Harlah 75. Tadarus Kebangsaan Bersama Ma’had Aly Sukorejo

Harlah 75. Tadarus Kebangsaan Bersama Ma’had Aly Sukorejo

Kemerdekaan bangsa Indonesia merupakan salah satu momentum yang indah bagi seluruh penduduk indonesia. Mencintai tanah air bukan lagi suatu hal yang diharuskan bahkan menjadi suatu kebanggaan yang patut dilestarikan.

Salah satu ungkapan cinta tersebut adalah dapat terwujud dengan mengenal serta menelaah lebih dalam tentang bangsa kita Indonesia terlebih dari aspek keragaman agama namun satu selera, yakni mewujudkan kesejahteraan.

Tak tertinggal dari hal tersebut Ma’had Aly Situbondo merealisasikan sebuah kajian yang membahas tentang Kebagsaan dengan tujuan tidak ada yang terselip ketidak tahuan terhadap kebangsaan tanah air kita.

Tadarus kali ini yang bertemakan kebangsaan disampaikan oleh guru kita Ust. Khairuddin Habsiz yang menjabat sebagai Katib sekaligus dosen di Ma’had Aly.

Berdiskusi tentang hal-hal mendasar yang berkaitan dengan kebangsaan, terutama pada momentum kemerdekaan merupakan suatu anugrah tersendiri bagi kita meskipun kondisi saat ini tidak seperti tahun sebelumnya.

Mengingat bahwa sekarang masih dalam momen kemerdekaan, tema pembahasan yang beliau sampaikan adalah:

  1. Islam dan Pancasila

Pancasila merupakan azimat bangsa indonesia. Pancasila merupakan asas tunggal sebagai acuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ditanah indonesia. Islam dan pancasila merupakan satu hal yang tak bisa dipisahkan, keduanya saling berkaitan dalam membangun kesatuan bangsa indonesia.

Terdapat dokumentasi resmi dari pondok salafiyah syafi’iyah ini yaitu deklarasi tentang hubungan islam dan pancasila, terdapat lima poin didalamya yang bisa disimpulkan menjadi “Pancasila bukan agama dan tidak mungkin menggantikan kedudukan agama tapi keberadaannya tidak bertentangan dengan agama, bahkan selaras dengan nilai-nilai agama”.

Dengan demikian hubungan antara keduanya sangat erat, karena dalam pancasila mengandung ajaran islam, seperti sila pertama dalam pancasila yang berbunyi Ketuhanan yang maha esa merupakan bukti bahwa tidak ada ketidak selarasan antara islam dan pancasila, begitupun pada sila kedua hingga kelima yang mana kesemuanya selaras dengan ajaran islam.

  1. Islam dan Kebhinekaan

Hal ini menjadi penting dipahami karena sebelum masuknya islam diindonesia sudah ada tradisi-tradisi yang berkembang dalam negri ini, termasuk tradisi hindu dan budha. Tapi karena kecerdasan walisongo waktu itu dapat mengubah tradisi tersebut menjadi tradisi paham syari’at dengan cara-cara mereka sehingga diterima oleh masyarakat.

Dalam kajian NU terdapat empat konsep untuk merawat kebhinekaan tersebut, diantaranya yaitu; Ukhwah insaniyah, Ukhwah makhluqiyah, Ukhwah Wathaniyah, Ukhwah Islamiyah, dan ditambah dengan Ukhwah Nahdliyah.

  1. Islam dan Tradisi kearifan lokal

Indonesia memiliki tradisi yang tidak boleh ditiadakan, yaitu tradisi yang selaras dengan ajaran syari’at yang dapat menjadikan manusia tidak bercerai berai akibat banyaknya tradisi baru yang berdatangan.

Keragaman merupakan keniscayaan yang harus di terima keberadaannya, karena dari keragaman tersebut kita bisa mempelajari segala hal baik dari segi sosial, budaya dan selainnya.

Jika kita telisik dari sisi kaidah yang kerap kita dengar seperti al-adat al-muhakkamah dapat kita pahami bahwa kaidah ini merupakan salah satu dalil terhadap adanya hubungan islam dengan kearifan lokal, yang mana kearifan lokal tidak boleh ditinggalkan begitu saja karena islam datang tidak pada ruang hampa, maka tradisi yang baik itu menjadi sarana kita untuk lebih melekatkan hubungan kita terhadap sesama.

  1. Islam dan Nusantara

Pada umumnya kita kenal hal ini dengan islam nusantara, sehingga banyak menimbulkan kesalah pahaman bagi orang-orang yang tidak begitu memahaminya.

Terdapat dua perspektif dalam islam nusantara yang diungkapkan oleh guru kita KH. Afifuddin Muhajir sebagai salah satu tokoh dibalik adanya islam nusantara agar islam nusantara ini tidak disalah pahami oleh kebanyakan orang, diantaranya yaitu;

  1. Ditinjau dari sisi bahasanya, yaitu tarkib idofi yang menyimpan huruf jer fii, yang artinya yaitu “Islam yang ada di Nusantara”
  2. Dari segi muatannya, ada tiga poin penting yang menjadi sisi argumen dalam istilah islam nusantara, yaitu;

1). Metode penyebaran islam di nusantara berbeda dengan lainnya. Ada empat akulturasi penyebaran islam di nusantara, yaitu; Perdagangan, Perkawinan, Kesenian, dan Pengajaran.

2). Karakter dari masyarakat nusantara yang memang pada dasarnya lemah lembut sehingga ada yang mengatakan bahwa pada dasarnya mereka sudah islam hanya saja belum melafadzkan dua kalimat syahadat.

3). Aspek pemahaman ulama’ nusantara terhadap ajaran islam. Dalam ilmu ushul fiqh ajaran islam terbagi menjadi tiga aspek, yaitu; Akidah, Akhlaq, dan Syari’at. Untuk ajaran akidah dan akhlaq tidak ada khilafah antar ulama’, karena diberbagai sudut bumi kedua aspek itu sama, jika dalam akidah kita belajar mengenal Tuhan, dan dalam akhlaq kita belajar membersihkan diri dari sifat madzmumah, dan menghiasi hati dengan sifat mahmudah. Sementara dalam syari’at banyak perbedaan yang terjadi, hal ini terjadi akibat dalam syari’at terdapat dua kategori, yaitu; Tsawabit dan Mutaghayyirah. Tsawabit adalah Segala hal yang dalilnya qa’thi dan tidak akan berubah dalam kondisi apapun, seperti sholat, puasa, zakat, dll. Semetara Mutaghayyirah adalah syari’at yang bersifat elastis dan dinamis yang bisa berubah sesuai zaman dan kondisi. Pada umumnya syari’at ini mengatur hukum-hukum yang berhubungan antara manusia dengan sesamanya (hablun minannas), sehingga dengan adanya syari’at munculah berbagai pendapat dari kalangan ulama’ dalam pengaplikasiannya terhadap manusia dengan tujuan tidak memberatkan terhadap mereka.

Demikian ulasan yang disampaikan dalam pengajian kebangsaan kali ini dalam bentuk mewujudkan kecintaan kita terhadap bangsa juga guna menumbuhkan kecintaan kita terhadap sesama dalam satu lingkaran agama. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *