Syaikh Farid Al-Tuniy Dan Kiai Zainul Mu’in Husni, Cerminan Sahabat Lillah

Syaikh Farid Al-Tuniy Dan Kiai Zainul Mu’in Husni, Cerminan Sahabat Lillah

Guru Pentashih Bacaan Qur’an-ku

Syaikh yang satu ini teman dan sekaligus guru saya. Teman karena dia memang teman seangkatan saya, 1984, di Ma’had I’dad al-Aimmah wa al-Khuthaba’ wa al-Du’ah, semacam diklat untuk pelatihan imam, khatib dan da’i yang didirikan oleh, dan berada di bawah, sekretariat jenderal Rabithat al-Alam al-Islamy (Liga Dunia Islam) di Makkah. Masa pelatihannya 8 bulan. Jadi, praktis stahun tinggal di Makkah. Jika tidak salah ingat, saya adalah angkatan ketiga di ma’had ini. Di ma’had inilah saya bertemu dan berkenalan pertama kali dengan Syaikh Farid.

Farid Ismail al-Tuniy, demikian nama lengkapnya. Tubuhnya tinggi besar. Kumis dan jenggot tebal yang sebagiannya mulai beruban menghiasi wajahnya. Suaranya pria banget dan enak didengar. Saat melihatnya pertama kali, saya mengira dia dosen karena saat itu usianya sudah di atas 40 tahun, sedang saya masih 27 tahun. Tetapi ternyata dia malah duduk di kursi siswa. Boleh jadi, dia masuk di ma’had bukan murni untuk belajar, tetapi sekedar cara untuk bisa tinggal di Haram Makkah. Buktinya dia selalu unggul dalam ujian. Maklum aja, wong dia memang sudah ulama.

Yang paling menakjubkan hati saya adalah suara dan bacaan Qur’annya yang mirip banget dengan Syaikh Mahmud Khalil al-Hushari, muqri’ Mesir yang sangat familiar di telinga kaum Muslim Indonesia. Terbersit di hati saya keinginan untuk belajar lebih jauh Alqu’ran kepadanya. Tak dinyana, pucuk dicinta, ulam pun tiba ketika suatu hari di jam istirahat dia mendekat ke kusi saya.

“Akhiy Zainul Mu’in, assalamu alaikum,” sapanya sembari menjulurkan tangannya untuk bersalaman. Saya jawab salamnya dan saya sambut tangannya. Kemudian ia melanjutkan, “Saya melihat bacaan qur’an anda bagus, tetapi, maaf, mungkin perlu penyempurnaan di sana-sini. Bagaimana kalau kita kumpul-kumpul rutin di asrama setelah isya’ untuk tadarus alqur’an?” Langsung saya respon. Dengan setengah berteriak karena kegirangan, saya bilang, “Alhamdu lillaaah,… baru saja saya berpikir untuk berguru pada anda dalam Alqur’an dan mentashih bacaan saya. Hamdan laka ya Rabb.

“O tidak, saya bukan guru Alqu’ran, tapi yah kita tadarus sajalah. Baik, kalau begitu, kita kumpul-kumpul dan kita ajak teman-teman lainnya yang punya kepedulian yang sama,” sarannya. Saya pun mengiyakan.

Dari perbincangan selanjutnya, saya tahu bahwa, seperti halnya saya, dia pun pengagum berat Syaikh Mahmud al-Hushari sampai-sampai dia menyatakan:

الشيخ محمود الحصري آيةٌ في كتاب الله

“Syaikh Mahmud al-Hushari itu “ayat” dalam Kitab Allah.”

“Ayat” di sini maksudnya salah satu tanda kebesaran Allah di dalam Alqur’an. Dia menuturkan bahwa di dapur rekaman, saat merekam bacaan Alqur’an, Al-Hushari didampingi oleh tujuh ulama muqri’ yang meneliti dan mengoreksi bacaannya. Satu huruf saja dia keliru atau kurang tepat mengucapkannya, kontan mereka memintanya untuk mengulanginya kembali. Jadi, kata dia pula, kalau ingin menyimak bacaan Alqu’ran yang benar ya Al-Hushari itulah pilihannya.

“Apa anda murid beliau langsung?” tanya saya.

“O tidak, saya berguru pada murid beliau. Jadi, sebutlah saya ini cucu beliau,” jawabnya setengah berkelakar.

Kemudian, sesuai sarannya, saya mulai mengajak teman-teman seangkatan saya untuk kumpul-kumpul setiap malam untuk tadarus Alqur’an dan terkumpullah tujuh atau delapan orang (sudah lupa). Di sinilah kami ditempa dengan keras tapi telaten oleh Syaikh Farid untuk mengucapkan huruf-huruf Alqu’ran dari makhrajnya yang tepat. Kami dilatih dengan keras untuk mempertegas perbedaan dalam ucapan huruf-huruf, misalnya antara ث dengan س dan ش, antara ت dan ط, antara د dan ض, antara ذ dan ظ, antara ق dan ك … dst. Juga dalam hal tebal-tipisnya huruf (tafkhim dan tarqiq) dll. Awalnya, nyaris tak ada satu pun bacaan kami yang benar di telinganya, tetapi berkat ketelatenan dia dan latihan-latihan intensif yang kami lakukan secara mandiri bacaan kami mulai membaik. Hingga saat ini pun saya terus melakukan upaya perbaikan kualitas bacaan dengan menyimak bacaan Syaikh Al-Hushari sebagai acuan utama dan mengingat-ingat pembelajaran Syaikh Farid sehingga, tak bisa tidak, wajahnya selalu hadir di benak saya setiap saya mengaji alqur’an.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *