Tokoh Teladan, Jembatan Yang Menyejukkan

Tokoh Teladan, Jembatan Yang Menyejukkan

Sang Pembangun Jembatan Dan Sang Perontok Jembatan

Jembatan adalah infrastuktur yang menghubungkan dua wilayah yang terpisahkan oleh sungai, bukit atau jurang. Jembatan memungkinkan manusia di area yang terpisah itu berkomunikasi, saling kunjung bahkan menyatu dalam sebuah ikatan keluarga. Para pembangun jembatan memiliki jasa luar biasa yangwajib dikenang sebagai manusia berhati mulia. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang merusak dan meruntuhkan jembatan itu? Jawabannya pasti mudah sekali, manusia hina berhati busuk.

Indonesia adalah negara yang terdiri dari pulau-pulau terpencar dan terpisah-pisahkan oleh selat, lautan, sungai, bukit dan gunung. Dibangunlah JEMBATAN HATI oleh para tokoh masa lalu yang merindukan kebersamaan dan kebersatuan. Mereka berkomunikasi demi kebahagiaan bersama, berangkat dari ketulusan rasa kemanusiaan. Kitapun bersatu menjadi NKRI yang kita cintai ini.

Rupanya kini ada yang menginginkan JEMBATAN HATI itu runtuh. Mereka mencoba mengadudomba wilayah-wilayah yang terpisah, mencari perbedaan dan bukan berusaha mencari titik temu. Mereka inginnya adalah enak sendiri dan bukan menikmati kedamaian hidup secara bersama-sama. Mereka memiliki rencana sendiri yang jauh menyimpang dari kesepakatan para pembangun jembatan pada masa lalu. Kita harus ikut yang mana? Akal sehat bisa menjawab dengan tegas.

Bersamalah dengan orang-orang yang damai, yang lembut tutur katanya, yang sejuk pesan kalimatnya. Berkumpullah dengan orang-orang waras yang tak merasa benar sendiri, yang tak senang menghujat dan mencaci. Peradaban utama itu dibangun di atas pondasi cinta, bukan kebencian. Kita, Indonesia kita, sesungguhnya kaya sekali dengan tokoh penuh cinta. Sayangnya, yang selalu diekspose adalah para tokoh kontroversial penyulut emosi.

Hati-hatilah mencari teladan dan memilih pemimpin. Ada banyak yang pandai mengemas berita sehingga yang fakta dianggap hoax dan yang hoax dianggap fakta. Ada kelompok pembakar jembatan, peruntuh jembatan, yang teriak-teriak mempertanyakan mengapa kelompok lain tidak pernah dekat dengan kelompoknya. Kelompok itu tampil dengan pura-pura lupa bahwa dirinyalah yang meruntuhkan jembatan hati antar warga. Waspadalah.

Jagalah NKRI kita, rawatlah keakraban kita berbangsa dan bermasyarakat. Saat kita bersama, beban seberat apapun akan terasa lebih ringan dan lebih mudah diatasi. Salam merah putih, AIM.
Penulis: KH. Ahmad Imam MAwardi (Pengasuh Pondok Pesantren Alif Laam Miim Surabaya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *