Mahasiswa Setengah Gila: Dari Keluarga Miskin Menuju Gelar Doktor Keenam

Mahasiswa Setengah Gila: Dari Keluarga Miskin Menuju Gelar Doktor Keenam

Mahasiswa yang satu ini unik dan luar biasa. Pembawaannya santun, wajahya selalu penuh senyum. Mungkin ini berkat kondisi keluarganya yang sedari awal bersahabat dengan sedih dan derita. Siapa sangka mahasiswa yang saya kisahkan ini layak menjadi inspirasi bagi banyak orang. Dia saat ini sedang menyelesaikan 2 program doktornya, untuk melengkapi 4 doktor yang sudah diperolehnya sebelumnya. Penuturan kisahnya panjang sekali saat saya bertanya apa sesungguhnya yang dia kejar.

Jarang yang tahu bahwa mahasiswa ini menempuh 6 studi doktor pada bidang yang berbeda-beda. Saya pun asalnya tidak tahu. Semalam mahasiswa ini berjanji datang ke rumah saya seusai Maghrib. Namun akhirnya minta maaf datang terlambat. Dia tiba di pondok saya jam 21.30 WIB. Alasan keterlambatannya adalah karena sedang menjalani ujian proposal disertasi S3 Hukum di sebuah PT akreditasi A. Dari situlah kisahnya saya telusuri. Dia masih ingin menambah S3 lainnya di bidang Psikologi. Unik, bukan?

Ternyata, mahasiswa ini adalah berasal dari sebuah kecamatan di kabupaten Sumenep, bertetangga dengan kecamatan asal saya. Orang tuanya adalah petani berpenghasilan kecil namun semangatnya membesarkan dan menyekolahkan anak-anaknya besar. Dengan bermodalkan hutang sana-sini, anaknya dipondokkan di sebuah pesantren. Mengapa pesantren? Alasan pertama, bagi orang Madura, barokah kiai adalah anugerah besar. Alasan kedua adalah karena pesantren itu murah meriah, bahkan bisa gatis.

Singkat cerita, anaknya yang saya kisahkan ini kuliah di Malang. Biaya dari hutang pada rentenir. Terpaksa, demi anak, katanya. Saat di semester akhir, orang tuanya sudah tak mampu lagi. Lalu meminta anaknya berhenti kuliah. Anaknya menolak dan bertekad membiayai kuliahnya sendiri. Sang Bapak berkata: “Kalau kamu tidak berhenti, sekalian jangan berhenti kuliah sampai saya mati.” Anaknya ini akhirnya bekerja mengajar ngaji dan menjaga PS siang dan malam demi hidup dan menyelesaikan kuliahnya. Kuliah S1 selesai.

Dunia berputar, untung rugi tak diam melainkan berkeliling. Nasib mujur bersama dengan putera orang tua miskin ini. Allah mempertemukannya dengan orang dan hal yang mengantarnya bernasib mujur. Benar kata ulama: “Kalau Allah berkehendak mengubah nasibmu, Allah akan menciptakan sebab yang tidak pernah kamu duga.” Karena itu sering saya katakan bahwa cara termudah mengubah nasib adalah selalu mendekat Allah, berdiri di depan PintuNya.

Melaksanakan perintah orang tuanya itu, mahasiswa ini sampai kini tak pernah berhenti kuliah. Kayaknya masih terus berkuliah sampai orag tuanya menganjurkan berhenti. Semoga orang tuanya panjang umur. Tadi malam, dia datang ke pondok saya untuk bimbingan disertasi. Luar biasa kisahnya, bukan? O ya, hutang orang tuanya sudah dilunasi semua tahun kemaren.

Tetaplah semangat dan optimis dalam hidup. Bukankah Allah Mahakuasa dan mahaluarbiasa? Bagi orang tua, teruslah semangat untuk memondokkan dan menyekolahkan anak-anaknya. Ada rizki di sana dan ada keberkahan. Tiru semangat orang tua mahasiswa ini. Salam, AIM

Penulis: Dr. KH. Ahmad Imam Mawardi (Pengasuh Pondok Pesantren Alif Laam Miim Surabaya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *