Buruk Sangka, Cermin Keruhnya Jiwa

Buruk Sangka, Cermin Keruhnya Jiwa

Segala sesuatu yang terbersit dalam pikiran merupakan hal yang lahir dari hati. Pola berpikir seseorang ada dua, pikiran baik dan pikiran buruk atau buruk sangka. Islam sangat melarang penganutnya berburuk sangka, baik kepada Penciptanya ataupun makhluk sesamanya.

Setiap larangan pastilah mengandung kebaikan. Karena secara personal sifak buruk sangka menjadikan seseorang selalu was-was dan curiga terhadap lingkungan sekitarnya. Allah Swt. melarang berburuk sangka karena hal itu merupakan dosa. Sementara sabda Nabi Muhammad Saw. menyatakan bahwa buruk sangka merupakan paling dustanya omongan hati.

Sifat buruk sangka merupakan salah satu penyakit hati, yang menandakan hati pemiliknya keruh dan tidak sehat. Sebab hati yang jernih tidak akan menaruh rasa curiga sedikitpun pada orang lain. Buruk sangka juga melahirkan hal-hal buruk, semisal buruk sangka kepada Tuhan mengakibatkan tidak puas dan selalu mengeluh terhadap kondisi hidup yang dialaminya. Padahal Allah sendiri berfirman dalam hadis qudsinya, bahwa Dia sesuai dengan apa yang disangkakan oleh makhluk-Nya. Buruk sangka kepada makhluk menimbulkan saling fitnah dan saling menyalahkan satu sama lain yang pada akhirnya akan menghancurkan hubungan baik diantara mereka.

Namun sifat buruk sangka bukan lantas tidak dapat diobati. Diantara cara untuk menyembuhkannya adalah dengan menumbuhkan sifat tabayyun di dalam diri kita, menjauhi sifat takabbur (sombong), berpikir positif dan menguatkan akal. Dalam sebuah keterangan disebutkan bahwa baik sangka adalah salah satu ciri orang berakal. Falyataammal!

Penulis: Sri Deva Ayu wartini (Santri Aktif Ma’had Aly Situbondo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *