Kontemporer

Apa Kira-Kira Komentar Gus Dur Tentang Kekalahan Barca?

Saat sedang riang bermain dengan teman-teman, tiba-tiba wali kelas saya yang sedari tadi duduk santai di ruang kantor sudah berada di kelas dan mengutus seseorang untuk mengumpulkan kami. Bagi saya, yang waktu masih bocah dan sangat gila bermain tentu ada perasaan kesal, sebab waktu istirahat yang secara rutin kami gunakan untuk bermain terpotong.

Tapi tunggu dulu, kenapa wali kelas saya begitu tega memotong waktu paling berharga saya pada waktu itu. Saya menemukan jawabannya ketika sudah duduk rapi di dalam kelas. Dengan raut wajah setengah galau, wali kelas saya yang sedari tadi menunggu, kemudian menjelaskan bahwa pada hari itu Gus Dur telah wafat. Masing-masing kita dimintai untuk membaca surah fatihah untuk dihadiahkan kepada Gus Dur.

Itulah hari pertama saya mendengar nama Gus Dur. Pada saat itu saya hanya sebatas mengenal namanya, belum benar-benar mengenal dirinya. Saya mulai mengenal sosok Gus Dur ketika saya sudah nyantri ke Tanah Jawa. Saya mengenalnya melalui buku dan cerita dari para ustaz di Madrasah.

Namun, pada saat itu pengetahuan tentang Gus Dur yang saya proleh melalui buku dan cerita-cerita dari para ustaz saya di Madrasah masih sangat sedikit dan tidak sistematis. Hingga akhirnya saya mendapat sebuah pengumuman bahwa beberapa hari ke depan akan diadakan Kelas Pemikiran Gus Dur. Tanpa pikir panjang, saya langsung mendaftarkan diri. Dan alangkah beruntungnya, dengan beberapa pertimbangan akhirnya saya terpilih untuk menjadi peserta.

Dalam kesempatan ini, di hari pertama, saya dan peserta yang lain mendapat menimba ilmu tentang sosok Gus Dur dari Kiai Marzuki Wahid, yang merupakan murid sekaligus orang yang sering bersama-sama dengan Gus Dur. Sebagai orang pesantren, saya sangat bahagia, sebab sanad keilmuan saya mengenai sosok Gus Dur sangat sahih. Dalam tradisi pesantren, sanad merupakan salah satu hal paling penting dalam menimba ilmu.

Materi yang disampaikan Kiai Marzuki kepada peserta mengenai sosok Gus Dur sangat banyak. Sungguh teramat sulit untuk saya uraikan dalam tulisan yang insyaallah sangat singkat ini. Oleh karena itu saya hanya akan menguraikan satu bagian saja, yaitu tentang sembilan nilai utamanya, dan itupun tidak secara urut.

Pertama, kearifan tradisi. Selama hidup, Gus Dur mencintai penuh Bangsa Indonesia berikut dengan segenap Kearifan Tradisinya. Selama sebuah tradisi itu tidak bertentangan dengan nilai-nilai substansi Islam maka Gus Dur akan mendukung dan tetap melestarikannya.

Dan setelah saya amati, ternyata apa yang diperjuangkan Gus Dur yang disebut dengan kearifan tradisi, sudah dipraktekkan oleh Kiai saya di pesantren.

Di Ponpes. Sukorejo Jawa timur, salah satu wiridan yang rutin di baca setelah adzan isya’ berupa “Aqaid Saeket” adalah syair yang berisi penjabaran tentang sifat-sifat Allah namun dilantunkan dengan bahasa Madura yang sangat halus. Tujuannya adalah agar orang-orang setempat yang notabenenya adalah orang-orang madura mudah memahami dan menghayatinya. Pengarangnya adalah Kiai Syamsul Arifin dan Kiai As’ad.

Ada delapan nilai utama Gus Dur lagi yang sebenarnya juga ingin saya tulis di sini. Tapi entahlah, saya tiba-tiba malas untuk melanjutkan tulisan ini setelah menyaksikan kekalahan Barca dari Madrid tadi malam (24-10-2020). Memang selisih skornya hanya 1-3, tapi ingat itu laga El-Clasico!. Meskipun 1-3, tapi berasa 8-2. Nyesek.

Andai saja Gus Dur masih ada, apa kira-kira komentar Gus Dur tentang kekalahan Barca ini, terutama tentang keputusan Koeman menurunkan Griezman dan Dembele di penghujung laga. Ahh.. Andai saja.

Penulis: Syarifuddin (Santri aktif Ma’had Aly Situbondo)

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *