Tradisi Masyarakat Pesantren

Tradisi Masyarakat Pesantren

Adalah hal yang biasa saat saya pulang ke rumah Madura atau berkunjung ke pondok-pondok pesantren untuk ceramah atau lainnya saya melihat banyak tamu di beranda depan rumah kiai. Pemandangan seperti ini sangat lazim terutama pada awal tahun ajaran baru. Suatu pagi, saya tanya kepada adik saya yang mengasuh pondok kami di Sumenep Madura: “Kok banyak tamu, Dik? Ada acara apa?” Adik saya menjawab: “Ada sekitar 200 tamu, mengantarkan anak yang mau mondok.” Saya tanya lagi: “Yang mondok berapa orang?” Dijawabnya ada 4 orang.

Hal begini bukan hanya di Madura. Tradisi seperti ini biasa saja di setiap mayarakat pesantren. Yang mengantarkan anak ke pondok bukan hanya orang tua dan keluarga inti, para famili dan tetangganya juga ikut. Pertanyaannya adalah mengapa? Jawaban yang sering saya terima adalah: “mau menitipkan anak supaya mendapat ilmu manfaat dan barokah dunia akhirat.” Jawaban dari selain orang tuanya: “Ngampung — berharap dapat bias –keberkahan ilmu.”

Pada masyarakat pesantren seperti di atas, semenjak dipondokkan biasanya orang tua pasrah total kepada pengasuh. Apakah anaknya di suruh kumpul berpuluh orang dalam satu kamar kecil, pakah anaknya tidak kebagian tidur di kamar melainkan di masjid atau mushalla, apakah anaknya sering diminta bekerja atau apa saja, tak ada orang tua yang protes. Orang tua yang mengerti tradisi pesantren, dibesarkan dalam komunitas pesantren, pasti paham dan ikut tradisi ini. Orang tua kami yang memondokkan kami dan kami yang memondokkan kami juga melakukan hal yang sama. Demi keberkahan.

Tidak satu kalipun orang tua saya mengeluhkan pesantren tempat saya mondok. Saya bersama dengan teman sekitar 20an orang dalam 1 kamar yang sesungguhnya tak berukuran luas. Saya senang dan menikmati suasana pondok saya. Kami juga tidak satu kalipun protes kepada pengasuh pesantren tempat kami titipkan anak kami. Mengapa? Saya yakin pengasuh adalah manusia baik hati yang tulus ingin mengantarkan santrinya selamat dunia akhirat.

Nah, bagaimana menurut para pembaca tentang tradisi pesantren seperti ini? Perlu dilestarikan apa tidak? Kini, agak musim manusia yang menganggap pesantren bagaikan perusahaan yang mencari untung. Tak perlu sowan menitipkan anaknya ke pengasuhnya. Merasa cukup dengan membayar SPP dan uang makannya, yang kadangkala sering juga nunggak dan tidak bayar. Uang gedung gratis, beberapa hal ekstra lainnya lainnya gratis, tapi protes dan tuntutan ke pengasuh pondok rutin disampaikan setiap saat.

Bagi yang kurang bersyukur dan banyak protes sementara pondoknya sudah maksimal mempersembahkan yang terbaik yang bisa dilakukan, maka demi kebaikan bersama saya sarankan hal berikut: pertama adalah sowanlah ke pengasuh dan berkomunikasilah dengan baik dan langsung walaupun satu kali slama anaknya mondok. Tidak usah membawa bingkisan dan uang. Pengasuh tidak pernah berharap dan membutuhkan itu. Percayalah. Tak elok memondokkan anak tapi tak pernah bertemu dengan pengasuhnya; kedua, jika tidak berkenan dengan syarat pertama, pindahkan anaknya ke pondok lain yang lebih sesuai selera; ketiga, jika masih tidak cocok, buatlah pondok sendiri dan atur sendiri berdasarkan kemauan sendiri. Maka masalah protes serta ketidakpuasan diri pada pesantren anaknya selesai.

Mengajikan atau memondokkan anak itu ada beberapa etika yang harus diikuti: etika untuk para guru, etika para santri, dan etika untuk orang tua santri. Sudah pernah belajar ini? Kapan-kapan perlu dibaca lagi. Semoga ilmu anak, cucu dan keluarga kita barokah dan manfaat ya. Bismillaah. Salam, AIM

Penulis: KH. Ahmad Imam Mawardi (Pengasuh Pondok Pesantren Kota Alif Laam Miim Surabaya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *