Islami, Begini Adab Memakan Klepon

Islami, Begini Adab Memakan Klepon

ADAB MAKAN KURMA DAN KLEPON

Dalam Islam, menyakiti diri sendiri saja hukumnya haram, apalagi menyakiti orang lain. Demikian pula melakukan sesuatu yang membahayakan diri sendiri dan/atau orang lain hukumnya haram.

Bertolak dari prinsip ini, Islam lalu mengatur sejumlah tatakrama dan etike yang membingkai kehidupan kaum Muslim agar terhindar dari perilaku yang berpotensi membahayakan orang lain sehingga terjalin harmonitas yang padu di antara mereka menjadi layaknya satu tubuh (kal-jasad al-wahid) atau satu bangunan’ (kal-bun’yan) sebagamana digambarkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dalam sebuah hadits sahih. Dalam kerangka inilah tatakrama dan sopan santun dibangun untuk menjadi rambu-rambu kehidupan. Dengan demikian, tak satu pun gerak maupun diamnya seorang Muslim yang lepas dari aturan. Kalau tidak aturan hukum ya aturan etika atau etiket. Termasuk dalam hal ini soal makan dan minum, termasuk makan makanan ringan seperti kurma.

Beberapa riwayat sahih menuturkan bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bila makan buah kurma, lalu hendak membuang bijinya, beliau tidak memasukkan jari-jari beliau ke dalam mulut suci beliau untuk mengeluarkannya, tetapi mendorong biji itu ke bibir, lalu menjepitnya di antara dua jari tangan kanannya dari arah punggungnya (bukan telapaknya), yaitu jari telunjuk dan jari tengah. Dari sini biji lalu beliau pindahkan ke tangan kirinya. Di tangan kiri inilah biji-biji dikumpulkan sebelum akhirnya dibuang.

Sekilas, cara ini barangkali terkesan ribet, tetapi ini pelajaran berharga buat umat kita. Sebab, dengan cara ini jari-jari tangan tidak terkena ludah sehingga seandainya mengambil lagi buah kurma dari wadahnya tidak membuat orang lain jijik. Tentu, untuk konteks Rasulullah tak ada yang jijik dengan ludah beliau. Malah ludah beliau diperebutkan oleh para sahabat beliau, kemudian mereka lulurkan ke wajah dan badan mereka sehingga praktis tak ada satu tetes pun ludah yang terjatuh ke tanah. Tetapi, sekali lagi, ini pembelajaran buat kita agar selalu menjaga perasaan orang lain dan memelihara sopan santun dalam berinteraksi dengan sesama.

Perlu digaristebalkan bahwa cara ini dianjurkan manakala kurma disuguhkan dalam satu wadah untuk dimakan sejumlah orang sehingga, di samping tidak menimbulkan rasa jijik di hati orang lain, juga tidak berpotensi menularkan penyakit kepada mereka. Tidak demikian halnya jika disuguhkan untuk seseorang tertentu. Sebab, ‘illat’ (alasan hukum)-nya, yaitu menimbulkan rasa jijik dan/atau menularkan penyakit, tidak ada lagi. Kasus ini kira-kira sama dengan larangan meniup makanan/minuman yang disebutkan dalam hadits sahih. Syaikh Al-Shan’ani rahimahullah dalam Subul al-Salam Syarh Bulugh al-Maram menjelaskan bahwa larangan tersebut berlaku apabila makanan/minuman disajikan untuk sejumlah orang. Adapun jika diperuntukkan bagi seseorang tertentu maka larangan meniup tidak berlaku.

Jika demikian halnya, maka cara yang dicontohkan oleh Rasulullah itu tidak hanya berlaku untuk kurma, tetapi untuk makanan apa saja yang tersaji untuk banyak orang, termasuk klepon  yang lagi viral saat ini heheee… Memang, makan klepon tidak sama dengan makan buah kurma karena klepon tak berbiji. Tapi ada kemiripan antara keduanya, yaitu sama-sama perlu memasukkan jari-jari ke mulut. Maka spirit hadits (ruh al-hadits) berlaku di sini, yaitu bagaimana menghindarkan rasa jijik dan/atau penularan penyakit dari orang lain. Kalau begitu, kurma dan klepon sama-sama penganan Islami .wallahu a’lam

Penulis, Kiai Zainul Mun’in Husni

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *