Mengutip Pelajaran Dari Kisah 100 Pembunuhan

Mengutip Pelajaran Dari Kisah 100 Pembunuhan

Tak jarang, para kiai pun beberapa dai mengutip dan menutur sebuah kisah ‘sadis yang berujung manis’, penuh kesan, dan bisa dibilang jarang tampak di permukaan. Alkisah, Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id bin Malik bin Sanan al-Qudri tersebut Rosulullah bercerita kepada para sahabatnya. Bahwa konon, pada zaman Bani Israil ada seorang laki-laki gagah perkasa, seorang pembunuh 99 jiwa.

Suatu hari laki-laki tangguh itu bermaksud banting setir dari rutinitas moral bejatnya, dan bertanya siapa orang paling alim seantero dunia. Lalu ditunjukkanlah kepadanya seorang pemuka pendeta. Tak butuh durasi lama, ia pun mendatangi sang pendeta, dan sang pemuda berkata “aku telah membunuh 99 jiwa, apakah masih ada taubat bagiku?” “Tidak” jawab sang pendeta tanpa banyak kata.

Hanya berselang beberapa hembus nafas dan tanpa ucap yang berkepanjangan, pemuda tersebut langsung menebas tanpa pertimbangan. Alhasil, genaplah 100 nyawa ia musnahkan.

Pada kesempatan berikutnya sang pemuda tangguh itu bertanya tentang orang paling alim kembali dimuka bumi. Dengan kejadian yang tak jauh beda dengan sebelumnya, ditunjukkanlah kepadanya seorang pemuka agama yang alim dan bijaksana.

Dengan tanya hampir yang sama, sang pemuda pun berkata padanya “aku telah membunuh 100 jiwa, apakah masih ada taubat bagiku?” Sang alim tak sama dengan pendeta yang telah musnah di tangan pemuda. “Tentu masih ada, siapa yang menghalangimu untuk bertaubat kepada-Nya?” jawab sang alim dengan lembutnya.

Ia (sang alim) melanjutkan “pergilah ke daerah ini, -sang alim menununjukkan- (dalam taks hadis tidak disebutkan tempat kongkritnya), karena sesungguhnya di sana terdapat orang-orang yang senantiasa beribadah kepada Allah Swt, maka beribadahlah kamu kepada-Nya bersama mereka. Dan kamu jangan kembali ke negerimu, karena negerimu adalah tempat yang buruk dan biadab”

Mengikuti petunjuk sang alim, lelaki pembunuh 100 nyawa itu berangkat penuh semangat pada tempat ia akan berubah taat. Tiada duga sebelumnya, sang laki-laki meninggal ditengah perjalanan, sebelum ia hinggap di tujuan.

Seketika turunlah Malaikat Rahmat dan Malaikat Azab, berikut perselisihan dan perdebatan dari dua hamba mulia ini. Kata malaikat rahmad, laki-laki itu termasuk golongannya, karna meninggal dalam jiwa sedang menuju kepada kebaikan dan husnul khatimah. Sementara kata Malaikat Azab, laki-laki itu termasuk golongannya dan tak pantas dalam golongan ‘putih’. Dengan alasan, ia tak pernah merangkul secuil kebaikan.

Maka datanglah malaikat ketiga dalam wujud seorang manusia, sebagai penengah dari dua malaikat sebelumnya. Tak tunggu lama, malaikat dengan wujud manusia itu memerintah, “ukurlah antara jarak kedua negeri tersebut (negerinya yang bejat dan negeri tujuan untuk taat). Ke arah negeri mana yang lebih dekat, maka dialah yang berhak membawanya”.

Antusias, kedua malaikat untuk mengukur jasad pembunuh berantai itu. Alhasil, ternyata mereka jumpai bahwa laki-laki itu lebih dekat kepada negeri tujuannya untuk bertaubat. Dengan demikian, maka Malaikat Rahmad lah yang berkak membawanya, sehingga laki-laki pembunuh 100 jiwa yang belum sempat bertaubat itu termasuk golongan dalam surga.

Sebuah kisah yang sekali lagi penuh kesan, dan benar-benar sulit terjadi dalam kehidupan. Tuhan pernah berfirman, bahwa segala yang terjadi pasti ada terkandung hikmah dan pelajaran. Termasuk kisah ini pun kita bisa banyak memetik bayak kebaikan didalamya.Tak ada tujuan setelah merengguh kebaikan itu, selain menambah ketakwaan kisa sebagai status hamba pada tuhan, Allah Swt sang maha penentu segalanya.

Sitadaknya ada 3 hal yang kita bisa petik dari serangkaan kisah yang terjadi dimasa rosulullah itu:

Pertama: tidak boleh berputus asa dengan segala kondisi yang ada. Kita mungkin sering kali berputus asa sebab tertimpa secuil bencana maupun dosa. Dari kisah diatas, secara jelas bahwa insan yang jelas-jelas terselimut dosa besar, penumpas 100 nyawa, masih terbuka pintu taubat. Dan alhasil ia termasuk golongan surga. Dalam sebuh sabda Nabi bernah menyampaikan “salah satu dosa besar adalah putus asa dari rahmad Allah, dan putus harapan dari kelapangan-Nya” (HR. Tabrani)

Kedua: pentingnya sikap mengangan-ngangan dan memikirkan kembali sebelum mengambil memutuskan suatu tindakan. Kalau kita mencermati betul dari kisah diatas, ada dua keputusan tergesa-gesa yang dilakuakan oleh aktor cerita.

Seorang pendeta begitu saja dengan tanpa fikir memutuskan bahwa sang pemuda tertolak taubatnya, sementara sang pemuda langsung menebasnya, tanpa banyak pasang kata. Bukankah tak jarang kisa sering mendengar “terburu-buru adalah termasuk perbuatan setan”.

Ketiga: jangan meremehkan sekecil keburukan dan kebaikan yang terjadi. Akhir kisah dari pemuda yang bisa dibilang termasuk golongan malaikat azab atas, berkat kegigihan dan niat ikhlasnya ia termasuk dalam golongan surga. Dalam cacatan yang terakhir ini, Allah swt begitu dengan jelas menfirmankan:

“barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrohpun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa yang yang mengerjakan keburukan seberah zarrahpun, niscaya dia akan melihat balasannya (pula)” (QS al-tZalzalah: 7-8).

Penulis: Mohammad Fauzan (Santri Aktif Ma’had Aly Sukorejo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *