Begini Syaratnya Menjadi Keluarga Sakinah

Begini Syaratnya Menjadi Keluarga Sakinah

Menjadi Keluarga Sakinah

oleh Imam Nakha’i (Komisioner Komnas Perempuan sekaligus dosen usul fikih dan isu-isu kontemporer di Ma’had Aly Situbondo)

Baru kali ini jadi nara sumber agak deg-degan. Bagaimana tidak, Bapak Menteri Agama mengikuti sesi sampai akhir. Dalam kesempatan itu saya meyampaikan materi “Perspektif kesetaraan, keadilan dan kesalingan dalam perkawinan”.

Pertama-tama, saya menegaskan bahwa laki laki dan perempuan “setara ” dalam kemanusiannya (fi insaniyatihima) dan juga dalam “kesempatan mengabdi kehadapan Tuhan” (fi akramiyatihima), yang paling takwa baik laki-laki maupun perempuan, ialah yg lebih mulia di hadapan Allah. Sedang dalam konteks “afdhaliyyah”,-siapa yg lebih pastas dalam bidang bidang lain-, laki laki dan perempuan berbeda. di Afdhaliyah inilah pentingnya kesalingan dan keadilan. Kesetaraan kemanusian dan ke akramiyah-an laki laki dan perempuan tidak bisa berubah. Sedangkan Afdhaliyah karena didasarkan pada peran, situasi, kondisi, waktu dan kontek tertentu, maka ia bisa berubah.

Kedua: Saya berusaha menjelaskan konsep sakinah sebagai tujuan perkawinan dan Mawaddah wa Rahmah sebagai modalnya, yang sering disalahpahami bahkan oleh umat Islam. Seringkali kita dengar, dakwah “Bahwa tujuan perkawinan adalah untuk sakinah, mawaddah wa rahmah”. Hemat saya peryataan itu salah. Yang benar, sejalan dengan dua ayat yg menjelaskan konsep itu, yaitu bahwa tujuan perkawinan adalah “Sakinah”.

Bagaimana mencapai sakinah? Allah telah menjadikan di dalam diri perempuan dan laki laki dua modal, yaitu ” Mawaddah dan Rahmah”. Mawaddah artinya “aku mencintaimu agar aku bahagia” atau mencintai orang lain untuk kepentingan dirinya. Rahmah artinya “aku mencintaimu agar engkau bahagia” atau mencintai orang lain untuk kepentingan orang lain itu.

Sakinah terwujud Jika Mawaddah dan Rahmah dalam saat yang sama, dalam satu tarikan nafas, terwujud dalam setiap relasi suami istri. Mawaddah dan Rahmah tidak pernah hilang dari diri manusia, karena itu diciptakan Tuhan, melainkan bisa tertutup oleh debu-debu kesalahan.

Untuk mencapai Sakinah sesungguhnya bagaimana menjaga agar Mawaddah dan Rahmah tetap terbuka. Dan kalau tertutup oleh kesalahan, ketersinggungan, pengkhianatan, dan debu debu lainnya, bagimana segera di hapus dan membuka kembali Mawaddah dan Rahmah itu.

Seluruh ajaran pernikahan (fiqih munakahah) yang disarikan dari Alquran dan al-Sunnah dengan benar, hakikatnya untuk menjaga mawaddah dan rahmah tetap terbuka, dan kalaupun tertutup bagiamana segera dibuka kembali. Hanya dengan Mawaddah wa Rahmah yg terbuka, Sakinah akan terwujud. amin

Penulis: KH. Imam Nahe’i (Dosen Ma’had Aly Situbondo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *