Santri

IBN ‘ARABI DAN SEJUTA PETUALANGNANYA

فَكَانَ مَا كَانَ مِمَّا لَسْتُ أَذْكُرُهْ # فَظُنَّ خَيْرًا وَ لَا تَسْئَلْ عَنِ الْخَبَرْ

“Biarlah sesuatu yang tidak ku ceritakan berlalu

# Berbaik sangkalah dan tidak perlu menyelidik”

[Ibn al Mu’taz]

Kelahiran

Lahir tepatnya pada malam senin 17 Ramadhan 560 H atau 28 Juli 1165 M dengan nama lengkap Muhammad bin Ali bin Muhammad al ‘Arabi al Tha’i al Hatimi, menjadi satu-satunya anak lelaki yang dimiliki dalam keluarganya, pasalnya ia memiliki 2 saudara yang semuanya wanita. Lahir pada masa kekuasaan Sultan Abi Abdillah Muhammad bin Saad bin Mardanisyi di Mursia-Spayol, sebagai anak dari seorang tentara yang setia pada sultannya. Namun, setelah Sultan al Mardanisyi wafat, ayah Ibn ‘Arabi tampak lebih memilih setia terhadap Sultan al Muwahhidy (Sevilla) yang bernama Ya’qub bin Yusuf dan semenjak itulah seluruh keluarga Ibn ‘Arabi berpindah ke Sevilla. Pada saat itu Sevilla merupakan kota yang menjadi pusat ilmu pengetahuan bak ibarat gabungan antara kota London, New York dan Paris, pasalnya pada saat itu pemerintah Sevilla memilih untuk mengembangkan beberapa pembangunan sisa-sisa peninggalan Romawi. Dengan demikian, Ibn ‘Arabi tumbuh di lingkungan yang menjadi pusat ilmu pengetahuan, agama dan filsafat yang nantinya menopang ia menjadi seorang cendikiawan muslim yang penuh dengan pemikiran unik lagi menarik. Akrab dengan julukan Ibn ‘Arabi untuk membedakannya dengan seorang kadi terkenal di Andalusia bernama Abu Bakr Muhammad Ibn ’Arabi.

Perjalanan Hidup

Selama menetap di Sevilla, Ibn Arabi muda sering melakukan perjalan ilmiah untuk menemui para tokoh-tokoh terutama di daerah Spayol dan Afrika Utara. Perjalanan yang baginya sangat berkesan adalah ketika bertemu dengan seorang tokoh terkenal bernama Ibn Rusyd. Seorang filsuf besar Kordoba yang sangat diyakini memiliki wawasan yang luas, seorang filsuf yang memperkenalkan kembali pemikiran serta karya-karya Aristoteles. Tidak hanya berjumpa dengan Ibn Rusyd, diskusi antara keduanya pun tak terelakkan. Mulai dari pembahasan filsafat murni, kaitan filsafat dengan mistis hingga tentang konsep wahdatul wujud dalam tasawwuf.

Pada usia relatif muda, mungkin 16 tahun. Dia menjalani pengasingan diri (khalwat). Menurut kisah yang ditulis lebih dari 150 tahun setelah wafatnya, diceritakan bahwa Ibnu ’Arabi suatu ketika ikut pesta makan-makan bersama teman-temannya dan sebagaimana kebiasaan di Andalusia, setelah hidangan daging lalu disajikan anggur. Saat dia hendak mulai minum segelas anggur, tiba-tiba dia mendengar seruan, “Wahai Muhammad, bukan untuk ini engkau diciptakan!” Karena ketakutan mendengar suara yang tegas ini, dia lari ke sebuah pemakaman di luar kota Sevilla. Disana ia menjumpai reruntuhan yang mirip sebuah gua. Selama empat hari ia tetap tinggal disana sendirian melakukan khalwat, melakukan zikir dan hanya keluar saat shalat. Bahkan, diceritakan setelah Ibn ‘Arabi keluar dari gua tersebut ia mendapatkan seluruh ilmu. Sebagaimana yang ada dalam kitab Manaqib Ibn ‘Arabi, dikisahkan bahwa Ibn ‘Arabi mengatakan,

فَأَقَمْتُ بِتِلْكَ الْجَبَانَةِ أَرْبَعَةَ أَيَّامٍ وَ خَرَجْتُ بَعْدَهَا بِهَذِهِ الْعُلُوْمِ كُلِّهَا

“Aku berdiam di lubang kuburan itu selama empat hari dan aku keluar setelahnya memiliki seluruh ilmu ini”

Ibnu’Arabi tampaknya ditakdirkan untuk mengikuti jejak ayahnya: Ia bertugas dalam pasukan tentara Sultan Al Muwahiddin selama beberapa waktu, dan dijanjikan kedudukan sebagai asisten untuk gubernur Sevilla. Namun, setelah pertemuannya dengan Ibnu Rusyd dan mengalami pencerahan spiritual, pada tahun 580 H (1184), Ibnu’Arabi mengundurkan diri dari ketentaraan dan segala urusan duniawi yang dimilikinya. Peristiwa terakhir yang memberinya keputusan bulat adalah saat ia dan panglima Al Muwahidin bersama-sama mengerjakan shalat di Masjid Agung Kordova.

Ketika ayahnya meninggal dunia, lalu disusul ibunya beberapa bulan kemudian, Ibnu’Arabi menerima kenyataan bahwa ia harus merawat kedua saudara perempuannya, sehingga ia harus meninggalkan kehidupan spiritualnya. Desakan duniawi juga muncul, ketika terjadi ketegangan politik antara Al Muwahidin di Sevilla dan Raja Alfonso VIII dari Castile. Ibnu ’Arabi mendapat tawaran pekerjaan dalam pasukan pengawal sultan. Namun, Ibnu ’Arabi menolak tawaran itu. Kemudian ia meninggalkan Sevilla, membawa kedua saudara perempuannya menuju Fez dan tinggal disana untuk beberapa tahun. Setelah kedua adiknya mendapatkan suami, tanggung jawab duniawinya selesai dan ia kembali mencurahkan diri pada jalan spiritual.

Fez tampaknya menandai periode kebahagian yang luar biasa dalam kehidupannya, dimana dia bisa mengabdikan dirinya secara penuh kepada kegiatan spiritual dan bergaul dengan orang-orang yang sepaham dan memiliki aspirasi yang sama. Ibnu’Arabi kembali ke semenanjung Liberia untuk terakhir kalinya pada tahun 1198. Di bulan Desember tahun itu ia berada di Kordova saat pemakaman Ibnu Rusyd. Kemudian dari Kordova, bersama sahabat dekatnya Al Habasyi mereka menuju ke Granada. Dari Granada mereka menuju Murcia, setelah dua tahun berada di negri kelahirannya ini, mereka pergi ke Marakesy. Pada awal 1201 (597) dari kota ini mereka menuju Bugia lagi, setelah itu berkelana ke Tripoli, Tunisia, Mesir dan kemudian menuju Makkah.

Di akhir perjalanan panjangnya dari barat, Ibnu’Arabi akhirnya tiba di Makkah pada pertengahan 1202. Di kota ini namanya mencuat, para tokoh dan ilmuwanpun sering menemuinya. Diantara mereka adalah Abu Syuja’ al Imam al Muwakkil yang mempunyai seorang putri cantik dan cerdas bernama Nizam. Gadis ini memunculkan inspirasi pada diri Ibnu’Arabi sehingga lahirlah karyanya Turjumān al Asywāq. Menurut Ibnu ’Arabi dalam mukadimah karyanya itu, secara lahiriah karya itu merupakan untaian puisi cintanya kepada gadis rupawan itu, tapi sebenarnya karya itu merupakan ungkapan cintanya kepada Sang Pencipta.

Selama dua tahun di Makkah (1202-1204), Ibnu’Arabi sibuk dalam penulisan. Karya-karyanya pada periode ini adalah: Misykātul Anwār, Ĥilyatul Abdāl, Ruhul Quds, dan Tājul Rāsail. Namun karyanya yang paling monumental adalah Al Futūĥātul Makkiyyah, yang diklaimnya merupakan hasil pendidikan langsung dari Tuhan. Penulisan kitab yang menjadi masterpiece-nya ini berawal dari peristiwa saat ia bertawaf di Ka’bah, dimana dia bertemu dengan figur pemuda misterius yang memberinya pengetahuan tentang makna isoterik dari al Qur’an.

Pada tahun 1204 (601 H) Ibnu ’Arabi meninggalkan Makkah menuju Bagdad dan tinggal selama 12 hari, lalu melanjutkan perjalanan ke Mosul. Selama tinggal di Mosul ia berhasil menyelesaikan  tiga karya, yaitu Tarazzulah al Maushiliyyah, Kitab Al Jalāl wal Jamāl, dan kitab Kunh mālā Budda lil murīdi minhu. Dari Mosul, berangkat keutara melalui Dyarbakir, dan Malatya sampai di Konya. Pada tahun ini Ibnu’Arabi menyusun Risalah al Anwār. Dan untuk pertama kalinya berhubungan dengan Ahaduddin Hamid al Kirmani seorang guru spiritual dari Iran. Pada tahun 1206 Ibnu ‘Arabi menuju ke Yerussalem lalu Hebron (disini berhasil menulis Kitab Al Yaqin) dan menunaikan ibadah Haji di Makkah pada bulan Juli 1206. Menjelang 1207 mereka kembali berada di Kairo, berkumpul bersama sahabat lama Ibnu’Arabi dari Andalusia yaitu Al Khayyat dan Al Mawruri. Tetapi sayangnya lingkungan di Kairo tidak bersimpati pada Ibnu’Arabi, karena ajaran-ajarannya dianggap menyimpang dan dituduh melakukan bid’ah. Mereka merasa tertekan dengan keadaan ini, pada akhir tahun 1207 Ibnu’Arabi kembali ke Makkah untuk melanjutkan belajar Hadist dan juga mengunjungi keluarga Abu Syuja’ bin Rustam. Setelah tinggal di Makkah sekitar satu tahun lalu berjalan lagi ke utara menuju Asia kecil. Tiba di Konya pada tahun 1210 (607 H) dan disambut baik oleh penguasa Kay Kaus dan orang-orang disana.

Pada tahun 1212 (609 H) Ibnu ’Arabi kembali mengunjungi Bagdad. Di sana dia bertemu dengan guru sufi terkenal Shihabuddin Umar al Suhrawardi, pengarang kitab Awarif al Ma’arif.

Pada tahun 1223 (620 H) Ibnu’Arabi menetap di Damaskus hingga akhir hayatnya, kecuali sekedar kunjungan singkat ke Aleppo pada tahun 1231. Perjalanan yang panjang, hasil karya yang luar biasa, kefakiran dan kemiskinan yang menjadi panggilan hidupnya, semua telah menggerogoti kesehatannya. Kini dia amat terkenal dan dihormati di mana-mana. Penguasa Damaskus Al Malik al ‘Adl menawarinya untuk tinggal di Istana. Disini Ibnu ’Arabi merampungkan karya besarnya Futūĥātul al Makkiyyah dan juga Fushūsul Hikam sebagai ikhtisar ajaran-ajarannya. Selain itu menyelasaikan puisinya Al Diwan al Akbar.

Karya-Karya Ibn ‘Arabi

Dalam catatan sejarah pemikiran umat Islam, Ibnu ‘Arabi adalah tokoh yang memberi konstribusi besar terhadap tradisi intelektual secara tertulis. Separoh akhir dari kehidupannya telah menghasilkan ratusan karya yang mempunyai nilai sastra, intelektual dan spiritual yang tidak ternilai harganya. Memang ia adalah pemikir yang paling tinggi tingkat produktifitasnya dibanding pemikir lain. Namun sampai saat ini belum ada jumlah pasti yang disepakati para peneliti atas karya-karya Ibnu ‘Arabi. Di antaranya adalah kitab-kitab sebagai berikut: Kitab Al Isra’, Hilyah al Abdāl, Risalah al Anwār, Kitab Al Fana’ fi al Musyahadah, Istilah al Shufiyyah, Ruĥ al Quds, Al Durrah al Fakhirah, Turjumān al Asywāq, Dzakha’ir al Alāq, Mashasid al Asrar al Qusdsiyyah, Anqa’Mughrib, Misykat al Anwār, Mawaqi’ al Nujūm, Taj al Rasa’il, Kitab Jalāl wa al Jamāl, Tajalliyah, Awrat al Usbu’, Futūĥātul al Makkiyyah, Fushūsul Hikam, Al Diwan al Akbar, Bulghatul Ghawwas fil Akwan.

Wafat

Ibnu ‘Arabi wafat di Damaskus pada 16 November 1240 (28 Rabi’al Tsani 638 H) dalam usia 76 tahun. Qadhi ketua di Damaskus dan 2 orang murid Ibnu ‘Arabi melakukan upacara pemakamannya.

Majalah Tanwirul Afkar Edisi 540

 

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *