KH. Zainul Mu’in, Perjalanan Spiritual Dari Madinah Hingga Sulaimaniyah

KH. Zainul Mu’in, Perjalanan Spiritual Dari Madinah Hingga Sulaimaniyah

Ilmu Untuk Mengunduh Ridha Allah, Bukan Untuk Selembar Eska

BAGI kami, kaum sarungan (santri), mencari ilmu itu murni karena Allah untuk mencari ridha Allah melalui pengabdian kepada anak-anak bangsa, bukan untuk menjadi apa di lembaga apa dengan gaji berapa. Setidaknya, demikianlah doktrin yang ditanamkan ortu kami kepada kami bersaudara dulu saat akan berangkat mondok ke pesantren. Saya tidak tahu apakah doktrin seperti ini masih terus ditanamkan kepada santri-santri millenial. Tetapi dulu kami didoktrin, bahkan di-talqin (dituntun), untuk berniat demikian oleh ortu kami. Dengan niat tulus inilah kami melangkahkan kaki menuju pesantren. Tradisi ini kemudian saya wariskan kepada anak-anak saya saat memberangkatkan mereka ke pesantren.

Berangkat ke Madinah, akhir 1977, juga saya tanpa obsesi apa-apa selain mencari ilmu untuk meraih ridha Allah. Juga tanpa sedikit pun asumsi bahwa kuliah di luar negeri lebih berkualitas daripada di negeri sendiri. Benar, memang, bahwa saya sangat mendambakan bertetangga dengan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam barang satu-dua tahun, tetapi soal ilmu bagi saya di mana pun sama.

Bagi saya, belajar di luar negeri, apalagi di Tanah Suci Makkah atau Madinah, hanyalah soal keberuntungan. Beruntung bisa mengais lebih banyak pengalaman dan barakah. Anak-anak saya juga saya berangkatkan ke luar negeri bukan karena menganggap luar negeri lebih baik, tetapi kebetulan ada peluang, lalu coba dimasuki dan ternyata lolos, ya udah bismillah berangkat aja tanpa berpikir nanti setelah pulang mau kerja apa. Sepuluh hari yang lalu, anak saya yang keempat, Anis Mahdi, pulang dari Turki setelah memperoleh ijazah dan sanad Qiroat Asyr. Lalu mau kerja apa? Ya biarin aja dia menjalani hidupnya seperti air mengalir sambil menunggu ketentuan takdir. Yang pasti, minggu depan dia harus meninggalkan rumah lagi untuk mengabdikan ilmunya di salah satu cabang Sulaimaniyah.

Saya sendiri sepulang dari Makkah, 1986, mencoba semua pekerjaan yang mampu saya lakukan. Dalam usaha itu kegagalan dan kesuksesan saya alami silih berganti, ya biasalah seperti kebanyakan orang. Akhirnya Allah mendudukkan saya sebagai dosen swasta, ya saya jalani aja dengan ikhlas dan penuh dedikasi. Saya yakin, inilah lahan pengabdian saya kepada bangsa dan umat. Saat teman-teman dosen sibuk menyiapkan berkas-berkas untuk mengajukan sertifikasi dosen (serdos), 2010, saya tidak ikut menyiapkan, bukan karena tidak butuh insentif serdos, tetapi karena saya hanya seorang S1, sedang syaratnya minimal harus S2. Tetapi tiba-tiba petugas TU memberitahu saya bahwa, sesuai aturan baru, saya meskipun S1 boleh mengajukan serdos karena ijazah sudah berumur 30 tahun dan telah mengabdi kepada yayasan selama 30 tahun. Saat itu, saya tidak sanggup lagi untuk mengejar pemberkasan

karena mepetnya deadline pengajuan. Tetapi si petugas mendorong saya dan menyatakan siap membantu sepenuhnya. Singkat cerita, berkas diajukan dan alhamdu lillah lulus.

Ini artinya apa? Sesuatu itu kalau sudah rezeki kita tak akan ke mana-mana, pasti ke kita juga. Makanya, carilah ilmu Allah untuk mengunduh ridha-Nya. Tak usahlah berpikir lahan pekerjaan apa yang tersedia untuk anda kelak, karena yang anda butuhkan bukan lahan pekerjaan, tetapi kucuran rezeki dari-Nya. Soal di lahan mana rezeki itu akan mengucur, itu urusan Dia, bukan urusan anda, wallahul musta’an

Penulis: KH. Zainul Mu’in Husni (Dosen Ma’had Aly Situbondo sekaligus Pengasuh Ponpes An-Nadwah Besuki)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *