Integrasi Fikih dan Tasawwuf

Integrasi Fikih dan Tasawwuf

Manusia merupakan mahluk hidup yang tidak hanya terdiri unsur jasmani yang meliputi daging, tulang dan darah. Namun juga terdiri dari unsur ruh atau jiwa yang menjadi tanda dari denyut kehidupannya. Segala aktivitas yang dilakukan manusia pasti bersinggungan dengan hukum syari’at (halal, haram, sunnah, mubah dan makruh) yang mana hal ini menjadi ruang lingkup fikih. Sebagaimana jamak diketahui bahwa Fikih merupakan ilmu tentang hukum-hukum syari’at praktis yang diperoleh dari dalil-dalil terperinci. Jika asupan jasmani manusia sudah dipenuhi oleh Fikih, bukan berarti suplemen rohaninya yang menjadi fokus ilmu Tasawwuf lantas diabaikan. Tasawwuf merupakan ilmu yang bisa membersihkan dan menjernihkan hati serta menuntun manusia dekat dengan Tuhannya. Manusia sebagai mahluk sosial pasti membutuhkan patner dalam melakukan banyak hal, ragam interaksi dengan sesama manusia dan lingkungan merupakan keniscayaan dan tidak bisa dihindari.

Jika Fikih mengatur hukum dahir interkasi manusia dengan sesamanya, semisal halal-haram transaksi jual beli atau mengatur hukum dahir interaksi manusia dengan Tuhannya, seperti sah-batalnya ibadah shalat maka Tasawwuf berperan mengarahkan dan menjelaskan diterima atau ditolaknya sebuah amal yang dilakukan manusia. Agar ibadah yang kita lakukan tidak semata-semata rangkaian aktivitas yang tidak bernilai pahala dan hanya berupa amal yang tanpa ruh sama sekali. Sebab kesehatan jasmani tidak menjamin sehat rohani (keabsahan shalat belum tentu diterima dan diganjar dengan pahala).

Tasawwuf dan Fikih merupakan saudara kembar yang tidak bisa dipisahkan. Kedua ilmu itu harus dipadupadankan agar menciptakan keseimbangan hidup bagi seorang hamba. Jika seseorang terlalu menuhankan Tasawwuf maka dia akan tenggelam dan hanyut dengan dirinya sendiri tanpa memandang lingkungan sosial di sekitarnya dengan alasan bahwa diluar Tasawwuf merupakan hal yang menyesatkan dan menjerumuskannya pada hal-hal buruk. Begitupula jika seseorang terlalu mendewakan fikih maka hatinya cenderung gersang dan dengan mudahnya meremehkan kondisi batinnya tanpa memandang apakah ibadah yang dilakukannya selama ini diterima atau tidak oleh Allah. Padahal muara dari segala apapun yang dilakukannya adalah kembali kepada Sang Khaliq, berupa pahala atau siksa yang akan menentukan kehidupannya kelak di akhirat. Semua hal, termasuk ilmu harus ditakar sesuai porsinya masing-masing agar tujuan hidup antara dunia dan akhirat sama-sama tercapai tanpa terjadi ketimpangan pada salah satunya. من تصوّف ولاتفقّه فقد تزندق ومن تفقّه ولا تصوّف فقد تفسّق , falyatadabbar!

Penulis: Sri Deva Ayu Wartini (Santri Aktif Ma’had Aly Salafiya Syafiiyah Marhalah Tsaniyah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *