Nyai Tuan Fatimah Mukarromah, Wali Semenjak Anak-Anak

Nyai Tuan Fatimah Mukarromah, Wali Semenjak Anak-Anak

Sebutan nama “Nyai Tuan” tidak asing lagi terdengar di kalangan masyarakat terutama masyarakat sekitar pondok pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo. Sosok perempuan yang dikenal memiliki karomah hampir mirip seperti kiai as’ad ini merupakan putri kedua dari pasangan alm. KHR as’ad syamsul arifin dan almh. Nyai Hj Zubaidah. Sebenarnya nama asli beliau adalah Nyai Mukarromah yang kemudian dipanggil Nyai Rum, namun setelah haji beliau diganti dengan nama Hj. Fatimah Mukarromah. Dalam tradisi orang madura, setiap orang yang mempunyai kelebihan apalagi putra tokoh atau kiai sering dipanggil tuan yang dalam bahasa arab biasanya disebut dengan sayyidah. hingga sekarangpun dikenal dengan nama Nyai Tuan.

Nyai Tuan memiliki beberapa kelebihan semenjak anak-anak, di antaranya adalah setiap sesuatu yang diucapkan selalu menjadi kenyataan. Kelebihan ini banyak disampaikan oleh beberapa alumni yang menututi masa kecil beliau. Salah satunya disampaikan kiai Ahmad Sayuti Titum kepada KH. Dr. Muhyiddin Khotib, pada saat Nyai Tuan masih kecil pernah masuk ke kamar mandi kiai As’ad yang posisinya ada di tengah antara dua kediaman beliau dan di waktu bersamaan Kiai Ahmad Sayuti Titum sedang mengisi air. Pada saat Nyai Tuan berada di kamar mandi, tiba-tiba Kiai As’ad  ingin ke kamar mandi, namun kamar mandi terkunci. Kiai As’ad bertanya kepada kiai Titum “siapa Yang ada di dalam ?” Kiai Ahmad Sayuti Titum menjawab “ning Rum”. Dari sini, Kiai As’ad menunggu. Dikarenakan terasa lama, Kiai As’ad menggendor pintu namun tidak ada tanggapan dari dalam kamar mandi sehingga Kiai As’ad membuka pintu dan ternyata Ning Rum (Nyai Tuan) menghilang. Dari kejadian ini maka kiai menyuruh Kiai Ahmad Sayuti Titum agar mencari ning Rum. Namun hasilnya nihil, Ning Rum tidak ditemukan. Uniknya, setelah dua hari semenjak menghilang, Ning Rum kembali ke rumah dengan sendirinya.

Menurut cerita yang disampaikan Alm. Kiai taufik Almawi (dikenal dengan Ustaz Almawi), salah satu ustaz senior dan menjabat sebagai kelurahan pondok pesantren pada masanya Kiai As’ad. Penuturannya, Kiai As’ad pernah meminta kepada Kiai Taufiq Almawi untuk mengajarkan al-Qur’an kepada Nyai Tuan (berusia sekitar 7 tahun). Ketika beliau hendak mengajar dan meminta Ning Rum supaya membaca al-Qur’an (ada’) ternyata beliau tidak mau, justru yang disuruh membaca adalah Kiai Taufiq Almawi. Sebagai seorang santri, Kiai Tufiq Almawi sangat hormat kepada Ning Rum sehingga permintaan Nyai Rum dilaksanakan. Anehnya, justru Ning Rum yang menegur  kesalahan dari  qiraahnya Kiai Taufiq Almawi. Atas kejadian ini, Kiai Taufik Almawi menyampaikannya kepada Kiai As’ad dan Kiai hanya menimpali “sudah kalau begitu, tidak usah diajari”

Menurut penuturan orang terdekatnya, Nyai Tuan merupakan orang yang dermawan terutama terhadap  anak kecil. Beliau sangat suka membelikan makanan ringan hanya untuk menyenangkan mereka. Hal ini mengingatkan kita terhadap kebiasaan Rasulullah SAW. Yang juga menyukai anak kecil. Beliau Rasulullah SAW. Pernah bersabdah:

“barang siapa yang menyenagkan hati anak kecil maka akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di surga”.

beliau juga suka menolong orang yang membutuhkan. Semisal membantu meringankan beban orang yang mempunyai tanggungan hutang (melunasinya), memberi solusi terhadap berbagai masalah masyarakat, dan dimintai doa oleh orang yang sakit. Selama belia menika dengan Kiai Fathurrozi dari bangkalan, beliau tidak dikaruniai anak. Namun, beliau suka mengadobsi anak untuk dibiayai sekolah. Sampai-sampai pernah anak angkat beliau mencapai sekitar 50 anak.

Di antara keistikamahan beliau adalah  tidak tahu nominal harga uang dan setiap tahunnya berziarah ke kiai-kiai sepuh di pulang madura. Biasanya beliau berangkat bersama rombongan. Dan setiap minggunya nyai Tuan sowan kepada kiai-kiai di daerah jawa timur. Setiap hari kamis sampai minggu beliau selalu istikamah menetap di situbondo. Hari senin sampai rabu di sukorejo. Rabu paginya di sukorejo bagian barat (kediaman nyai Sa’diyah yang sekarang), sedangkan rabu sore di kediaman orang terdekatnya ibu Rizkiyah (sebelah timur asrama nurul ihsan).

Tidak hanya sampai di sini keistikamahan yang tampak dari Nyai Tuan. Kendaraanpun beliau bisa istikamah. Menurut ibu Rizkiyah kendaraan yang dikendari nyai Tuan setiap hari kamis adalah dokar. khusus hari senin sampai rabu negendarai becak. Dan hari sabtu sampai minggu naik mobil L300. Sosok waliyullah kelahiran sukorejo ini juga dikenal gemar memakai pinang (aminah dalam bahasa madura) Sejak kecil hingga beliau menjelang wafat.

Bercerita tentang keistimewaan atau karomah yang diberikan oleh Allah SWT. Kepada beliau tidak ada habisnya. Sampai akalpun belum bisa menjangkaunya. Karena setiap tindakan beliau tidak pernah bisa dimengerti. Namun di balik itu semua yang dilakukan beliau mengandung banyak makna dan maksud tertentu. Tidak ada yang mengerti maksud dan tujuannya kecuali hanya Allah SWT. Yang maha mengetahui. Di kalangan masyarakat dikenal dengan sebutan helap (bahasa madura, artinya berbeda dengan yang lain tapi bukan gila).

Di antara keanehan Nyai Tuan, beliau tidak tampak mengerjakan  salat di hadapan orang seumur hidupnya kecuali ketika seminggu sebelum meninggal dan itupun hanya terlihat dua kali, magrib dan isyak, ketika itu Nyai Tuan meminjam mukenah Nyai khoiriyah istri terakhir kyai as’ad. Hal ini serupa dengan sosok waliyullah almh. KHR. As’ad Syamsul Arifin yang juga tidak pernah mengerjakan salat kecuai menjelang wafatnya. Beliau-beliau bukan tidak melakukan salat, namun salatnya tidak terlihat oleh mata kasat kita.

Nyai Tuan Fatimah juga tidak pernah menduduki bangku sekolah, berguru, atau bahkan belajar mengaji alquran. Namun, jika ada seseorang terdengar mengaji dan salah, beliau pasti dengan lantang menyalahkannya. Istimewanya lagi, beliau bisa menghatamkan alquran dalam waktu beberapa menit. Subhanallah.

Konon, seseorang pernah menyaksikan beliau terpecah mejadi dua. Sulit rasanya diterinma oleh akal. Kitapun tidak bisa mengelak apa yang menjadi karunia istimewa dari Allah SWT. Namun, inilah yang terjadi dan disaksikan oleh Hj. Nur, salah seorang penduduk sukorejo.

Sebagian besar kekasih Allah SWT. Pasti memiliku ilmu mukasyafah yakni bisa mengetahui hal-hal yang belum terjadi, mengetahui apa yang sedang terjadi di tempat lain yang jauh sekalipun serta mengetahui batin setiap orang. Contohnya, beliau pernah bilang bahwa pada hari itu akan hujan padahal waktu itu bukan musim hujan. Dan setelah dibuktikan beberapa hari kemudian ternyata kabar itu terjadi, karena kekaromahan beliau inilah banyak tamu yang berduyun-duyun datang dari berbagai penjuru hanya ingin tabarruk (bahasa  arab, yang artinya mencari barokah kepada beliau).

Akhirnya, di usia yang ke 40 tahun, pada hari rabu pon tanggal 14 sya’ban 1414 H. Atau 1993 M. Di kediaman Hj. Ummu Hanik/KH. Hariri Abdul Adlim (lokasi Ma’had aly) beliau kembali ke Rahmatullah. Tidak sedikit yang merasa kehilangan beliau. Hati mana yang tidak sedih ditinggalkan oleh sosok yang berjiwa malaikat hingga detik ini riwayat hidupnya masih melekat di hati masyarakat.

Penulis: Admin Tanwirul Afkar/TA Edisi 508

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *