Hati-Hati, Jangan Menangis Ketika Salat

Hati-Hati, Jangan Menangis Ketika Salat

Terdapat bacaan khusus dalam salat. Bacaan-bacaan salat secara tegas telah dijelaskan oleh ulama fikih. Artinya, bacaan saat salat tidak boleh diselai-selai bacaan lain yang tidak ada hubungannya dengan salat. Hal ini dapat merusak shalat. Bahkan tak hanya bacaan saja yang bisa membatalkan shalat, namun suara yang muncul juga bisa membatalkan shalat.

Lalu bagaimana jika menangis saat salat? Berikut ulasannya.

Pada dasarnya, salat dianggap sah apabila telah sesuai dengan ketentuan yang telah berlaku secara fikih. Artinya salat tersebut sudah memenuhi syarat, rukun  dan terhindar dari hal-hal yang membatalkannya. Ketentuan ini telah diramu oleh pakar ulama’ fikih dengan cara melihat dhohir praktek shalat nabi dan atsar para sahabat. Namun salat yang sah tidak menjamin salat tersebut diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Sebab, diterimanya salat tidak hanya memandang tampilan luar salat saja namun juga memandang khusyu’ atau tidaknya.

Tak jarang kita melakukan salat dengan keadaan emosi yang tidak stabil. Seringkali masalah dan kejadian yang telah terjadi terus terngiang saat salat. Begitu pula hal yang tak pernah terjadi tak lepas dari bayangan. Sungguh sulit rasanya menfokuskan pikiran terhadap bacaan dan pelaksanaan salat.

Tak disangka terkadang air mata jatuh saat salat. Entah menangis karena haru, sedih atau yang lainnya.

Di dalam hadist diriwatkan bahwa suatu saat Rasulullah shallahu alaihi wasallam pernah menangis saat salat.

عن مطرف بن عبد الله بن الشخير عن أبيه قال رأيت رسول الله يصلي و في صدره أزيز كأزيز المرجل من البكا

“dari Mutharrif bin Abdullah bin as-Syakhir dari ayahnya berkata : saya melihat Rasulullah sedang salat, Sementara di dadanya terdengar suara seperti kuali (periuk)yang sedang mendidih karena menangis.”

Ulama berbeda pendapat mengenai hukum  menangis saat salat. Perincian perbedaan ini ditinjau dari alasan tangisan tersebut.

Pertama, jika tangis tersebut karena takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala, jumhur ulama berpendapat bahwa tangisan tersebut tidak membatalkan.

Kedua, jika tangisan tersebut bukan karena takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala, imam Malik berpendapat bahwa hukmnya tidak sampai membatalkan salat tanpa suara. Namun jika sampai mengeluarka suara maka disamakan dengan berbicara saat salat. Artinya, salat tersebut batal jika sengaja. Sementara imam Ahmad berpendapat bahwa hal ini dapat membatalkan jika nyata timbul dua huruf. Imam Abu Hanifah berpndapat bahwa jika tangisan karena kelaparan atau karena terkena musibah dapat membatalkan salat.

Hal ini berbeda dengan kalangan Syafi’iyah. Pada madzhab ini terdapat tiga perbedaan pendapat megenai hal ini. Yakni :

  1. Jika tampak 2 huruf merusak ( pendapat paling shohih).
  2. Tidak merusak secara mutlak karena lafal yang keluar tidak jelas nyata, sehingga seperti lafal yang muncul karena lupa (pendapat yang paling kuat ).
  3. Al-Qafal jika tertutup tidak merusak shalat. Jika terbuka dan tampak 2 huruf maka merusak shalat. Ini di tegaskan oleh imam al-Mutawaalli

Sedangkan  As-Sya’bi, an-Nakha’i, as-Tsaury berpendapat bahwa menangis secara mutlak dapat membatalkan salat. Baik karena takut kepada Allah maupun tidak. Wallahu a’lam.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *