Akhlak Sirah Nabawiyah

Fatimah Binti Asad, Bibi Nabi Yang Paling Beruntung

Di saat-saat perang masih gencar-gencarnya terjadi antara umat Islam dan orang kafir tepanya pada tahun sembilan hijriyah wafatlah perempuan pertama yang masuk Islam yakni Siti Khadijah. kematian beliau membuat nabi sangat berduka dan sangat terpukul, disisi lain beliau harus tetap memberikan semangat pada para tentara, mengatur strategi melawan musuh, bahkan terjun langsung ke medan perang. Meski demikian tuhan tidak lantas membiarkan kehidupan rumah tangga baginda hancur berantakan.

Ternyata kematian sang istri bukan berarti menjadi tanda tidak adanya support atau dukungan dari seorang wanita di balik layar perjuangan sang Rasul. ada seorang wanita yang menggatikannya, mendukung nabi, mengurus rumah tangga nabi, dan tidak kalah hebatnya dengan Khadijah baik dalam hal pemikiran, kehormatan, pangkat dan kedudukanya di mata baginda, dia adalah bibi beliau yang bernama Fatimah Binti Asad Bin Hasyim. (Muhammad Ibrahim Salim, Nisa’ Haula ar-Rasul al-Qudwah al-Hasanah al-Uswah at-Thayyibah li Nisa’ al-Usroh al-Muslimah, Hal: 193)

Imam ad-Dzahaby memaparkan bahwa: Fatimah merupakan anak perempuan  Asad bin Hasyim bin ‘Abdi Manaf bin Qushoy. Dia adalah istri paman nabi yakni Abi Thalib bin Abdil Muthallib sekaligus ibunda Amirul Mukminin yang sangat cerdas, Sayyidina Ali r.a.. Menurut az-Zubair bin Bikar, dia merupakan perempuan yang pertama kali yang terlahir dari keturunan Bani Hasyim. Ibnu Sa’ad berkomentar; Fatimah seorang wanita yang sholeh, nabipun sering mengujungi beliau bahkan tidur di kamarnya. As-Sya’by berkata: dia masuk Islam, ikut hijrah bersama nabi dan wafat di Madinah. (Ahmad bin ‘Aly bin Hajar Abu al-Fadl al-‘Asqalany as-Syafi’i, Al-Ishobah fi Tamyiz as-Shohabah, Jus; 8, Hal; 60)

Baginda hidup cukup lama dengan wanita ini, wajar bila Rasul sangat mencintai dan menghormati dia, hal ini tentu karena bibinya sudah dianggap ibunya sendiri. Ibnu Ashim menceritkaan dari jalur Abdullah bin Muhammad bin Umar bin Aly bin Abi Thalib dari Abu Thalib bahwa nabi mengkafani bibinya dengan menggunakan gamis beliau dan bersabda:

لَمْ نَلْقِ بَعْدَ أَبِيْ طَالِبٍ أَبَرَّ بِيْ مِنْهَا

Saya belum pernah menjumpai seseorang yang sangat baik pada ku setelah Abu Thalib kecuali dia(Fatimah bin asad). (Al-Ishobah fi Tamyiz as-Shohabah, Jus; 8, Hal; 60)

Istri Abu Talib itu juga dikenal perawi hadis, ada sekitar 47 hadis yang diriwayatkanya. Melihat rekam jejak Fatimah dalam hal mendidik nabi, mengasuh, mendukung tujuan nabi, meriwayatkan hadis, dan ikut merawat rumah tangga nabi maka wajar bila nabi sangat mencintainya sampai gamis baginda dijadikan kain kafan, nabi yang turut menguburkannya bakhan turun ke liang lahat. Sampai seorang sahabat bertanya: kami tidak pernah melihat perlakuan anda yang penuh penghormatan kepada wanita ini juga anda lakukan pada orang lain? Nabi menjawab:

اِنَّهُ لَمْ يَكُنْ بَعْدَ أَبِيْ طَالِبٍ أَبَرَّ بِيْ مِنْهَا

(Aku bertindak demikian)karena belum ada seorang pun setelah Abu Thalib yang sangat baik kepadaku dari pada dia(Fatimah bin asad)(Ibnu Hisyam, Siroh Ibnu Hisyam, Jus; 1, Hal; 80-83)

Ibnu Abd al-Bar berkata: Sa’dan bin al-Walid as-Sabary meriwayatkan dari Atha’ dari Ibnu Abbas, dia berkata; ketika Fatimah ibunda Sayyidina ‘Aly wafat, rasulullah mengkafaninya dengan gamis milik nabi setelah itu baginda juga berbaring bersama Fatimah dalam kubur. Lalu para sahabat bertanya: kami tidak pernah melihat perlakuan anda pada seorang mayat seperti ini? Nabi menjwab: (Aku bertindak demikian)karena belum ada seorang pun setelah Abu Thalib yang sangat baik kepadaku dari pada dia(Fatimah binti Asad). Dan aku memakaikan gamisku agar supaya dia kelak diberi pakaian dari surga sedangkan tujuan aku berbaring di dekatnya agar aku bisa menjadi menyebab dia diberi keringan di akhirat. (Muhammad Ibrahim Salim, Nisa’ Haula ar-Rasul al-Qudwah al-Hasanah al-Uswah at-Thayyibah li Nisa’ al-Usroh al-Muslimah, Hal: 195)

Diriwayat yang lain, nabi menjawab pertanyaan sahabat seperti ini: sesungguhnya malaikat Jibril meyampaikan pesan tuhan kepadaku  bahwa Fatimah termasuk ahli surga, dan bahwa Allah memerintahkan 70 ribu malaikat untuk menshalati jenazahnya. (Imam Abu Abdillah al-Hakim an-Naisabury, Al-Mustadrak ‘ala as-Shohihain, Jus; 3, Hal; 108)

Sufyan at-Tsaury menceritakan dari ‘Ashim al-Ahwal dari Anas bin Malik, dia berkata; dikala Fatimah binti Asad wafat, rasulullah menghampirinya dan duduk di dekatnya lalu berdoa: mudah-mudahan Allah memberikan rahmat kepada anda wahai umiku, engkau adalah umiku setelah umiku(Siti Aminah). Kalian berdua(memilih) lapar demi mengenyangkanku, tidak mengenakan pakaian demi memberikanku pakaian, menghindar dari bau harumnya makanan demi memberikanku makanan. Itu kalian lakukan dengan harapan mendapat ridho Allah dan akhirat. Setelah itu nabi memerintahkan(sahabat) untuk membasuh badan jenazahnya sebanyak 3 kali. Kemudian nabi menuangkan air yang bercampur kapur lalu membuka gamisnya untuk dipakaikan pada Fatimah.

beliaupun memanggil Usamah bin Zaid, Abu Ayyub al-Anshory, Umar bin Khottob dan anak laki-laki yang hitam untuk menggali kuburan. Setelah hampir sampai ke liang lahat maka nabi ikut menggali lalu berbaring di sana sembari bersabda: Allah adalah zat yang menghidupkan dan yang mematikan, Dia adalah zat yang hidup dan tidak mati, ampunilah umiku, Fatimah binti Asad, talqinlah(bantulah) dia saat ditanya oleh malaikat Mungkar dan Nakir, luaskanlah kuburannya dengan pelantara hak nabimu(Muhammad) dan nabi-nabi sebelumku karena Engkau zat yang paling memberi rahmat. Selanjutnya beliau bertakbir 4 kali dan akhirnya dikuburlah Fatimah binti Asad. (Abu al-Qosim Sulaiman bin Ahmad at-Thobrony, Al-Mu’jam al-Ausath, Jus; 1 Hal; 68).

Akhir kata sungguh beruntunglah Fatimah bisa menjadi bibi dari manusia yang paling mulya, membesarkanya, mendidiknya, membantu perjuanganya dan cerita mulya lainya yang dia alami semasa hidup bersama baginda. Semoga kita bisa meneladani wanita ini, Amin.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *