Musthofa, Santri Kiai As’ad Dari Golongan Jin

Musthofa, Santri Kiai As’ad Dari Golongan Jin

SANTRI KIAI AS’AD DARI GOLONGAN JIN

Kisah nyata ini insyaallah sudah menjadi rahasia umum bagi Santri Putri Madrasatul Qur’an atau MQ (salah satu pondok cabang dari Ponpes Salafiyah Syafi’iyah) pada tahun 2006. Kala itu, usai azan magrib, datanglah beberapa pengurus putri MQ ke Gubug-Asrama khusus Abdhi dalem atau asisten keluarga kiai – melaporkan bahwasanya terdapat  Santri Putri yang kerasukan Jin. Maklumlah, kala itu disamping Abdhi dalem, kami juga berstatus ‘DANJEN’ (bertugas menjaga keamanan dan ketertiban komplek Madrasatul Qur’an).

Mendengar laporan tersebut, kepala saya langsung mendidih, “Ancirweit…! Pasti ini ulah Jin kafir!!!”, Pikirku sambil lalu menyiapkan diri untuk salat magrib sebelum menuju TKP. “Ok dah Ustazah sebentar lagi kami kesana, kami salat dulu“, Jawab kami.

Usai salat, kami langsung meluncur ke TKP (kamar MQ Putri no xxx). Setibanya di kamar santri yang sedang kerasukan, tanpa basa-basi dan gak pakai Negoisasi, kami langsung menghajar Jin yang bersemayam di dalam jasad santri. Jurus pertama, kedua dan ketiga sudah dikeluarkan. Aneh, biasanya cukup jurus level 1 sudah membuat  jin langsung teriak-teriak lalu ngacir dan bertekuk lutut minta ampun, tapi ini gak seperti biasanya; sudah lewat jurus level 3, justru kami yang kewalahan, badan keringetan dan lemes. “Tangguh bener jin ini”, pikir kami.

Disaat Jurus level 4 sedang dibaca, tiba-tiba si santri buka suara, namun bukan nada suara santri itu sendiri. “Tunggu ! ust tidak usah kasar memaksa saya untk keluar dari badan ini, ketahuilah bahwa apa yang ustaz baca, saya juga membacanya, apa yang ust pelajari saya juga sudah mempelajarinya, karena saya juga SANTRINYA KIAI AS’AD”.”Hai Jin, kalau kamu mengaku santrinya Kiai As’ad lalu kenapa kamu mengganggu Santri ini ?”, Tanyaku penasaran.

Jin itu kemudian menggeleng-gelengkan kepala, bibirnya bergetar dan terlihat mengalirkan air mata. “Nama saya MUSTHOFA, Demi Allah saya tidak bermaksud untuk mengganggu siapapun apa lagi sesama santri Kiai As’ad. Kalau bukan karena anak ini akhlaknya terlewat batas, tentu saat ini saya sedang bersama jamaah untuk berzikir di Musala. Ust, anak ini sering berbohong kepada pengurus; di suruh sekolah, justru tidak sekolah dengan pelbagai alasan, malas salat dengan alasan datang bulan dan sering melanggar peraturan pesantren, bahkan anak ini sudah sering membohongi dan membuat ibunya menangis, padahal Orang tuanya susah payah mencari uang, berusaha menuruti kemauan anak ini supaya betah di pondok, bahkan ibunya selalu bangun malam, berdoa dan bermunajat kepada Allah untuk anak ini” Terang Jin Mustofa dengan suara terbata-bata diiringi cucuran air mata. Kami yang semula emosi, mendengarkannya jadi ikut baper.

“Ust, sekarang anda sudah tahu maksud saya masuk ke dalam badan anak ini, tolong kedepannya anak ini diberi perhatian khusus, bimbing dan selalu di ingatkan” pinta Jin Musthofa. “Insyaallah, baiklah kalau begitu silahkan anda keluar dari tubuh santri putri”. Jawab kami.”Iya, Saya akan keluar, tapi tidak sekarang, badanku lemah dan sakit, akibat dari apa yang ust lakukan tadi, nanti tepat jam 00.00 Wib saya akan keluar” Jawab Jin Musthofa. “Baiklah, kami akan kembali kesini nanti malam” sahut kami mengakhiri dialog bersama musthofa sembari beranjak meninggalkan TKP.

Di tengah perjalanan pulang menuju Gubug, pikiran saya jadi penasaran tentang apa yang disampaikan Jin Musthofa,

  1. Benarkah Jin Musthofa yang mengku dirinya sebagai Pimpinan Majelis Zikir dari kalangan bangsa jin tersebut adalah Santrinya Kiai As’ad ?
  2. Benarkah yang disampaikan Jin Musthofa tentang seringnya santri ini melanggar dan malas di pondok ?
  3. Benarkah orang tua santri ini merasakan beratnya memenuhi kebutuhan dan keinginan anaknya di pondok serta istikamah bangun malam, hanya mendoakan putrinya supaya kerasan di pesantren ?

Untuk menjawab rasa penasaran tersebut, kamipun balik arah, kembali ke dalam komplek putri dan menemui ketua kamarnya sekaligus pengurus pesantren untuk meminta keterangan. Ternyata KLIK, Jawaban ketua kamar dan pngurus sesuai dengan apa yang di sampaikn Jin Musthofa. Setelah itu, kami balik ke Gubug.

Rasa Penasaran saya no 2 sudah terjawab, selanjutnya kami ingin mengetahui tentang kebenaran no 3,  bakda isya kamipun ke wartel, mencoba menghubungi pihak keluarga santri yang kerasukan. Berhubung org tuanya tidak punya Telepon, terpaksa kami menelpon ke nomer yang biasa dipakai oleh Keluarganya. Kami telepon dan menunggu beberapa saat, hingga akhirnya tersambung dengan orang tua santri, tidak banyak cerita dan langsung ke pokok pertanyaan. Maasya Allah… jawaban no 3 Ternyata sesuai dengana apa yang di sampaikan oleh Jin Musthofa.

Lalu bagaimana untuk mengetahui kebenaran no.1 ? Pikiran kami lalu berkata. “Satu-satunya yang membedakan jin kafir dan jin muslim adalah kejujurannya, jika jin kafir hampir selalu ingkar janji dan minta aneh-aneh kalau di ajak negoisasi, maka jin muslim mungkin akan menepati janji. Tadi jin Musthofa berjanji akan keluar tepat pada jam dini hari, kalau begitu kami harus tunggu hingga tengah malam nanti” pikir kami untuk menjawab rasa penasaran.

Tibalah saatnya pukul 23.30 Wib, kami bersama TIM PEMBURU BAROKAH alias Abdhi dalem, brsiap ke TKP memantau kondisi santri yang kerasukan tadi. Sekaligus ingin memastikan bahwa Jin Musthofa benar-benar keluar sesuai janjinya, yaitu jam 00.00 Wib.

Tidak lebih dari 15 menit kami berjalan, sampailah di TKP. Tak banyak basa-basi, kami langsung duduk di samping santri yang kerasukan itu. Kami hanya diam sambil mengamati Jin Musthofa yang sedang berzikir memutar tasbih. Karena jam sudah menunjukkan pukul 23.50 wib,  kami keluar sambil lalu berdiri di teras kamar, sambil terus berkata dalam hati “BENARKAH JIN INI SANTRINYA KIAI AS’AD? Kalo benar dia santrinya, Sungguh WALI ENGKAU KIAI, santrinya Saja Sanggup menembus jarak ruang dan waktu, sanggup mendengar doa dan mengetahui Kondisi wali santri yang jumlahnya Ribuan dan tersebar dihamparan bumi yang luas, apa lagi engkau” Gumam kami penuh takjub.

Tak terasa kami larut dalam merenung, setelah masuk kembali ke kamar TKP, si santri ternyata sudah sadarkan diri. Kami lihat Jam dinding menunjukkan pukul 00.05 Wib. “Waah TERNYATA JIN MUSTHOFA MENEPATI JANJINYA, Sayang tadi kami berada di luar”, Kata Kami dalam hati. Sampai disini saya mulai percaya bahwa dia adalah SANTRI KIAI AS’AD DARI KALANGAN BANGSA JIN. Wallahu A’lam Bisshowab

Mudah-mudahan kisah ini bermanfaat dan bisa menambah keyakinan kita semua, khususnya para santri dan alumni, Bahwa Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo merupakan Orang-orang shalih yang dekat kepada Allah. Kita harus bangga pernah belajar dan berguru di pondok yang penuh barakat ini. Teruslah bersambung dan jangan pernah lupa, setidaknya untuk berkirim Faatihah kepada para Almarhumain keluarga besar Ponpes Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo, karena sejatinya mereka semua sedang menyaksikan kita semua hingga detik ini.

Untuk Keluarga besar P2S3 Lahum Alfaatihah..

Shallu Alaa Nabi Muhammad

Penulis: Lukman Hakim

Editor: Admin Tanwirul Afkar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *