Ragam Sedekah Di musim Wabah

Ragam Sedekah Di musim Wabah

Wajar saja, sebagian masyarakat di perkampungan -pun perkotaan- sedikit kaget menyaksikan deretan aktris dan selebriti unjuk gigi, turut menyisihkan uang belanjanya untuk penanganan pandemi Covid-19. Bagaimana tidak, disaat virus yang berasal dari Wuhan itu memporak-porandakan berbagai hal -termasuk sektor perekonomian-, sekelompok pahlawan itu masih saja berkenan memangkas omsetnya untuk sejumlah saudara yang menanggung pedihnya lara. Dan itu, bisa dibilang dengan jumlah yang fantastis loh.

Jau-jauh hari sebelum wabah yang mencekam itu menerkan anak cucu adam, asumsi penulis dan pembaca yang budiman seputar pemberian yang bernama “sodakoh” biasanya hanya dikonotasikan pada barang, uang dan beragam wujud material. Sekali lagi bila mendengar diksi “sodakoh”, maka yang terbesit dalam fikiran adalah kata “apa, berapa” dan ragam makna, berupa wujud harta lainnya.

Nah, agar kata yang terdiri dari tujuh huruf itu tidak selalu terasumsi pada wujud materi, mari perhatikan kembali sabda baginda nabi beberapa abad silam prihal penjabaran makna dari tindakan mulia tersebut.

Suatu ketika salah satu sahabat berkata di dekat baginda “Orang-orang kaya kelak akan kembali menghadap-Nya dengan merangkul pahala yang banyak dan melimpah. Disamping mereka bisa Solat dan Puasa seperti kami, mereka juga bisa bersedekah dengan harta-harta mereka (sementara kami tidak bisa)”. Lantas Rasululah menanggapinya dengan sebuah pertanyaan“bukankah Allah SWT telah memberi alternatif banyak sodakoh kepada kalian?”

(Beliau melanjutkan),“karna setiap tasbih adalah sedekah. Setiap takbir adalah sedekah. Setiap tahmid adalah sedekah. Setiap amar makruf nahi mungkar adalah sedekah. Bahkan kemaluan kalian adalah sedekah”. Lalu salah seorang sabahat bertanya “apakah bila kami bila menyalurkan pada yang halal adalah termasuk sedekah wahai Rosulullah”? Tak ubahnya momen sebelumnya, nabi menanggapi dengan sebuah tanya “bagaimana pendapat kalian bila hal itu disalurkan pada yang harom, berdosa bukan?” (lanjut baginda)“demikian pula bila disalurkan pada yang halal, maka itu bernilai pahala”

Dilain kesempatan, dalam halam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairoh beliau juga bersabda:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم : كُلُّ سُلاَمَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ عَلَيْهِ الشَّمْسُ قَالَ مَا يَعْدِلُ بَيْنَ اثْنَيْنِ صَدَقَةٌ ، وَيُعِينُ الرَّجُلَ فِى دَابَّتِهِ ، وَيَحْمِلُهُ عَلَيْهَا أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ ، وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ ، وَكُلُّ خَطْوَةٍ يَمْشِيهَا إِلَى الصَّلاَةِ صَدَقَةٌ ، وَيُمِيطُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ . رَوَاهُ الْبُخَارِىُّ وَ مُسْلِمٌ

Rasulullah SAW bersabda, “Setiap anggota badan manusia diharuskan bersedekah setiap harinya selama matahari masih terbit; engkau mendamaikan antara dua orang yang berselisih adalah sedekah, engkau menolong seseorang naik ke atas kendaraannya atau mengangkat barang bawaannya ke atas kendaraannya adalah sedekah, setiap langkah kakimu menuju tempat sholat adalah sedekah dan menyingkirkan duri dari jalan pun ternilai sebagai sedekah.” HR Bukhari dan Muslim.

Penting, menambah catatan dalam hadis ini bahwa semua perbuatan tersebut memang bukanlah bersifat kewajiban, namun hanyalah sebuah anjuran yang ‘penting’ untuk tidak di tinggalkan. (Dawuh Imam An-Nawawi dalam salah satu kutipan karyanya).

Ala kulli hal,

di tengah carut-marut pandemi yang mencekam, sudahkan ragam tindakan mulia itu lebih diperhatikan?

Penulis: M. Fauzan, S.Ag

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *