Pola Pikir Keliru Wariskan Laku Tak Bijak

Pola Pikir Keliru Wariskan Laku Tak Bijak

Alkisah, hiduplah seorang lelaki paruh baya, menapaki hari bagai sang surya, walaupun ia hidup sebatang kara, namun semangat kerja, banting tulang mencari nafkah sekuat baja, tanpa ada kata “libur” dalam kamusnya, tak ubahnya bagai sang surya setiap harinya, semangat mengeluarkan energi sinarnya tanpa harus memikirkan untuk siapa sinar sebanyak itu. Di sebuah gubuk kecil di kaki gunung selatan, kira-kira sekitar lima hingga enam rumah yang bertetangga dengan si lelaki paruh baya. Mata pencaharian mereka hanyalah bercocok tanam, seperti padi, jagung, kacang, kedelai dan tanaman-tanaman lain, tergantung musim tiap tahunnya. Berbeda dengan si lelaki paruh baya, ia tak hanya mengurusi tumbuh-tumbuhan bumi seagaimana yang lain, namun ia juga aktif naik-turun gunung, keluar-masuk hutan mencari kayu bakar.

Pada suatu hari, selepas menyambangi ladang, sebagaimana biasa, ia berangkat mencari kayu bakar, menyusuri kedalaman hutan rimba, sehingga sampailah ia pada suatu lembah yang cukup dalam dan sempit, bagian pinggirnya dipenuhi bebatuan licin berlumut. Dilihat dari permukaan, posisi lembah tersebut menjurang curam. Tak di sangka ia akan sampai di tempat itu. Tampak di bibir lembah, lelaki paruh baya itu berdiri tegak gelengkan kepala, “lembah mematikan, sungguh tempat berbahaya!” gumamnya dalam hati. Tak lama berselang waktu dari gumamnya, ia pun mendengar suara dengungan sesuatu yang menggema lantang yang jatuh ke air dan langsung disusul semacam suara raungan harimau. Ternyata benar, yang jatuh ke air adalah seekor harimau. Tampanya nasib buruk sedang menimpanya. Melihat keadaan harimau yang begitu menyedihkan, lelaki itupun berniat menyelamatkan harimau dari bahaya. Lirik kiri kanan, pontang panting mencari cara bagaimana bisa menolong harimau malang itu. Dan ternyata ia pun dapatkan jawabanya, di tepi lembah terdapat pohon ara besar, tanpa pikir panjang lelaki penolong itupun langsung ambil tindakan. Ia cabut parang yang ia selipkan di punggungnya. Berjalan tergesa-gesa menghampiri pohon, dan kemudian berusaha menebangnya. Sedikit demi sedikit, akhirnya ara itupun tumbang dan lalu jatuh ke arah lembah. Melihat ada pohon besar jatuh menghempas permukaan air, harimau itupun langsung menyambarnya. Kemudian perlahan ia berusaha meniti batang ara yang terbentang, sampai kemudian terdengar “alhamdulilah.. akhirnya berhasil.” Gumam lelaki itu seraya menghela nafas.

Keluar dari satu masalah, ternyata bukan malah menenangkan, malainkan membuka kekhawatiran baru. Sungguh di luar dugaan, ia tak menyangka ternyata dibalik keberhasilan aksi penyelamatan tadi, ada jiwa yang terancam. Sekali lagi, yang ia selamatkan bukanlah kucing, tapi jenis binatang buas bernama harimau, yang saat itu _kira-kira berjarak lima meter dari tempat ia terpaku_tampak sedang mengibaskan sisa-sisa air di bagian kepala dan badannya. Sesaat kemudian, lelaki itu kembali di kagetakan dengan suara auman harimau yang mengarah ke arahnya, lelaki itu makin gemetar, tak sadar tiba-tiba ia berlutut. Sungguh tiada kuasa lagi tuk berlari. Situasi hening sejenak, kemudian terdengar suara aneh menerobos semak-semak, ternyata lelaki itu baru sadar, auman harimau yang sangat menakutkan tadi ternyata menyelamatkannya dari bahaya ular piton yang bermaksud menyakitinya.

Singkat cerita, sepanjang perjalanan pulangnya, ia didampingi sang harimau sampai di depan rumahnya. Ternyata, keesokan paginya, sang panglima rimba masih berada di sekitar rumah si paruh baya, monster hutan itu tidak hanya mengantarkan ia pulang, melainkan juga menjaga rumah the hero semalam suntuk. Kehidupan berjalan stabil, si lelaki sudah menganggap monster itu sebagai sahabatnya. Harimau itu pun merasa berhutang nyawa pada si paruh baya.

Sebenarnya keberadaan harimau itu tidak sampai mengusik ketenangan dan ketentraman penduduk gubuk, namun seiring berjalannya waktu, hari demi hari penduduk mulai merasa resah. Bukan karena mereka merasa terganggu, melainkan karena mereka meresahkan si lelaki tua. Mereka melihat tindakannya semakin hari makin berbeda. Lelaki itu sudah tak lagi punya waktu bersama para tetangga. Ia selalu sibuk dengan si monster hutan. Yang mereka khawatirkan adalah akan terjadi bahaya yang lebih besar dari kebersamaan mereka. Memang tidak di pungkiri bahwa keberadaan si harimau sebagai penjaga bagi si paruh baya dari berbagai macam bahaya lebih-lebih binatang buas yang ingin mencelakainya. Tapi mau tidak mau, makhluk yang selalu ia gandeng itu bukan kambing, itu juga binatang buas, itu monster. Lebih-lebih yang menjadi pertimbangan kekhawatiran penduduk adalah bahwa yang namanya binatang tidak sesempurna manusia yang memiliki akal. Binatang hanya bisa mendeteksi dengan insting, dan insting tentu tidak seakurat akal dalam menentukan mana yang lebih baik dan mana yang lebih buruk.

Akhirnya, mereka-pun sepakat untuk mengajukan usul pada si lelaki paruh baya itu. Dengan besar harap lelaki paruh baya bisa menerima usulnya. Pada suatu kesempatan, mereka mendatangi kediaman lelaki itu, kedatanganya disambut hangat. Satu diantara mereka mengutarakan maksud kedatangannya.

“Wahai saudara, maksud kedatangan kami kemari hanyalah memberikan peringatan berdasarkan kehawatiran yang kami rasakan, bahwa mungkin sebaiknya saudara menjauh saja dari kehidupan monster itu. Ketahuilah! Terlalu sering bermain senjata tajam, suatu saat pasti akan terluka, walau senjata tajam tak pernah bermaksud melukainya.” Nasehat senior bertutur santun nan bijak. “wahai senior, kami sangat berterima kasih atas nasehatnya, tapi kalian harus ketahui bahwa kesan dari para pengamat/komentator tentu tak sama dengan yang menjalani realita. Tolong jangan urusi kehidupan saya, saya lebih tau mana yang terbaik, dan tentu kalian tak tau kronologi kenapa kami bisa saling menjaga.” Jawab lelaki itu menanggapi dengan tanggapan yang tak kalah bijak. Akhirnya, karena merasa usul mereka di tolak mentah-mentah, mereka pun pergi meninggalkan si paruh baya dengan pendiriannya.

Hingga sampailah pada suatu hari dimana lelaki itu menjalani aktifitas kesehariannya, mencari kayu bakar. Ia selalu ditemani sahabatnya, sekaligus sebagai bodyguard-nya. Singkat cerita, ketika ia beristirahat hilangkan letih, beriring waktu mengikuti alunan angin, ia pun tertidur pulas, sang bodyguard fokus dan selalu siaga menjaga tuannya. Intinya, tidak boleh ada yang mengganggu tidur tuannya. Tak ada satupun makhluk hutan mengusik tidurnya kecuali beberapa ekor lalat terbang diatas mukanya dan terkadang hinggap. Harimau itu terus berusaha menjauhkan lalat-lalat itu dari tuannya, namun tetap saja mereka kembali lagi. Sang harimau jengkel, dan akhirnya memutuskan untuk membunuh mereka apa pun yang terjadi demi tidak terganggunya tidur sang tuan. Tepat saat ada lalat yang hinggap di muka sang tuan, harimau pun langsung menerkam lalat tersebut tanpa ampun, tanpa ia sadari ternyata tindakannya itu mencelakai tuannya sendiri. Lelaki paruh baya itupun tewas dengan tragis di tikam sang monster hutan sahabatnya.

“pola pikir keliru; saya lebih tau mana yang terbaik untuk saya lakukan, jangan ikut campur.! Ini hidup saya.!”

Tanwirul Afkar Edisi 541

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *