Sunyi Di Rumah Kiai

Sunyi Di Rumah Kiai

Saat masih kanak, saya sering tak betah diajak bapak silaturahmi ke rumah kiai. Rumah kiai sangat sunyi, matahari menyala sendirian di halaman yang bertanah putih bersih. Burung-burung yang melompat-lompat dalam kurung rumah-rumahan di depan rumah kiai di antara kembang bermacam tak sanggup mengusir kesunyian. Terkadang datang seorang “bindhara” (santri yang berkhidmat di kediaman kiai) membawa hidangan kopi, atau merapikan perabotan makan, tapi tetap sunyi, langkah-langkah kakinya nyaris tak berbunyi, bahkan piring, sendok, mangkok, dan gelas yang diangkat dari atau ke nampan logam juga nyaris tanpa gesekan, hanya satu dua kali ada suara tumpukan piring yang bergesek sedikit terdengar lembut saat diangkut ke belakang.

Jenuh dalam sunyi, saya lalu mencipta keriuhan sendiri. Diam-diam saya tinggalkan bapak yang asyik bersama kiai. Saya pergi keluar pekarangan menuju pondok-pondok santri yang sunyi. Pondok-pondok berdinding bilik, berlantai lincak bambu dengan kaki-kaki di bawahnya, di depannya ada sejenis emperan terbuat dari papan atau bambu.

Tidak jarang di atas genting saya lihat kastol (panci) hitam, talam, jerigen, bantal, sandal, dan “dendeng” handuk dan sarung yang kering keras. Rumah inap santri ini sangat sengsara dan sunyi. Sulit rasanya orang biasa akan betah tinggal bertahun-tahun di sini.

Ramadan hingga beberpa hari pascalebaran pondok-pondok masih sunyi. Sesekali ada gerisik daun kedondong yang ditiup angin. Di belakangnya, sehamparan tegalan tembakau bersisa tulang-belulang batang dan pematang, tandus.

Saya menghibur diri merunduk masuk ke bawah-bawah lincak pondok santri, mencari tutup-tutup pasta gigi (odol), atau tutup-tutup botol sprite dan fanta. Matahari yang sesekali membuntuti dari celah-celah genting, tidak saya hiraukan.

Penuh saku dengan tutup pasta dan botol, saya segera ke tempat nyaman, memainkannya seakan catur atau menjentik-jentiknya sendirian di emperan surau yang berlantai putih bersih. Sementara suara tawa bapak dan kiai masih terdengar lembut di balik pagar pekarangan.

Kini, setelah tua, saya sering terperanjat, bagai tidur bermimpi dikejar penjahat, di manakah saya sekarang? Di sebuah rumah kiai yang lain, saya tidak bertemu sunyi. Sering datang banyak “bindhara” dengan suaranya yang lantang, bahkan tertawa-tawa. Langkah-langkahnya bukan hanya berisik, bahkan berderak-derak bagai hendak memecah dan menyeret-nyeret lantai paving dengan bekiak. Piring, sendok, dan gelas seperti bertengkar beradu sambar di atas nampan yang dibawanya.

Umur terus uban, saya kian terperanjat, di manakah saya sekarang? Di tempat lain, tak lagi saya temukan bilik dan lincak, kastol dan angin yang berhembus dari seberang tandus. Tempat ini menyerupai hotel: lantainya keramik mengilat, gambar artis memajang aurat, bantal-bantal tebal padat, selimut lembut hangat-hangat, kipas jarang istirahat, buku-buku bacaan dan novel menindih kitab.

Saya sudah di mana? Suara-suara pasar sangat nyaringnya. Suara-suara hiburan memekakkan telinga. Bising knalpot, sound system, mesin, komputer, televisi, koran, internet menggusur ruang-ruang sunyi dalam diri.

Ah, bagaimanakah saya dengar lagi lamat-lamat suara kiai dan bapak dari kejauhan, sedangkan mendengar isak tangis sendiri saja hampir tidak bisa.

Oh…, terlontar ke manakah saya?
Terlantar ke manakah jiwa?
Terdampar di manakah usia?

—–
Oleh: Zainul Walid
Refleksi sunyi, Sukorejo, Kamis siang, 23 Juli 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *