Kado Bulan Muharam,  Fikih, Pinjam Emas Dibayar Emas ?

Kado Bulan Muharam,  Fikih, Pinjam Emas Dibayar Emas ?

Kado bulan muharam, tak tahu apakah kedepannya, kami wabil khusus saya pribadi akan semakin baik atau sebaliknya, atau malah stagnan dalam satu kondisi, tak ada perubahan sama sekali. Namun yang jelas, untuk mengawal pada tahun, bulan, minggu, dan jam yang baru, kami persembahkan kado bulan muharam, berupa kajian ilmiah seputar permasalahan sosial-kemasyarakatan. Baik, tak usah panjang-lebar, sebelum membaca, kami ucapkan terlebih dahulu, selamat tahun baru hijriah 1442 semoga amal baik terdahulu dan akan datang diterima oleh-Nya serta salah dan dosa diampuni.

Pertanyaan

Kita semua tahu, bahwa emas kini harganya “selangit”. Jika dahulu harga emas dikisaran 500k-an per gram, kini sudah menembus di angka sejutaan per gram. Tak ayal, ada saja orang yang kemudian kreatif dalam mengemas persoalan hutang piutang. Jika biasanya hutang piutang dalam bentuk uang. Semisal orang yang butuh uang sejuta, lalu diberi pinjaman uang sejuta. Kini berbeda. Yang dipinjami bukan lagi dalam bentuk uang, melainkan dalam bentuk emas, yang kalau emas hasil pinjaman tersebut dijual lagi, bisa dikisaran sejuta-an juga, atau setidaknya sesuai dengan nominal yang mendekati kebutuhan orang yang membutuhkan pinjaman uang tadi.

Sebab itu, karena semakin maraknya peralihan pinjaman dalam bentuk uang ke emas ini, ada saja orang yang hingga menghukumi bahwa pinjam meminjam dalam bentuk emas ini adalah bagian dari riba. Penghukuman riba tersebut menurutnya, karena meski emas yang kita pinjam semisal 10 gram dan mengembalikannya lagi juga sama, tetap 10 gram. Tetapi harga emas per-gram-nya saat dikembalikan berpotensi lebih mahal dibanding harga emas pada saat meminjam. Sehingga terdapat selisih harga antara saat meminjam dengan saat mengembalikan.

Sebagai contoh, saat si Mpok Ijah butuh uang 5 juta, mpok ijah lalu diberi pinjaman 10 gram emas oleh Munaroh. Setelah mendapatkan pinjaman 10 gram emas, lalu Mpok Ijah menukarkan atau menjual kembali emas hasil pinjamannya ke toko emas. Karena memang saat itu harga emas per-gram-nya 500k, maka Mpok Ijah pun mendapatkan uang sebesar 5 juta, pas sesuai dengan kebutuhannya.

Tetapi saat 6 bulan kemudian Mpok Ijah ingin melunasi hutang emasnya ke Munaroh, ternyata harga emas per-gram-nya saat akan dilakukan pelunasan, bukan lagi 500k pergram, melainkan sudah menjadi 1 juta pergram. Sehingga untuk melunasi hutang 10 gram tersebut, Mpok Ijah harus mengeluarkan uang hingga 10 juta. Dengan kata lain, Mpok Ijah harus melunasi hutangnya DUA KALI LIPAT LEBIH BESAR dari jumlah uang yang diterima dari hasil penjualan emas pinjaman sebelumnya.

Lantas, bagaimana fikih menyikapi fenomena utang-piutang emas dengan emas ini? tidakkah ini termasuk riba karena ada ketidaksesuaian (lebih) antara nila emas awal (ketika meminjam) dan nilai emas kedua yang wajib dibayar kepada orang yang meminjamkan?

Jawaban

Dalam kumpulan pustaka fikih, hukum dari praktik utang-piutang emas yang demikian sempat dibahas oleh ulama. Adapun hukumnya adalah dirinci sebagaimana berikut:

  1. Boleh: Jika berdasarkan kesepakatan antara kedua belah pihak. Oleh karena itu, jika orang yang berutang menyanggupi untuk membayar dengan berat (gram) yang sama dan nominal harga yang lebih tinggi dari nominal awal (ketika meminjam) maka hal tersebut diperbolehkan. Sebegaimana juga, jika orang yang memberikan utang merelakan emas yang dipinjamkannya dibayar dengan emas yang beratnya sama namun nominal harganya lebih rendah dari pada sebelumnya (ketika meminjamkan) maka praktik tersebut diperbolehkan. Hal ini jelas tidak termasuk riba karena akad utang yang dibagun atas dasar kerelaan. Alasan kedua, fluktuasi harga pada emas tersebut bukan berdasarkan dari kehendak dari orang yang mengutangkan dan orang yang berutang, melainkan tuntutan faktor eksternal, seperti laju inflasi yang tidak terkendali dan lain-lain. Sehingga, mau-tidak mau atau secara terpaksa harga emas pasti mengalami gejala pasang-surut dalam harganya. Beda halnya riba, kelebihan harga yang diharamkan dalam riba adalah ketika kelebihan tersebut menjadi keinginan orang yang mengutangkan atau orang yang berutang dan disebutkan (dijadikan syarat agar mau melakukan utang-piutang) dalam akad utang-piutang. Bahkan, hal ini disunahkan bagi seorang yang berutang berdasarkan Hadis Sahih yang menganjurkan orang yang berutang untuk membayar utangnya dengan melebihkan sebagai upah dari pinjamnnya.
  2. Haram: Jika tidak berdasarkan antara keduanya dan ketika kelebihan tersebut menjadi keinginan orang yang mengutangkan atau orang yang berutang dan disebutkan (dijadikan syarat agar mau melakukan utang-piutang) dalam akad utang-piutang, karena hal ini jelas termasuk riba.

Perincian ini berdasarkan pendapat jumhur ulama fikih ( Mazhab Syafii, Hambali, pendapat yang populer dari Mazhab Maliki, dan Abu Hanifah) yang berpandangan bahwa barang yang wajib dibayar oleh orang yang berutang emas yang harganya mengalami fluktuasi adalah emas yang beratnya (gram) sama dengan yang emas yang dipinjam, sekalipun nilai harganya berbeda.

Beda halnya menurut pandangan Abi Yusuf, salah seorang ulama dari kalangan Mazhab Hanafi. Menurut beliau, orang yang berutang emas demikian wajib membayar nilai yang sama dengan emas yang dipinjamnya, dan nilai tersebut dibayar dalam bentuk mata uang yang laku di daerah tersebut. Oleh karena itu, jika dia berutang 50 gram emas yang seharga dengan satu juta rupiah maka yang wajib dibayar olehnya adalah satu juta rupiah.

Pendapat ini juga berbeda dengan padangan dari kelompok ulama fikih yang ketiga, salah satu pendapat dari Mazhab Maliki. Menurut kelompok ini, yang wajib dibayar oleh orang yang berutang emas demikian adalah dirinci. Jika perbandingan harga pertama (ketika meminjam) dan harga kedua (ketika membayar) sangat mencolok – harga kedua jauh lebih tinggi atau rendah dari harga pertama – maka yang wajib dibayar adalah nilai yang sama dengan emas yang dipinjamnya, dan nilai tersebut dibayar dalam bentuk mata uang yang laku di daerah tersebut. Namun, jika perbandingannya tidak mencolok maka yang wajib dibayar adalah emas yang beratnya sama, walaupun harga pertama dan kedua sedikit berbeda.

Referensi

بدائع الصنائع ( 7 / 395 )

فأما إذا كانت – الزيادة – غير مشروطة , ولكن المستقرض أعطاه أجودهما , فلا بأس بذلك , لأن الربا اسم لزيادة مشروطة في العقد , ولم توجد , بل من باب حسن القضاء , وانه أمر مندوب إليه . قال النبي عليه الصلاة والسلام : خيار الناس أحسنهم قضاء

فقه المعاملات (1/ 685)

واتفق الفقهاء من الحنفية والشافعية والمالكية والحنابلة وغيرهم على أنه يجب على المستقرض رد مثل الأعيان المقترضة صفة , وأنه لو قضى دائنه ببدل خير منه في الصفة أو دونه برضاهما صح , طالما أن ذلك جرى من غير شرط ولا مواطأة

الموسوعة الفقهية الكويتية (21/ 138)

المقياس الذي تقدر بالنظر إليه أثمان الأشياء وقيمها ، ويعدان ثمنا . وهذا هو مراد الفقهاء بـ ” الغلاء ” ” والرخص ” في هذا المقام .

ففي هذه الحالة : إذا تغيرت قيمة النقد غلاء أو رخصا بعدما ثبت في ذمة المدين بدلا في قرض أو دين مهر أو ثمن مبيع أو غير ذلك وقبل أن يؤديه ، فقد اختلف الفقهاء في ما يلزم المدين أداؤه . على ثلاثة أقوال :

القول الأول : لأبي حنيفة والشافعية والحنابلة والمالكية على المشهور عندهم ، وهو أن الواجب على المدين أداؤه هو نفس النقد المحدد في العقد والثابت دينا في الذمة ، دون زيادة أو نقصان ، وليس للدائن سواه (1) . وقد كان القاضي أبو يوسف يذهب إلى هذا الرأي أولا ثم رجع عنه .

والقول الثاني : لأبي يوسف – وعليه الفتوى عند الحنفية – وهو أنه يجب على المدين أن يؤدي قيمة النقد الذي طرأ عليه الغلاء أو الرخص يوم ثبوته في الذمة من نقد رائج . ففي البيع تجب القيمة يوم العقد ، وفي القرض يوم القبض

والقول الثالث : وجه عند المالكية ، وهو أن التغير إذا كان فاحشا ، فيجب أداء قيمة النقد الذي طرأ عليه الغلاء أو الرخص . أما إذا لم يكن فاحشا فالمثل (2) . قال الرهوني – معلقا على قول المالكية المشهور بلزوم المثل ولو تغير النقد بزيادة أو نقص – : ” قلت : وينبغي أن يقيد ذلك بما إذا لم يكثر ذلك جدا ، حتى يصير القابض لها كالقابض لما لا كبير منفعة فيه ؛ لوجود العلة (3) التي علل بها

المخالف في الكساد

صحيح البخاري- طوق النجاة (3/ 116)

حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ أَخْبَرَنَا سَلَمَةُ بْنُ كُهَيْلٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا سَلَمَةَ بِمِنًى يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا تَقَاضَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَغْلَظَ لَهُ فَهَمَّ بِهِ أَصْحَابُهُ فَقَالَ دَعُوهُ فَإِنَّ لِصَاحِبِ الْحَقِّ مَقَالًا وَاشْتَرُوا لَهُ بَعِيرًا فَأَعْطُوهُ إِيَّاهُ وَقَالُوا لَا نَجِدُ إِلَّا أَفْضَلَ مِنْ سِنِّهِ قَالَ اشْتَرُوهُ فَأَعْطُوهُ إِيَّاهُ فَإِنَّ خَيْرَكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاء

 Penulis: Ahmad Shafaa Uzzad (Santri Aktif Ma’had Aly Situbondo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *