Dahsyat, “Istri Adalah ORANG LAIN yang kebetulan harus kita urus”

Dahsyat, “Istri Adalah ORANG LAIN yang kebetulan harus kita urus”

Dahsyat, “Istri Adalah ORANG LAIN yang kebetulan harus kita urus”

“Istri adalah orang lain yang kebetulan harus kita urus”. Tak tahu kalimat itu timbul dari pengalaman pola berpikir  semacam apa? Tak penting mencari tahu siapa yang mengucapkan. Saya tak ingin cari tahu, bahkan niat ingin tahu saja tak terbesit sama sekali. Sudahlah, begini saja wahai akhi atau ukhti-sang pemegang kunci surga-saya akan menjelaskan seperti apa status istri sebenarnya, apakah status istri adalah ajnabiyah (orang lain), mahram atau bukan kedua-duanya.

Pada dasarnya, dalam realitas-sosialnya, banyak term-term fikih yang diselewengkan dari makna aslinya. Entah apakah faktor kesengajaan atau ketidaktahuan? Katakanlah seperti term mahram dan muhrim. Maaf mas bukan muhrim, kalimat seperti ini sering kita dengar dikala terdapat seorang cowok yang mencoba untuk bersalaman dengan seorang cewek yang tak memiliki ikatan apapun. Kesannya islami banget, namun terlihat bodoh dan lucu dipandangan orang yang paham fikih dasar semacam itu karena term muhrim itu ditujukan bagi orang yang sedang berihram di Makkah sono. Seharusnya begini wahai akhi atau ukti, “Maaf mas bukan mahram”.

Biar lebih mantap, saya akan jelaskan mahram itu apa. Ibnu Abidin menjelaskan bahwa mahram adalah orang yang selamanya haram untuk dinikahi, baik karena  nasab, kemertuaan atau susuan. Supaya lebih islami dan lebih terkesan ber-manhaj “kembali ke al-Qur’an dan Hadis”, saya langsung tampilkan ayat yang mengatakan, orang-orang yang haram dinikahi. Allah berfirman di dalam surat al- Nisa ayat 23-24 :

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

“Diharamkan atas kalian menikahi ibu-ibu kalian, anak-anak  perempuan kalian, saudara-saudara perempuan kalian, saudara-saudara bapak yang perempuan kalian, saudara-saudara ibu yang perempuan kalian, anak-anak perempuan dari saudara-saudara yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudara yang perempuan, ibu-ibu kalian yang menyusui kalian; saudara perempuan sepersusuan kalian, ibu-ibu istrimu (mertua), anak-anak istri kalian yang dalam pemeliharaan kalian dari istri yang telah kalian campuri, tetapi jika kalian belum mencampuri istri kalian (dan sudah diceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya dan diharamkan bagi kalian istir-istri anak kandung kalian. haram bagi kalian mengawini dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nisa : 23)

وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۖ كِتَابَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ ۚ وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَٰلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ ۚ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً ۚ وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا تَرَاضَيْتُمْ بِهِ مِنْ بَعْدِ الْفَرِيضَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Dan diharamkan juga kalian mengawini wanita yang bersuami kecuali budah-budak yang kalian miliki. Allah telah menetapkan hukum itu sebagaimana yang telah ditetapkan oleh-Nya kepada kalian. Dan dihalalkan bagi kalian selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri dengan harta kalian untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka istri-istri yang telah kalian nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka mahar (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban dan tiadalah mengapa bagi kalian terhadap sesuatu yang  telah kalian saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An Nisa : 24).

Oke, sudah jelas kan. Silahkan perinci dan permudah sendiri. toh sudah saya artikan. Sekarang status istri bagaimana, apakah mahram atau bukan? Kalau menilik ayat di atas, jelas bukan mahram, karena memang tak disebutkan sama sekali oleh tuhan. Berarti kalau bukan mahram, maka haram disentuh, dicumbu dan lain-lain? Semoga kesimpulannya bukan seperti itu.

Saya sepakat bahwa istri bukan mahram, tapi bukan berarti haram kalau dicumbu, karena sekalipun istri bukan mahram, istru juga bukan ajnabiyah (orang lain). Ajnabiyah itu kalau dawuhnya al-Shan’ani adalah orang yang bukan istri dan bukan mahram sehingga hukumnya berbeda dengan mahram dan ajnabiyah. Kekeliruan akhi dan ukhti adalah menempatkan lafad bukan pada maknanya.

Adapun term istri dalam kutub al-Turats (kitab-kitab fikih) diistilahkan dengan halilah adalah seorang perempuan yang halal dicumbu. Oleh karenanya, istri boleh disentuh dan semacamnya. Alasannya istri bukan ajnabiyah, tapi halilah. Namun menyentuh istri dapat membatalkan wuduk, karena istri bukan termasuk katagori mahram. Pasalnya, kalau dikatakan mahram, istri tak boleh dinikahi sebagaimana definisi mahram di atas. Artinya, istri memiliki term dan hukum tersendiri. Bagaimana, paham? Semoga paham, amiin.

Terakhir, Saran saya kepada para ukhti atau akhi, bolehlah memiliki semangat keagamaan yang tinggi, namun tolong diimbangi dengan keilmuan yang memadai pula.

 

Penulis : Admin Tanwirul Afkar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *