Nabi Muhammad, Puasa Asyura Dan yahudi

Nabi Muhammad, Puasa Asyura Dan yahudi

Penjenjangan Puasa Asyura

Hari Sabtu lusa (29/08) tepat tanggal 10 Muharram, salah satu momentum hari suci dalam Islam. Pada hari itu dianjurkan melakukan puasa yang disebut puasa Asyura. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ

“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah (puasa) di bulannya Allah, yaitu Muharram.”

Tetapi dalam hadits riwayat Imam Ahmad dari Ibn Abbas radhiyallahu anhuma, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ ، وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ ، صُومُوا قَبْلَهُ يَوْمًا أَوْ بَعْدَهُ يَوْمًا.

“Berpuasalah kalian pada hari Asyura dan selisihilah kaum Yahudi. Berpuasalah (juga) satu hari sebelumnya dan satu hari sesudahnya.”

Pasalnya, kaum Yahudi juga melakukan puasa Asyura, tetapi cuma satu hari tepat pada tanggal 10. Oleh karena itu, agar tidak sama persis dengan mereka Rasulullah menyarankan agar kita berpuasa juga satu hari sebelumnya dan satu hari sesudahnya.

Berdasarkan hadits di atas, para ulama, sebagaimana dikemukakan Sayyid Sabiq dalam Fiqh al-Sunnah (I/381), berkata bahwa puasa Asyura ada tiga tingkatan, yang paling utama adalah berpuasa tiga hari sesuai hadits di atas, yakni tanggal 9, 10 dan 11. Di bawah itu adalah berpuasa dua hari, yaitu tanggal 9 dan 10. Kemudian, yang paling rendah adalah berpuasa tanggal 10 saja. Dari sini diketahui bahwa berpuasa satu hari pada tanggal 10 saja bukanlah bid’ah atau pun khilaf al-aula, hanya saja merupakan satu pilihan alternatif yang paling rendah.

Adanya anjuran berpuasa tanggal 11 di samping dua hari sebelumnya mengandung suatu hikmah, yaitu untuk kehati-hatian dan meyakinkan bahwa puasa Asyura tidak terliwatkan. Sebab, ada kemungkinan, setidaknya di zaman lampau, orang keliru menentukan tanggal 10. Nah, dengan berpuasa sehari sesudahnya itu bisa dipastikan puasa tanggal 10 tidak terliwatkan begitu saja.

Di samping berpuasa, ada beberapa amalan lain yang dianjurkan pada momentum Asyura ini. Meskipun dasarnya dinilai dha’if oleh sebagian ulama, setidaknya ini merupakan perbuatan baik yang dianjurkan untuk dilakukan kapan saja sehingga tidak ada alasan untuk memvonisnya bid’ah, wallahu a’lam 🙏 Amalan-amalan dimaksud termaktub pada gambar berikut 👇 Silahkan disimak, #wallahul_muwaffiq.

https://drive.google.com/file/d/1AbNq8y7UW-NY679pHchv-zBPiTSjUXJz/view?usp=sharing

Penulis KH. Zainul Mu’in Husni (Dosen MA’had ALy Situbondo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *