadah ini adalah tersalurnya manfaat finansial bagi yang berhak menerima. Itu bisa dicapai melalui yang bersangkutan secara langsung maupun orang lain. Ketiga, ibadah yang mengandung keduanya, baik badaniyyah maupun maliyyah, seperti ibadah haji. Menurut Jumhur selain Malikiyah, ibadah semacam ini dapat diwakilkan ketika dalam kondisi darurat atau tidak mampu melaksanakannya. Beban taklif dalam ibadah ini mengena baik kepada yang bersangkutan jika mengerjakan sendiri, maupun orang lain jika biayanya berasal dari yang mewakilkan. Dari klasifikasi ini, mewakilkan ibadah berkurban kepada orang lain, mulai dari menyediakan hewan, menyembelih hingga membagi-bagikan dagingnya jelas diperbolehkan. [Fiqh as-Sunnah: 1/741, Al-Fiqh al-Islamy: 3/425, Syarh as-Shaghir: 2/145]

Melihat praktek berkurban saat ini, seseorang yang hendak berkurban memberikan sejumlah uang kepada panitia untuk menyediakan hewan kurban. Dulu, Rasulullah pernah menyerahkan satu dinar kepada salah seorang sahabatnya yang bernama ‘Urwah untuk membelikannya hewan kurban, kemudian ‘Urwah benar-benar melaksanakan permintaan Rasulullah. Sebelum sampai ke tangan beliau, ‘Urwah menjual kembali hewan tersebut seharga dua dinar, lalu satu dinarnya ia belikan hewan kurban lagi. Akhirnya, ‘Urwah membawa satu ekor hewan kurban dan satu dinar sisa penjualan hewan kurban yang di beli sebelumnya kepada Rasulullah. Ternyata, Rasulullah memberkahi dengan mendoakan apa yang ‘Urwah lakukan supaya menjadi berkah. Hadits ini dibuat landasan (mustanad) Ijma’ para ulama untuk legalitas perwakilan untuk membeli hewan kurban.[Shahih Bukhari: 12/394, Sunan Ibnu Majah: 7/335, Sunan Kubra li al-Baihaqi: 6/112, At-Tamhid: 2/107, Nail al-Authar: 8/9]

Di samping itu, perwakilan juga bisa dilakukan perihal penyembelihan. Dari seratus unta yang hendak Rasulullah kurbankan, beliau cuma menyembelih 63, sementara sisanya diberikan kepada Sayyidina Ali. [Shahih ibnu Hibban: 17/40, Asna al-Mathalib: 6/480, Bada’i as-Shana’i: 10/313] Pada dasarnya melakukan penyembelihan sendiri secara langsung itu lebih baik bagi lelaki. Bagi yang tidak bisa menyembelih, sunnah juga mewakilkan.Khawatir kalau disembelih sendiri akan menjadi bangkai. Sedangkan bagi perempuan disunnahkan untuk mewakilkan penyembelihan kepada orang lain. Bagi yang mewakilkan penyembelihannya, disunnahkan untuk menyaksikan prosesi penyembellihan. Ini didasarkan pada perintah nabi kepada Sayyidah Fathimah:

يَا فَاطِمَةُ قُوْمِيْ إِلَى أُضْحِيَتِكِ فَاشْهَدِيْهَا فَإِنَّهُ يُغْفَرُ لَكِ عِنْدَ أَوََّلِ قَطْرَةٍ تَقَطَّرُ مِنْ دَمِهَا كُلُّ ذَنْبٍ عَمِلْتِهِ

“Duhai, Fathimah! Datangi dan saksikanlah kurbanmu. Sesungguhnya di awal percikan darahnya dosa yang kau perbuat akan diampuni.”[Al-Mustadrak: 17/383]

Nah, dari seluruh penjelasan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa posisi panitia kurban adalah wakil atau na’ib dari empu kurban yang berarti, boleh mewakilkan kurban.[Syarah al-Bahjah al-Wardiyyah: 19/153, I’anah at-Tholibin: 2/381, Hasyiyah Jamal: 4/296]

Penulis: Admin Tanwirul Afkar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *