Menilik Eksploitasi Tubuh Perempuan dalam Iklan Komersial

Menilik Eksploitasi Tubuh Perempuan dalam Iklan Komersial

مُهَفْهَفَةٌ بَيْضَاءُ غَيْرُ مُفَاضَةٍ # تَرَائبُهَا مَصْقُوْلَةٌ كَالسَّجَنْجَلِ

تَصُدُّ وَتُبْدِيْ عَنْ أَسِيلٍ وَتَتَّقِي # بِنَاظِرَةٍ من وَحشِ وَجْرَةَ مُطَفِلِ

وجِيدٍ كجِيدِ الرّئْمِ لَيْسَ بِفَاحِشٍ # إِذَا هِيَ نَصَّتْهُ وَلَا بِمُعَطَّلِ

 

Langsing, putih, ramping; Dadanya berkilau bagai cermin;

Ia berpaling, menampakkan pipinya yang ranum; dan ia jauhkan pandangannya dari buasnya ‘mata sapi’ )lakilaki);

Lehernya bagaikan leher kijang yang putih tanpa noda, saat ia biarkan terbuka dengan perhiasan yang menghiasinya.

[Umru al-Qais]

***

Sungguh aduhainya tubuh perempuan di mata laki-laki. Begitulah gambaran Umru al-Qais dalam syair al-mu’allaqat-nya tentang sosok perempuan. Tak lagi dapat disangsikan bahwa sejak dahulu sosok perempuan kerap dinilai dari aspek fisik, tubuh, dan rupa luarnya. Secara lahir, tubuh perempuan memang memiliki keindahan yang menarik dibandingkan kaum laki-laki. Sungguh tidak dapat ditampik, bahwa tubuh perempuan memiki pesona dan daya tarik nan memikat hati.

Rupanya pandangan patriarkis pemuka Jahiliyah seperti al-Qais tersebut masih mengakar kuat sampai sekarang. Pandangan ‘picik’ demikian jamak ditemui dalam ruang-ruang kita saat ini, semisal ‘pemanfaatan’ tubuh perempuan untuk pemuasan hasrat seksual, model fashion show, dan tanpa terkecuali pula sebagai alat komersialisasi produk. Eksploitasi tubuh perempuan sebagai model iklan komersial adalah sebentuk nyata bahwa tubuh perempuan begitu menjual di pasaran.

Nah, tampaknya pertemuan antara logika patriarkis dan logika kapital melahirkan jalan pintas untuk meraup keuntungan, dengan cara memanfaatkan tubuh elok perempuan. Dan parahnya, perempuanlah yang justru mendapat imbas dan sebagai korban kebejatan logika tersebut. Sehingga perempuan acap diekspos dengan tubuhnya yang seksi dan rupa cantik dalam realitas periklanan. Sehubungan dengan ini, Ashadi Siregar (seorang penulis novel populer) berkomentar, bahwa dalam iklan komersial, hegemoni laki-laki begitu kuat yang dengan otomatis ihwal ini akan menyebabkan perempuan sebagai objek dengan mengeksploitasi keindahan biologisnya.

Ironisnya, banyak perempuan yang tidak menyadari bahwa periklanan adalah realitas yang bias gender. Sebab, perempuan diposisikan sebagai objek oleh perusahaaan dengan penampakan bagian erotis tubuhnya guna menarik minat publik agar membeli produk yang ditawarkan. Ini merupakan bentuk kekerasan simbolik kepada perempuan. Namun, anehnya seantero kaum hawa malah bersikap permisif dan welcome dengan fenomena eksploitasi semacam ini, bahkan tidak sedikit perempuan yang senang dan berbangga diri manakala  terpilih menjadi model kecantikan.

selengkapnya, miliki Majalah Tanwirul Afkar Edisi 548

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *