Ikatan Orang Tua Dan Anak

Ikatan Orang Tua Dan Anak

Adalah prinsip dasar yang benar bahwa tak ada orang tua yang membenci anak. Semua manusia yang waras pikirannya dan lurus cara berpikirnya adalah selalu ingin melihat anak-anaknya bahagia dan tak tersentuh kesedihan. “Anakku adalah darah dagingku,” adalah semboyan abadi yang tak pernah berubah karena waktu. Marahnya orang tua adalah marah cinta, senyumannya adalah potret bangga akan anak-anaknya, sementara diamnya adalah doa indah untuk darah dagingnya. Kalau begitu, adakah alasan bagi kita membenci orang tua kita saat beliau marah kepada kita?

Saya jadi teringat pada kisah suatu hari saat kedua orang tua berkata kepada anaknya yang terlihat murung karena dibenci orang lain:  “Anakku, jangan bersedih. Satu kesedihanmu adalah seribu satu luka dalam hatiku. Anakku, kalau ada 1001 orang mencintaimu, yakinkah bahw kami orang tuamu yang paling pertama mencintaimu. Kalau hanya ada dua orang yang mencintaimu, maka sunguh kami orang tuamulah  orangnya. Kalau gak ada sama sekali yang mencintaimu, ketahuilah bahwa kami sudah mati.” Begitulah ikatan batin orang tua dengan anaknya.

Begitu tulus cinta dan kasih sayang kedua orang tua  agama mewajibkan kita menghormati orang tua kita bagaimanapun keadaannya. Agama sungguh mengharamkan kita melukai perasaannya dan menyakiti hatinya. Pertanyaannya adalah sudah berapa luka kita goreskan di hati mereka? Sudah berapa tetes air mata kesedihan yang mengalir dikedua pipi orang tua kita karena ulah tak baik kita? Mintalah maaf kepada kedua orang tua kita. Kebaikan sebesar apapun dari kita kepada kedua orang tua kita tidak akan pernah mampu membayar ketulusan cinta dan kasih sayangnya.

Marilah kita bersemangat membahagiakan kedua orang tua kita, baik yang sudah meninggal ataupun masih hidup. Jangan pernah marah kepada kedua orang tua dan jauhi mereka. Berbuatkah dengan apa yang sekiranya membuat beliau bangga bahagia. Doakan mereka semoga mereka semua dibahagiakan Allah, dicinta dan disayang Allah, diampuni dosanya dan dimasukkan ke dalam golongan manusia-manusia mulia pilihan. Salam, AIM,

Penulis: KH. Ahmad Imam Mawardi (Pengasuh Pondok Pesantren Kota Alif Laam Miim Surabaya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *