Kenapa ASWAJA Hanya Menggunakan Empat Mazhad dalam Fikih?

Kenapa ASWAJA Hanya Menggunakan Empat Mazhad dalam Fikih?

Aswaja dalam ranah bahasa terdiri dari tiga suku kata yaitu ahl, as-Sunnah dan al-Jamaah sedangkan kata ahl berarti keluarga, segolongan orang yang bersatu sebab kesamaan nasab, agama, pekerjaan, dan penganut satu mazhab. Kata as-Sunnah yang berarti jejak dan yang terakhir kata jama’ah yang segolongan orang yang berkumpul. Sedangkan dalam perspektif istilah adalah istilah bagi umat Islam yang mengikuti ajaran salaf –berpedoman pada Alquran, hadis dan atsar yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW dan para sahabatnya yang berbeda dengan sekte-sekte bid’ah.

            Indonesia adalah negara yang masyarakatnya memiliki paham ahl as-sunnah wal jama’ah terbesar di dunia. Nahdatul Ulama yang menjadi ormas terbentuknya paham ahl as-sunnah wa jamaah di Indonesia yang diketuai oleh  KH. Hasyim Asy’ari yang menjadi tombak lanjut dari perjuangan wali songo . Di dalam Aswaja ada tiga pokok penting yang harus diketahui yaitu: dalam tauhidnya mereka mengikuti Imam Asyari dan Imam Maturidi, di dalam  fikih mengikuti empat mazhab yaitu Imam Syafi’i, Imam Hanafi, Imam Maliki dan Imam Ahmad bin Hanbal. Sedangkan dalam ilmu tasawwuf mengikuti Imam al-Ghozali dan Imam Junaid al-Bagdadi.

Mazhab merupakan istilah yang populer di kalangan orang-orang Arab. Mazhab memiliki arti secara bahasa jalan yang dilalui atau jalan yang dilewati, sedangkan secara istilah mazhab merupakan jalur yang dipilih sehingga terhubung dengan risalah yang dibawa Nabi Muhammad Saw. Menurut As-Syaikh Ramadhan al-Buthi bahwa yang dimaksud dengan bermazhab adalah mengikutinya orang awam atau orang yang belum termasuk golongan mujtahid kepada mazhab imam mujtahid, baik ia terikat pada satu mazhab tertentu atau ia hidup berpindah dari satu mazhab ke mazhab yang lainnya.

Kelompok Aswaja di dalam pemahaman fikih mengikuti empat mazhab yang telah disebutkan. Mengapa mereka hanya mengikuti empat mazhab tersebut? Berikut penjelasnnya.  

Pertama, kualitas pribadi dan keilmuan mereka sudah masyhur. Jika nama mereka disebut hampir dapat dipastikan mayoritas umat Islam di duia mengenalnya dan tidak perlu menjelaskan lebih detail. Kedua, adanya kemiripan cara berijtihad antara keempat mazhab dengan empat sahabat khulafah ar-rasyidin. Imam malik mirip sahabat Umar bin Khattab, Imam Ahmad bin Hanbal mirip sahabat Ustman bin Affan dan Imam Abu Hanifah mirip caranya Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Ketiga, keempat imam ini merupakan mujtahid mustaqil, yaitu ulama yang mempunyai kemampuan untuk membuat mazhab secara mandiri karena telah memenuhi persyaratan sebagai mujtahid mustaqil.

Keempat: para imam mazhab itu mempunyai murid yang secara konsisten mengajar dan mengembangkan mazhabnya yang didukung oleh buku induk yang masih terjamin keasliannya hingga saat ini.

Kelima: memiliki mata rantai keilmuan diantara keempat mazhab itu dan memiliki silsilah keilmuan yang sampai kepad Nabi Muhammad SAW.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *