Ekstrim “Koplaknya”, Pemotongan Video Makbarah Sukorejo

Ekstrim “Koplaknya”, Pemotongan Video Makbarah Sukorejo

Tanggal 10 September, tepatnya pagi hari sempat ramai dipelbagai platfrom mengenai video “jadul” milik teman saya yang berjudul Mafahim Antoshohhah “Tawassul”. Oleh oknum tertentu, video tersebut sengaja dipotong untuk membenarkan pendapat atau mungkin pendapatannya sendiri. Sebenarnya Video yang dibuat oleh salah satu alumni I’dad itu bertujuan untuk mengikuti even lomba, disamping meluruskan praktek berziarah dan tawassul yang “salah”. Sadisnya, videonya dipotong tanpa izin, yang ditampilkan hanya contoh berziarah dan tawassul yang salah. Tahu sendiri, kalau sudah seperti itu, apa yang akan terjadi ?, meresahkan warga, khususnya kalangan NU. Dari sini, biar tidak tuman, saya ingin mencoba menulis tentang status memotong atau mengurangi karya orang lain tanpa izin ?.

ولا تأكلوا أموالكم بينكم بالباطل

Dan jangan kalian memakan harta diantara kalian secara batil

Alhamdulillah, ayat di atas sudah jelas, namun tidak sejelas kelihatannya, karena Ulama sendiri masih berbeda pendapat mengenai tafsirnya. Walaupun perdepatan Ulama sangat alot, mereka tetap santai, tidak sampai merendahkan kemanusiaan lawannya, apalagi sampai mengafirkan dan menyirikkan. Ulama sejati paling anti kepada hal seperti itu. Oke kembali ke ayat, Abu Muhammad Abdul Hak, pengarang kitab al-Muharrar al-Wajiz fi Tafsir al-Qur’an mengatakan, masuk dalam kategori memakan harta secara batil adalah orang-orang penipu, lalim, memudaratkan, pejudi dan lain sebagainya. Berdasarkan analisis ini, menjadi jelas berbuat batil-merusak harta dan sebagainya-terhadap harta orang lain adalah haram.

Pertanyaan selanjutnya, apakah sebuah karya termasuk dalam kategori harta sehingga jika mengambil, mengepost bahkan mengurangi atau memotongnya tanpa izin dihukumi haram pula. Menurut Mustaha al-Zarqa’ dan kalangan hanafiyah lainnya sebagaimana pula disitir oleh Mashuda Abdurrahman di dalam kitab al-Fikhu al-Islami fi Tsabihi al-Jadid, mendefdinisikan harta adalah semua wujud materi yang bernilai dan beredar dikalangan masyarakat. Olehkarenanya, berdasarkan pandangan Ulama Mazhab Hanafiyah, manfaat suatu benda dan hak sebuah benda tidak termasuk harta, karena berupa immateri.

Adapun jumhur Ulama di dalam kitab Fikhul al-Islam mendifinisikan harta adalah semua hal yang bernilai dan siapapun yang merusaknya wajib mengganti. Berangkat dari definisi ini, maka makna harta menjadi luas, tidak hanya tertentu kepada hal yang bersifat materi, tapi juga mencakup kepada sesuatu yang bersifat immateri, seperti merk, karya tulis, dan video. Sebab yang menjadi tolok ukur adalah nilai bukan wujud materi. Setelah melaui proses tarjih, Wahbah Zuhaili mengatakan, dari dua pendapat tersebut yang dinilai benar (shohih) adalah pendapatnya jumhur Ulama.

Dengan demikian, berpijak kepada pendapat jumhur, setiap plagiat ataupun pemotongan dan mengurangi sebuah karya tulis ilmiah, merk, dan video milik orang lain tanpa izin, maka hukumnya haram dan masuk dalam status pencurian, bila dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Apabila dilakukan secara terang-terangan, maka disebut sebagai perampokan. Oke, sampai sini paham. Semoga paham biar tidak lagi meresahkan masyarakat. Ingat tulisan ini berdasarkan sudut pandang islam.

Terkahir, saya sengaja tidak membahas konten videonya yang membahas ziarah kubur dan tawasul karena sudah bertebaran, bisa cari sendiri atau langsung saja baca kitabnya Sayyid Alawi, Mafahim Yajibu An Tusohhah. Itupun kalau bisa baca, eits, tapi tenang kitab itu sudah ada terjemahannya.

Penulis: Admin Tanwirul Afkar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *