Menyelamatkan, Tiga Amalan Riwayat Syekh Hasan al-Basri

Menyelamatkan, Tiga Amalan Riwayat Syekh Hasan al-Basri

Setiap manusia pasti pernah melakukan kekeliruan kecuali bagi “mereka” yang mengklaim paling nyunnah, sang pemegang kunci surga. Pada dasarnya, manusia merupakan makhluk yang lemah. Hal ini tertuang dalam firman-Nya, surat al-Nisa’, ayat 28

وخُلق الإنسانُ ضعيفًا

Artinya, manusia diciptakan dalam keadaan lemah

Syekh Ahmad bin Muhammad dalam kitab al-Bahru al-Madid menjelaskan, faktor yang menyebabkan manusia lemah ada dua hal, pertama menuruti nafsu bejat mulutnya untuk memakan apapun yang disukai, kedua menuruti nafsu alat vitalnya. Sebab kelemahan ini  pada akhirnya manusia akan melakukan kekeliruan, sekalipun tak disengaja.

Walaupun demikian, bukan berarti kekeliruan yang merupakan sesuatu yang biasa terjadi pada diri manusia, lantas “mengentengkan” dan justru tidak hati-hati dalam bertindak. menjadi suatu yang wajib-bahkan pake’ banget-  melakukan aktivitas atau memutuskan sesuatu dengan hati-hati dan teliti, supaya apa yang diharapkan bisa tercapai secara maksimal.  Nabi Muhammad Saw bersabda yang diriwayatkan dari Anas bin Malik secara marfu’

التأني من الله ، والعجلة من الشيطان

Artinya, hati-hati datangnya dari Allah dan terburu-buru datangnya dari setan

Begitupun sebaliknya, jangan bersikap terburu-buru atau tergesa-gesa dalam melakukan dan memutuskan, karena sikap semacam itu timbul dari setan. Di samping khawatir akan memperoleh hasil yang kurang maksimal, bahkan tak akan tercapai sama sekali. Kaidah fikih mengatakan,

من استعجل شيئا قبل أوانه عوقب بحرمانه

Artinya, barang siapa yang tergesa-gesa melakukan suatu hal, maka dia akan disanksi tidak akan mendapatkannya

Diriwayatkan oleh hasan al-Basri dalam Kitab Shahih al-Adab al-Mufrad, terdapat seorang laki-laki yang wafat. Dia meninggalkan seorang budak laki-laki dan seorang anak laki-laki. Dia berwasiat kepada budaknya untuk merawat anaknya dengan penuh kasih sayang bagai merawat anaknya sendiri sehingga mencapai usia  balig dan sampai si budak dapat menikahkan anak tuannya tersebut. Pada suatu kesempatan, anak laki-laki berkata, “aku ingin menuntut ilmu, persiapkan sarana dan prasarananya.

Kemudiaan anak laki-laki mendatangi seorang alim untuk belajar ilmu. Setelah itu, orang alim berkata kepada anak laki-laki, “kalau kamu ingin pergi dari sini, beri tahu aku, karena aku akan mengajarkan suatu hal padamu”.  Anak laki-laki berkata, “aku ingin pergi dari sini, maka ajari aku”. Alim berkata,

اتق الله، واصبر، ولا تستعجل

 Artinya, bertakwalah kepada Allah Swt, bersabarlah, dan jangan tergesa-gesa”.

Hasan al-Basri berkata, tiga nasihat ini mengandung kebaikan. Sedangkan  anak laki-laki itu hampir tidak melupakan tiga nasehat dari alim tersebut.

Ketika anak laki-laki mendatangi keluarganya lalu hendak memasuki rumah, dia menjumpai budaknya tidur di samping seorang perempuan. Anak laki-laki berkata, “demi Allah Swt,  aku sudah tak bisa bersabar lagi untuk membunuh orang-orang semacam ini”. Lalu dia kembali ke kendaraannya untuk mengambil pedang. Namun selang sejenak, dia teringat tiga nasihat guru alimnya dan membatalkan niat membunuh. Kemudian dia kembali lagi ke tempat budaknya yang sedang tidur. Saat berdiri di samping kepala budaknya  tersebut  dia berkata, “demi Allah aku tak sabar lagi untuk membunuh”. Kemudian dia kembali ke kendaraannya untuk mengambil pedang. Lagi-lagi dia teringat tiga nasihat guru alimnya. Dia kembali lagi ke tempat budaknya yang sedang tidur. Tatkala dia berdiri di samping kepala si budak, tiba-tiba budaknya terbangun. Sadar, melihat anak tuannya telah datang, dia terkejut dan langsung memeluk dan menciuminya.

Budak laki-laki itu bertanya, “apa yang telah engkau dapatkan selama meninggalkanku ?. anak tuannya menjawab, “ demi Allah Swt, selama  meninggalkanmu aku memperoleh kebaikan yang sangat banyak. Demi Allah Swt, selama meninggalkanmu aku berjalan diantara pedang dan kepalamu. Namun ilmu telah menghalangiku untu membunuhmu”. Anak dari tuannya itu urung membunuh budaknya, karena diketahui antara budak laki-laki dan perempuan yang tidur bersama tersebut memiliki hubungan mahram.

Penulis: Admin Tanwirul Afkar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *