Logika, Ilmu Dasar Berpikir Besar

Logika, Ilmu Dasar Berpikir Besar

Apa Hukum Mempelajari Ilmu Logika?

Ilmu mantiq atau logika merupakan ilmu yang lahir di Yunani namun akhrinya dipelajari oleh para ulama sehingga menghasilkan karya-karya yang luar biasa seperti: syarah Isagoji karya syekh Zakariya al-Nshari, an-Najah fi Hikmah al-Mantiqiyyah wa at-Tabi’iyyah wa al-Ilahiyyah karya Ibnu Sina (W: 427 H), Shoun al-Mantiq wa al-Kalam ‘an Fan al-Mantiq wa al-Kalam karya as-Suyuti(W: 911 H), al-Mufakkirun al-Muslimun fi Muwajahati al-Mantiq al-Yunani karya at-Tabatabai dan masih banyak yang lainya mulai dari yang paling klasik sampai yang kontemporer.

Akan tetapi di samping lahirnya beberapa karya tadi, para ulama masih berselisih mengenai hukum mempelajarinya. Sebagaimana yang diutarakan oleh al-Akhdori (W: 983 H) bahwa Imam Nawawi dan Ibnu Sholah (W: 643 H) mengharamkan untuk mempelajari ilmu mantiq. al-Hafid az-Zahabi (W: 748 H) mengatakan:

وَالْمَنْطِقُ نَفْعُهُ قَلِيْلٌ  وَضَرَرُهُ وَبِيْلٌ وَمَا هُوَ مِنْ عُلُوْمِ الاِسْلَامِ

Manfaaat mantiq sedikit, kemudaratannya jelas membahayakan dan itu tidak termasuk ilmu-ilmu Islam [Zughl al-Ilmi, hal: 43]

Jalaluddin as-Suyuti (W: 911 H) juga ikut mengomentari:

فَنُّ الْمَنْطِقِ فَنٌّ خَبِيْثٌ مَذْمُوْمٌ يَحْرُمُ الاِشْتِغَالُ بِهِ

Ilmu mantiq adalah ilmu yang jelek atau kotor yang tercela sekaligus diharamkan untuk dipelajari [ al-Hawi lil Fatawa, jus: 1, hal: 244.

Ada pula yang mengungkapkan:

لَايَحْتَاجُ إِلَيْهِ الذَّكِيْ وَلَايَنْتَفِعُ بِهِ الْبَلِيْدُ

Orang yang cedas tidak membutuhkannya dan orang bodoh tidak bisa mengambil manfaat darinya [ar-Raddu ‘ala al-Mantiqiyyin, hal:3]

Diantara ulama yang sangat menyukai dan mengapresiasi keberadaan ilmu ini ialah Ibnu Hazem (W: 456 H)¸ Imam al-Haromain (W: 478), dan Imam al-Ghazali (W: 505 H). Al-Ghazali memposisikan logika sebagai mukadimah dalam mempelajari ilmu Ushul fikih tepatnya pada karya beliau yang berjudul Al-Mustashfa. Bahkan menurutnya mantiq/logika adalah mukadimah bagi seluruh ilmu artinya mantiq harus dipelajari terlebih dahulu sebelum menyelami ilmu yang lain. Ulama yang dijuluki Hujjahtul Islam ini juga menyatakan:

مَنْ لَا يُحِيْطُ بِهَا فَلَا ثِقَةَ لَهُ بِعُلُوْمِهِ أَصْلاً

orang yang tidak mengusai mantiq maka kredibelitas keilmuanya perlu dipetanyakan.[Al-Mustashfa fi Ilmi al-Ushul, hal: 10].

Selain itu, Dr. Ya’qub bin Abdul Wahhab memaparkarkan 3 fungsi utama ilmu mantiq atau logika dalam kitabnya, Turuq al-Istidlal wa Muqaddimatuha Inda al-Manatiqah wa al-Ushuliyyin, hal: 12. Pertama; meletakkan kaedah-kaedah umum untuk cara kerja fikiran. Kedua; menjelaskan  atau menanpakkan beberapa faktor dan konteks-konteks yang membuat tergelincir atau keliru dalam berfikir. Ketiga; membuat prinsip-prinsip dasar yang dapat menghatarkan kepada pengetahuan yang benar.

Imam al-Akhdori (W: 983 H) dan Ibnu as-Subki (W: 771 H) mencoba mengompromikan 2 mazhab di atas. Menurut as-Subki mempelajari ilmu mantiq hukumnya haram bagi orang-orang yang belum memahami betul tentang prinsip dan kaedah syariat. Sedangkan bagi orang yang sudah mahir atau paham betul tentu diperbolehkan apalagi bila ada kasus-kasus fikih yang baru dimana untuk memahaminya diperlukan menjamah ilmu logika atau ada oknum-oknum yang berusaha merusak agama Islam dengan pendekatan logika tentu kita harus siap untuk membela dan membantahnya.[Mu’id an-Ni’ami wa Mubid an-Niqami, hal: 64]

Penulis: Arifin, S.Ag

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *