Fikih Cinta Ala Rasulullah ﷺ

Fikih Cinta Ala Rasulullah ﷺ

Romantisme Sang Rasul

Agaknya, romantisme telah menjadi bagian dari perikehidupan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sehingga nyaris tak ada sesuatu pun yang bisa mengusiknya. Bahkan pada saat istri beliau sedang haid pun beliau tetap lembut, romantis dan bergaul secara normal dengannya. Ummul Mukminin Aisyah menuturkan sebagaimana diriwayatkan al-Bukhari:

… وكان يَأمُرني فَأتَّزِر، فيباشرني وأنا حائض

“… dan ketika aku sedang haid, beliau sering menyuruhku memakai ‘sewek’, lalu beliau menggauliku…”

Senada dengan ini penuturan Ummul Mukminin Maimunah radhiyallahu anha dalam riwayat al-Bukhari:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أراد أن يُباشِر امرأةً من نسائه أمَرها فاتَّزَرت وهي حائض

“Bila Rasulullah shallallahu alaihi wasallam hendak menggauli salah seorang istrinya saat sedang haid, beliau suruh dia memakai sewek, lalu beliau menggaulinya.”

“Menggauli” di sini yang dimaksudkan bukanlah bersetubuh, tetapi bersenang-senang (istimta’) dengan bagian yang mana saja dari tubuh istri beliau kecuali yang ada di antara pusar dan lutut. Ini dapat dipahami dari dua kata dalam redaksi hadits tersebut, pertama, kata ‘ittizar’ (memakai sewek) dan, kedua, kata ‘mubasyarah’ yang berarti kulit bertemuan kulit. Ittizar dimaksudkan agar tidak terjadi persetubuhan, sedang mubasyarah untuk lebih menegaskan bahwa yang terjadi hanyalah kulit bertemu kulit. Al-Hafidh Ibn Hajar menulis dalam Fath al-Bari syarh Sahih al-Bukhari:

المراد بالمباشرة هنا التقاء البشرتين، لا الجماع

“Yang dimaksudkan dengan mubasyarah di sini adalah bertemunya kulit dengan kulit, bukan bersetubuh.

Dengan demikian tidaklah tepat mempertentangkan hadits di atas dengan ayat berikut yang melarang persetubuhan pada saat haid

وَیَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلۡمَحِیضِۖ، قُلۡ هُوَ أَذࣰى فَٱعۡتَزِلُوا۟ ٱلنِّسَاۤءَ فِی ٱلۡمَحِیضِ، وَلَا تَقۡرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ یَطۡهُرۡنَۖ [البقرة: ٢٢٢]

“Dan orang-orang bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, haid itu darah penyakit, maka hindarilah perempuan saat haid dan jangan dekati mereka sampai mereka suci,” (QS. Al-Baqarah: 222).

Sebab, baik kata ‘mahidh’ itu dipahami sebagai isim zaman, yakni zamannya haid, atau pun isim makan, yakni tempatnya haid yang tak lain adalah kemaluan itu sendiri, apa yang dilarang oleh ayat ini adalah persetubuhan (jimak). Sedang yang dilakukan Rasulullah dalam penuturan hadits ini hanyalah kulit bertemu kulit (mubasyarah) saja. Ini sejalan dengan hadits riwayat Anas ibn Malik radhiyallahu anhu dalam Muslim:

إصنَعُوا كُلَّ شيء إلَّا النكاح

“Lakukan apa saja (terhadap istri yang sedang haid) kecuali nikah.”

Nikah di sini maksudnya persetubuhan.

Bolehnya mubasyarah pada saat haid ini mengandung sekurang-kurangnya dua hikmah, pertama, menyelisihi kaum Yahudi di mana perempuan haid dalam tradisi mereka diisolasi sepenuhnya dari pergaulan keluarganya dan, kedua, terus menerus bermu’asyarah bilma’ruf terhadap istri kapan pun dan dalam keadaan apa pun, dan ini sangat signifikan membangun harmonitas dalam rumah tangga, wallahu a’lam

Penulis: KH. Zainul Mu’in Husni (Masyayih Ma’had Aly Situbondo Sekaligus pengasuh ponpes an-Nadwah Besuki)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *