Islam; Tersangka Kejahatan Harus Dilindungi

Islam; Tersangka Kejahatan Harus Dilindungi

Selama ini kita sudah sering mendengarkan istilah “jangan main hakim sendiri”. Biasanya hal itu muncul saat ada momen di mana seorang pelaku kejahatan (kriminal) tertangkap tangan oleh warga dan mereka ingin segera menghukum atas kejahatan yang telah dia perbuat.  Mereka biasanya cenderung ingin menindak keras setiap pelaku kriminal yang berhasil tertangkap dengan sesuka hati sampai mereka puas. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya Negeri sebesar Indonesia ini jika perbuatan semacam itu dilegalkan. Maka beruntunglah kita yang hidup di atas bumi NKRI  yang sudah dilengkapi dengan perangkat hukum beserta aparat penegak hukum yang bertugas menjaga stabilitas negara dan memberikan keamanan bagi setiap warganya.

Lalu Bagaimana jika yang melakukan tindakan seperti itu adalah “Hakim” ( aparat penegak hukum) itu sendiri? Karena dalam beberapa kasus, apa yang dilakukan oleh pihak kepolisian saat pemeriksaan nampak tidak jauh berbeda dengan tindakan yang dilakukan oleh warga sebagaimana telah digambarkan tadi. Meskipun hal  tersebut  tidak bisa digeneralisasi, namun setidaknya dalam beberapa kasus tindakan semacam ini memang terjadi. Disadari atau tidak, cara-cara kekerasan yang dilakukan oleh beberapa oknum aparat penegak hukum untuk memaksa pelaku mengakui tindakan kriminalnya, nampak tidak berbeda dengan apa  yang dilakukan oleh warga. Mungkin perbedaannya hanya terletak pada posisi warga yang yang bukan pihak berwewenang sedangkan aparat kepolisian merupakan pihak yang berwewenang atas pelaku kriminal.

Dalam Islam, kita diajarkan untuk taslim dan patuh kepada Ulil Amri, dalam hal ini adalah pemerintah yang sah, selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai syari’at. Termasuk di dalam hal penegakan hukum, kita harus menyerahkannya kepada pihak Kepolisian beserta pihak terkait lainnya, tidak bisa kita sebagai warga “main hakim sendiri”.

Allah Swt. Berfirman dalam surat An-Nisa’ ayat 59:

ياايّها الّذين آمنوا اطيعوا الله واطيعوا الرسول واولى الأمر منكم … (النساء : ٥٩)

” Wahai orang-orang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Ulil Amri di antara kalian.. ” (QS.. An-Nisa: 59)

Lalu apakah tindakan intimidasi atau bahkan kekerasan yang tidak boleh dilakukan oleh warga terhadap perilaku kriminal menjadi boleh dilakukan oleh aparat kepolisian sebagai pihak yang memiliki wewenang untuk mengurusi para perilaku kriminal? menarik untuk kita  cermati bagaimana fiqih menyikapi permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan kiprah para abdi negara tersebut. selamat membaca!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *