Ma’had Aly Situbondo Kembali Gelar Pesta Ilmiah Muharam

Ma’had Aly Situbondo Kembali Gelar Pesta Ilmiah Muharam

Di malam asyuro yang lalu, lembaga Mahad Aly Situbondo kembali mengadakan kuliah umum dengan tajuk, “Muharram dan Hak Asasi Manusia” dengan mengundang Narasumber ahli, Dr. Imam Nahe’I (anggota Komnas Perempuan dan Masyayikh Mahad Aly) sebagai pemateri pertama dan Dr. Nawawi Thabrani (Masyayikh Mahad Aly) sebagai pemateri kedua.
Perkuliahan ilmiah tersebut berisi tentang penerjemahan dan penafsiran Alquran serta kaitannya dengan Hak Asasi Manusia. Menurut Ust. Nakhai, banyak diantara terjemahan Alquran yang sudah ada cenderung kurang tepat dalam memaknai ayat-ayat Alquran. Hal ini berakibat kepada penggunaan terjemahan oleh orang-orang yang tidak mumpuni dalam kajian keislaman.
Dengan demikian, keberadaan terjemahan tersebut akan menimbulkan pemahaman keliru bagi para dai-dai yang berdakwah tanpa mengaitkan perangkat-perangkat penafsiran seperti kaidah bahasa Arab, Usul Fikih dan lainnya sebagai basic-nya. Terlebih, jika melibatkan perspektif mutarjim atau mufassir sendiri sehingga beberapa ayat seakan-akan tidak selaras dengan hak asasi manusia -ungkapnya.
Setelah penyampain apik dari anggota Komnas Perempuan tersebut, dilanjutkan oleh Dr Nawawi yang sedikit memberi gambaran umum dalam penafsiran. Menurutnya, ada dua pendekatan yang bisa digunakan; pendekatan lafaz dan pendekatan sosial. Dua pendekatan ini mesti digunakan agar-ayat ilahiyah bisa difahami secara universal dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip umum Alquran.
Setelah difahami, –lanjut pak Nawawi- tindakan selanjutnya adalah memahamkan. Maka ada beberapa pendekatan yang semestinya ada ketika berada di masyarakat. Pertama, pendekatan filosofis (mengenalkan Islam sesuai makna aslinya). Kedua, pendekatan etis moral. Ketiga, pendekatan kemanusiaan. Dengan mengacu kepada tiga pendekatan tersebut, Islam tampak sebagai agama yang kaffah dan kamilah sehingga hukum-hukum yang dicetuskan pun sesuai dengan semangat keislaman. Tidak seperti hasil kesimpulan di Bahsul Masail yang seringkali bertabrakan terhadap konsep kemanusian dan kebiasaan masyarakat lokal. sehingga memunculkan kesan Islam yang tidak ramah terhadap pemeluknya.
Di akhir acara, kedua pemateri memberi wejangan kepada para santri Mahad Aly Situbondo agar pemaknaan Alquran yang sudah ada mesti diperbaharui sehingga Alquran bisa berjalan seiring dengan Hak Asasi Manusia. Selain itu, perlu menanamkan sifat sufi sehingga tidak takabbur ketika turun di masyarakat. [wr]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *