Beralih Status, Ini Prosedur Memasuki Hagia Sophia

Beralih Status, Ini Prosedur Memasuki Hagia Sophia

Keinginan Erdogan mengubah Hagia Sophia menjadi Masjid benar-benar terwujud. Pada hari Jumát lalu, pengadilan mencabut keputusan status museum yang disematkan pada 1934 ketika Kemal Ataturk berkuasa. Setelah putusan itu, ia langsung mengeluarkan dekrit bahwa Hagia Sophia tak lagi di bawah Menteri Kebudayaan, namun di Kementerian Urusan Agama. Majelis hakim Pengadilan Turki menyampaikan alih fungsi Hagia Sophia dari museum ke masjid pada Jumat, 10 Juli 2020.[baca https://travel.tempo.co]

Mengalihkan fungi museum Sophia menjadi masjid tentu berimplikasi kepada adab-adab yang perlu dijaga sebab sebagai rumah Allah tentu perlakuannya berbeda dari tempat-tempat lainnya. Diantara adab-adab yang harus diperhatikan ialah;

  1. Berpakaian yang sopan, teruma baju yang menutupi aurat.

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا

“Wahai bani Adam, gunakanlah perhiasan kalian setiap kali menuju masjid, makan dan minumlah kalian…” (QS. Al-A’raf: 31)

  1. tidak membawa bau-bau yang tidak sedap, seperti dimakan atau sebagaianya.

Ibnu ‘Umar berkata bahwa Rasulullah bersada di perang Khaibar:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ فِى غَزْوَةِ خَيْبَرَ « مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ – يَعْنِى الثُّومَ – فَلاَ يَأْتِيَنَّ الْمَسَاجِدَ ».

Barangsiapa yang makan dari pohon ini–yaitu bawang–, maka janganlah dia datang masjid kami. (HR. Imam Muslim dalam kitab Shohihnya, Jus: 2, Hal: 79).

  1. Disunnahkan mendahulukan kaki kanan daripada yang kiri

Orang yang mau masuk masjid hendaknya mendahulukan kaki yang kanan dari pada kaki kiri berdasarkan hadis yang diriwayatkan sahabat Anas;

مِنَ السُّنَّةِ إِذَا دَخَلْتَ الْمَسْجِدَ أَنْ تَبْدَأَ بِرِجْلِكَ الْيُمْنَى ، وَإِذَا خَرَجْتَ أَنْ تَبْدَأَ بِرِجْلِكَ الْيُسْرَى

Termasuk dari perbuatan sunnah, apabila anda masuk masjid hendaklah mendahulukan kaki kanan dan bila hendak keluar dari masjdi hendaklah mendahulukan kaki kiri[HR. Al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak, Jus: 1, Hal: 326]

  1. berdoa ketika mau masuk dan mau keluar masjid

Disunnahkan bagi orang yang masuk masjid untuk berdoa dengan doa yang diajarkan oleh Rasulullah, begitu juga saat keluar dari tempat mulia ini. Dari Abi Humaidy atau Abi Sa’ad, Nabi bersabda:

عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ سَعِيدٍ عَنْ أَبِى حُمَيْدٍ – أَوْ عَنْ أَبِى أُسَيْدٍ – قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ افْتَحْ لِى أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ. وَإِذَا خَرَجَ فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ »

Apabila salah satu dari kalian masuk masjid maka ucapkan; اللَّهُمَّ افْتَحْ لِى أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ. Dan bila keluar maka bacalah: اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ. [HR. Imam Muslim dalam kitab Shohinya, Jus: 2, Hal: 155]

Siti Fatimah mengatakan: bila Rasulullah masuk masjid beliau membaca salawat dan membaca: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ. Sedangkan bila keluar beliau membaca salawat lagi kemudian membaca: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ فَضْلِكَ. [HR. Imam Ahmad dalam kitab Musnadnya, Jus: 44, Hal: 13]

  1. Orang yang berhadas besar dilarang berada di Masjid

Orang yang junub atau hadas besar diharamkan berada di Masjid. Larangan ini didasarkan pada firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا [النساء: 43]

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi

sedangkan dalil dilarangnya wanita yang sedang haid berada di masjid ialah hadist:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ لِى رَسُولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم- « نَاوِلِينِى الْخُمْرَةَ مِنَ الْمَسْجِدِ ». قَالَتْ فَقُلْتُ إِنِّى حَائِضٌ. فَقَالَ « إِنَّ حَيْضَتَكِ لَيْسَتْ فِى يَدِكِ »

dari Aisyah, beliau berceritaa bahwa Nabi pernah berkata padanya: Ambilkan untukku khumroh (sajadah kecil) di masjid. Lalu aku menjawab: Sesungguhnya aku sedang haid, Rasulullah bersabda: Sesungguhnya haidmu itu bukan karena sebabmu. [HR. Ibnu Majah dalam kitab sunannya, Jus: 1, Hal: 207]

Perkataan siti Aisyah: إني حائض, menunjukkan bahwa sudah masyhur dikalangan sahabat bahwa orang haid dilarang berdiam dimasjid, namun siti Aisyah menduga bahwa masuk masjid meskipun berniat tidak akan berdiam di sana juga dilarang, oleh karena itu nabi menjelaskan bahwa pemahaman istrinya tidak benar. Dari hadis ini juga dipahami bahwa orang junub dan haid tidak dilarang melewati masjid. [Lihat kitab: ahkam hudur al-masjid, hal: 26]

  1. Dilarang mencari barang yang hilang

Dari sahabat Abu Hurairah,Nabi bersabda:

مَنْ سَمِعَ رَجُلاً يَنْشُدُ ضَالَّةً فِى الْمَسْجِدِ فَلْيَقُلْ : لاَ أَدَّاهَا اللَّهُ إِلَيْكَ ، إِنَّ الْمَسَاجِدَ لَمْ تُبْنَ لِهَذَا.

barang siapa mendengar seseorang sedang mencari barang yang hilang di masjid maka katakan padanya: Allah tidak akan memenuhi keinginanmu(tidak akan mengembalikan barang itu) sebab masjid-masjid tidak dibangun untuk tujuan demikian. [HR. Al-Baihaky dalam as-Sunan al-Kubro, Jus: 2, Hal: 447]

  1. Dilarang melakukan transaksi

Dari Abu Hurairah, Nabi bersabda:

إِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَبِيعُ أَوْ يَبْتَاعُ فِى الْمَسْجِدِ فَقُولُوا : لاَ أَرْبَحَ اللَّهُ تِجَارَتَكَ

Bila kalian melihat orang sedang melakukan transaksi jual beli dalam masjid katakanlah: mudah-mudahan Allah tidak memberikan keuntungan dalam transaksimu. [HR. Al-Baihaky dalam as-Sunan al-Kubro, Jus: 2, Hal: 447].

Sabda Rasul tersebut dimaksudkan demi menjaga dan menghormati rumah Allah dari perkara-perkara dunia. Segala bentuk transaksi tentu tidak lepas dari keramian, dan perbuatan-perbuatan tidak baik lainya dimana hal ini tidak relevan atau tidak sejalan dengan fungi masjid sebagai tempat bermunajat, berdikir dan menimba ilmu. Begitu juga mencari barang yang hilang sepertinya sulit lepas dari yang namanya perkara dunia sehingga wajar dilarang demi menjaga dan mengagungkan rumah tuhan. [Lihat dalam kitab: fushul wa masail tata’allaqu bi al-masajid, hal: 34]

Penulis: Arifin, S.Ag

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *