Janji Allah Kepada Muslim Di Bulan Safar

Janji Allah Kepada Muslim Di Bulan Safar

Sejarah Perang Khaibar yang Terjadi pada Bulan Safar. Perang Khaibar terjadi pada penghujung bulan Safar pada tahun ke-7 Hijriah. Pertempuran ini disebabkan oleh kaum Yahudi Khaibar yang sering sekali melakukan tindakan licik mengadu domba kaum Muslimin. Bahkan, kaum Yahudi yang memliki pasukan 10.000 orang dengan senjata lengkap dan benteng yang sangat kuat bertingkah seolah menantang kaum Muslimin.

Dendam lama terhadap kaum Muslimin memang telah memuncak; mulai dari ditaklukkannya Bani Qainuqa, Bani Nadhir, Bani Quraidzah dan sejumlah tokoh mereka yang telah gugur di medan perang melawan kaum Muslimin.
Pada bulan Safar tahun ke-7 Rasulullah bersama 1400 sahabat yang ikut di Hudaibiyah berangkat menuju Khaibar. Mereka semua percaya akan janji kemenangan dari-nya dan perintah untuk memerangi Yahudi di Khaibar. Ayat ini disebutkan dalam surat al-Fath yang turun semasa Hudaibiyah.

Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil, maka disegerakan-Nya harta rampasan ini untukmu dan Dia menahan tangan manusia dari (membinasakan) mu (agar kamu mensyukuri-Nya) dan agar hal itu menjadi bukti bagi orang-orang mukmin dan agar Dia menunjuki kamu kepada jalan yang lurus. Surat al-Fath: ayat 20.

Ahli tafsir menjelaskan bahwa Allah menjanjikan harta rampasan perang (ghanimah) yang banyak kepada kaum Muslimin sebagai pendahuluannya adalah harta rampasan yang mereka peroleh pada perang Khaibar itu. Orang-orang Badui dan orang Munafik ketika mereka mengetahui bahwa para sahabat akan menang dan mendapat rampasan perang, maka mereka bergegas untuk ikut andil dalam peperangan tersebut supaya mereka mendapat bagian dari Ghanimah maka Allah berfirman: Orang-orang Badui yang tinggal itu akan berkata apabila kamu berangkat untuk mengambil barang rampasan, “Biarkan kami, niscaya kami mengikuti kamu.’ Mereka hendak mengubah janji Allah. Katakanlah, ‘Kamu sekali-kali tidak (boleh) mengikuti kami; demikian Allah telah menetapkan sebelumnya.’ Mereka mengatakan, ‘Sebenarnya kamu dengki kepada kami.’ Bahkan mereka tidak mengerti melainkan sedikit sekali. Surat Al-Fath: ayat 15.

Demikian itu karena Allah hanya mengkhususkan rampasan perang Khaibar sebagai balasan jihad, kesabaran, keikhlasan para sahabat yang ikut di hudaibiyah saja. Pasukan kaum Muslimin berjalan menuju Khaibar dengan semangat keimanan membaja meski mereka mengetahui betapa kokohnya benteng kaum Yahudi bani Khaibar, ketangguhan serta kelengkapan peralatan perang mereka. Kaum Muslimin terus mengumandangkan kalimat takbir dan tahlil dengan suara keras, sehingga nabi Muhammad mengingatkan mereka dengan bersabda:

إٍنّكُمْ تَدْعُوْنَ سَمِيْعاً قَرِيْباً وَهُوَ مَعَكُمْ

sesungguhnya kalian berdoa kepada dzat yang maha mendengar lagi maha dekat, dan sesungguhnya Dia selalu bersama kalian.

Kaum Muslimin telah memasuki wilayah Khaibar menjelang terbitnya fajar. Setelah mereka menunaikan shalat subuh, penyerangan dilakukan sebelum matahari terbit. Kejadian di pagi itu tentu sangat mengejutkan penduduk Khaibar yang baru memulai aktifitas mereka. Mereka berlarian seraya berkata, “Muhammad dan prajuritnya.” Rasulullah pun bersabda:

اللهُ أَكْبَرُ، خَرَبَتْ خَيْبَرُ، إِنَّا إِذّا نَزَلْنَا بِسَاحَةِ قَوْمٍ فَسَاءَ صَبَاحُ الْمُنْذِرِيْنَ

Allahhu akbar, binasalah Khaibar. Sesungguhnya jika kami datang ketempat musuh maka hancurlah kaum tersebut.
Orang-orang kaum Yahudi berlarian kocar-kacir dan berlindung di balik benteng-benteng mereka, kemudian kaum Muslimin mengepung mereka. Pada saat itu Bani Ghatfan berusaha menolong bani Khaibar selaku sekutu mereka. Namun ketika setiap kali mereka bergerak, mereka selalu di hantui rasa was-was khawatir kaum Muslimin berbalik arah menyerang mereka sehingga harta dan keluarga mereka terancam. Pada akhirnya mereka mengurungkan niatnya untuk membantu. Sementara, kaum Muslimin perlahan mulai berhasil menaklukkan benteng-benteng kaum Yahudi Khaibar.

Benteng pertama yang berhasil ditaklukan adalah benteng na’im daerah nathat, benteng berada di bagian sebelah timur laut Khaibar. Tidak mudah bagi kaum Muslimin untuk menaklukan benteng ini, mereka membutuhkan waktu sepuluh hari untuk meraih kemenangan. Kaum Muslimin mendapatkan perlawanan yang sengit sehingga mereka harus kehilangan salah seorang sahabat nabi yang bernama Mahmud bin Maslamah al-Anshari yang gugur sebagai syuhada’.

Benteng kedua yang berhasil kaum Muslimin taklukkan adalah benteng As-Sha’b dan Qal’ah Zubair, benteng ini juga terletak di bagian timur laut Khaibar. Benteng As-Sha’b dihuni oleh 500 personil pasukan perang. Untuk menaklukkan benteng ini, kaum Muslimin membutuhkan waktu tiga hari. Kemudian setelah itu kaum Muslimin bergerak untuk menyerang ke Qal’ah Zubair. Benteng ini menjadi sarang bagi kaum Yahudi yang melarikan diri dari benteng Na’im dan As-Sha’b. kaum Muslimin mengepung benteng tersebut dan memutus saluran air yang memasok kebutuhan bagi mereka. Kondisi ini mendesak agar mau tidak mau mereka harus turun ke medan perang dan berperang. Setelah tiga hari benteng ini berhasil takluk di tangan kaum Muslimin. Dengan runtuhnya benteng ini, maka berakhir juga kekuasaan kaum Yahudi di daerah Natthah yang selalu berada di garda terdepan dalam memusuhi kaum Muslimin.

Benteng ketiga. Setelah kaum Muslimin berhasil menumpas kaum Yahudi di daerah Natthah, mereka melanjutkan bergerak untuk melakukan penyerangan ke daerah As-Syiq. Benteng Ubay di daerah ini menjadi sasaran utama. Kaum Muslimin menggempur tembok benteng ini, dan mereka tidak sanggup menahan gempuran kaum Muslimin. Benteng ini berhasil dikuasai dan sebagian penduduknya melarikan ke benteng Nazar. Mengetaui hal ini kaum Muslimin bergerak cepat untuk melakakukan penyerangan ke benteng Nazar. Tidak butuh waktu yang lama benteng ini berhasil di kuasai oleh kaum Muslimin. Akhirnya, penduduk Yahudi yang tersisa melarikan diri ke benteng terakhir yaitu benteng al-Qamus yang sangat kokoh dan benteng al-Wathih dan benteng as-Sulaim. Pengepungan terjadi selama 14 hari dan akhirnya kaum Yahudi meminta damai. Dan peretempuran ini menelan 93 korban dari pihak kaum Yahudi dan dari pihak kaum Muslimin 20 korban.

Sumber sejarah ini kami sarikan dari kitab Al-Sirah Nabawiyah al-Tarikh Ibnu Hisyam karya Abu Muhammad ‘Abdul Malik bin Hisyam. 834 h. dan kitab Al-Sirah Nabawiyah al-Maghazi karya Abu ‘Abdullah Muhammad ibn ‘Omar ibn Waqid al-Aslami. 823 h.

Penulis, Abqariyyul Afifi (Mahasantri Ma’had Aly Situbondo Strata Dua)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *