Kontemporer

Pesan Petarung MMA, Khabib Nurmagomedov Kepada Kaum milenial

Khabib Nurmagomedov, bersujud dan menangis setelah mengakhiri duel yang berlangsung di Figh Island, Abu Dhabi, Uni Emirat Arab pada tanggal 25 Oktober 2020 waktu setempat. Momen emosional itu tidak lepas dari kondisi Khabib yang masih berduka pasca ditinggal wafat ayahandanya, Abdulmanap pada tanggal 03 juli 2020. Abdulmanap meninggal dikarenakan menderita penyakit kompilasi, salah satunya Covid 19.

Petarung Rusia yang muslim itu tak terkalahkan dengan catatan kemenangan 29-0. Namun ini merupakan kemenangan terakhir bagi khabib, sebab ia tak ingin melanjutkan karir seni beladiri campuran lagi (MMA).” Ini adalah pertarungan terakhir saya. Tak mungkin saya melanjutkan pertarungan ini tanpa seorang ayah”, ujar Khabib. “saya hanya memiliki satu orang tua tersisa, yakni ibu. Saya ingin lebih meluangkan waktu banyak bersamanya”, katanya.

Khabib Nurmagomedov merupakan sosok yang memanifestasikan seorang muslim sejati yang sangat patuh, terutama kepada kedua orang tua. Memang pada dasarnya orang tua adalah salah satu ciptaan Allah Swt yang bahkan oleh Allah Swt sendiri disakralkan sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya,

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا (23) وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا (24) [الإسراء: 23، 24]

Artinya, tuhanmu menetapkan bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua. Tatkala salah satu dari kedua orang tua atau kedua-duanya telah menginjak usia lanjut, maka jangan sekali-kali mengatakan “ah” dan jangan engkau membentak keduanya dan berkatalah dengan yang baik dan mulia kepada mereka. dan rendahkanlah dirimuterhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan. dan ucapkanlah : ” Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka telah mendidik aku kecil waktu .  (Q.S al-Isra’ ; 23-24)

Pada ayat di atas, Allah Swt memerintahkan seluruh umat manusia  untuk mengabdi dan menyembah hanya kepada-Nya, karena hanya Dia zat mujibul al-Wujud (Allah Swt) yang mampu memberikan kenikmatan-kenikmatan serta segala anugerah kehidupan. Makanya, tak pantas seorang makhluk mencari tuhan lain atau menuhan-nuhankan selain-Nya. Yang menarik dari Surat al-Isra’ ayat 23-24, konsep bersikap baik nan mulia terhadap orang tua ditempatkan setelah konsep ubudiyah (kehambaan) atau uluhiyyah (ketuhanan). Fakhruddin al-Razi di dalam kitabnya, mafatihul al-Ghaib memaparkan beberapa argumentasi perihal korelasi (munasabah) dari dua konsep tersebut.

Pertama, sesungguhnya secara substansi (hakiki) yang menciptakan manusia adalah Allah Swt, namun secara dhahir anak terwujud sebab perantara orang tua. Dengan ini, anak diperintahkan menyembah dan mengagungkan penciptanya yang hakiki, yakni Allah Swt yang selanjutnya diperintahkan pula menghormati orang tua yang telah melahirkan, selaku asbab dhahir keberadaanya. Kedua, bersyukur kepada pemberi kenikmatan yang hakiki adalah sebuah kewajiban sebagaimana pula wajib bersyukur kepada orang yang memberikan kenyamanan secara dhahir. Hal ini sebagaimana sabda Nabi,

من لم يشكر الناس لم يشكر اللّه

Artinya, barangsiapa yang tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak berterima kasih kepada Allah Swt.

Di samping itu, tidak ada makhluk yang bisa berbuat kebajikan, bahkan tanpa mengharap balasan kelak di kemudian hari kecuali hanya orang tua. Alasannya sederhana, karena mereka menganggap anak adalah bagian dari dirinya, Nabi bersabda :

فاطمة بضعة مني

Artinya, Siti Ftimah adalah bagian dari tubuhku

Oleh karenanya, menjadi sebuah keharusan bagi seorang anak berbakti dan beretika yang baik kepada orang tuanya. Imam Ghazali menyebutkan beberapa etika anak kepada orang tua. Pertama, menyimak dengan seksama tatkala mereka berbicara, kedua berdiri ketika melihat mereka berdiri, ketiga mematuhi segala perintahnya, asalkan bukan berupa maksiat, keempat tidak berjalan di depan mereka, kelima suaranya tidak lebih keras dari suara mereka, keenam segera menjawab panggilannya, ketujuh berusaha memperoleh ridonya, ktujuh bersabar tatkala menghadapi dan merawat mereka, kedelapan tidak menunda-nunda kebaikan untuknya dan tidak menunda-nunda mematuhi perintahnya, kesembilan tidak boleh melihat mereka dengan tatapan marah, kesepuluh tidak boleh memalingkan wajah dari mereka.

Tafsir Khazin karya Ibrahim al-Baghdadi menjelaskan bahwasanya al-Qur’an sendiri telah menyebutkan secara tegas lima etika anak kepada orang tua. Pertama, tak boleh mengatakan sesuatu yang menyinggung perasaan orang tua, semisal “ah”. Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya,

فَلا تَقُلْ لَهُما أُفٍّ

Artinya, jangan mengatakan “ah” kepada orang tua

Kedua, jangan membentak kepada orang tua, berdasarkan ayat,

وَلا تَنْهَرْهُما

Artinya, janganlah kamu membentak orang tua

Pertanyaannya, apa perbedaan etika nomer satu dan nomer dua, bukankah etika nomer dua sudah termuat di dalam etika yang pertama, karena logikanya mengatakan “ah” saja tak boleh apalagi membentak. Begini perbedaan keduanya, kalau etika yang pertama fokusnya adalah segala perkataan yang dapat menyakiti hati. Adapaun untuk yang kedua, fokus utamanya ketika seorang anak menolak pemberian orang tua. Jadi pemberian orang tua harus diterima, sekalipun tak disukai.

Ketiga, berbicara dengan lemah-lembut nan sopan sebagaimana ayat,

وَقُلْ لَهُما قَوْلًا كَرِيماً

Artinya, dan berkatalah kepada orang tua dengan lemah-lembut nan sopan

Keempat, merendahkan diri dengan penuh kesayangan dan kesabaran dalam berbakti dan merawat mereka berdasarkan firman-Nya

وَاخْفِضْ لَهُما جَناحَ الذُّلِّ

Artinya, Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan

Kelima, mendoakan orang tua sebagaimana firman Allah,

وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُما كَما رَبَّيانِي صَغِيراً أي

Artinya, dan ucapkanlah : ” Wahai Tuhanku, kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka telah mendidik aku pada waktu kecil .

Alakullihal, taatilah kedua orang tua, karena merekalah yang telah memperjuangkan dengan taruhan nyawa demi menghidupi dan membesarkan kalian. Makanya, tak heran banyak sekali ayat atau hadis yang menegaskan secara shoreh (jelas) betapa penting dan tingginya posisi mereka, baik dalam pandangan tuhan atau makhluk. Terkhir, berbicara Khabib Nurmagomedov, maka secara tak langsung kita berbicara tentang kesabaran, tentang kerja keras, tentang keteguhan prinsip, tentang pengabdian, baik kepada negara, agama dan orang tua, yang pada akhirnya kita akan berbicara tentang kemenangan. Bisa jadi semua itu diperoleh Khabib sebab perjuangannya berlandaskan ibu dan ayahandanya.

Penulis: Admin Tanwirul Afkar

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *