Berita Utama Hukum Islam

Presiden Prancis Melecehkan Nabi, Menodai Toleransi

Sontak dunia tergunjang, pada tanggal 21 Oktober 2020 Pemerintahan Prancis melecehkan Nabi Muhammad Saw dengan cara memamerkan karikatur Kanjeng Nabi di gedung pemerintahan. Hal tersebut dilakukan sebagai penghormatan kepada Samuel Paty yang dibunuh  setelah ia menampilkan karikatur Nabi.

“Samuel Paty dibunuh karena dia menggambarkan republik ini” ujar Presiden Prancis, Emmanuel Macron. Selain itu, Macron memberikan penghargaan sipil tertinggi Legion d’Honneur (penghargaan tertinggi yang bermotto “kehormataan dan tanah air”).  Pertanyaannya, bagaimana tanggapan fikih terkait pelecehan kepada Nabi

Melecehkan Nabi; Apa Kata Fikih?

Seluruh ulama sepakat, bahwa tindakan pelecehan atau penghinaan (istikhfaf) terhadap Nabi hukumnya adalah haram. Bentuk istikhfaf ini bermacam-macam. Bisa dengan mencaci maki, menamai nabi dengan nama yang buruk, menggambarkan Nabi dengan seorang yang memiliki sifat-sifat tercela, atau mengatakan bahwa ajaran yang dibawanya adalah kebohongan.[1] Keharaman ini berdasarkan firman Allah swt;

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا  [الأحزاب: 58]

 “Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.” (QS. Al-Ahzab [33]: 57)

Ayat ini menjelaskan, tindakan menyakiti (idza’) kepada Allah dan Rasul-Nya adalah perbuatan yang dilaknat oleh Allah. oleh karena itu ia haram dilakukan. menyakiti Allah bisa saja dengan terus menerus melakukan dosa baik dosa kecil maupun dosa besar. Sedangkan menyakiti Nabi, bisa jadi secara fisik, seperti memukul, atau non fisik, seperti mencaci maki. Ayat ini mencakup secara umum kepada seluruh tindakan yang bisa menyakiti Nabi, dan Istikhfaf dengan berbagai variannya merupakan salah satu bentuk idza’ (menyakiti) kepada Nabi.[2]

Melecehkan Nabi termasuk perbuatan dosa besar.[3] Baik itu dilakukan dengan sengaja atau bercanda (main-main). Mengenai hukuman yang diberlakukan kepada pelaku pelecehan kepada Nabi tersebut, ulama mengklasifikasi berdasarkan status. Jika pelakunya adalah seorang muslim, maka hukumannya adalah dibunuh. Sedangkan apabila pelakunya adalah kafir dzimmi, maka harus dita’zir.[4] Namun, terdapat pula pendapat yang tidak membedakan status pelaku, baik muslim maupun dzimmi, hukumannya adalah sama-sama dibunuh.[5]

Dalil yang digunakan ulama dalam memberikan hukuman pancung terhadap pelaku pelecehan terhadap Nabi di antaranya adalah hadits berikut;

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ أَعْمَى كَانَتْ لَهُ أُمُّ وَلَدٍ تَشْتُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَقَعُ فِيهِ فَيَنْهَاهَا  فَلَا تَنْتَهِي فَلَمَّا كَانَ ذَاتَ لَيْلَةٍ أَخَذَ الْمِعْوَلَ فَجَعَلَهُ فِي بَطْنِهَا وَاتَّكَأَ عَلَيْهِ فَقَتَلَهَا فَبَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَلَا اشْهَدُوا  فَإِنَّ دَمَهَا هَدَرٌ

Dari Ibnu Abbas RA, ada seorang buta yang memiliki budak perempuan ummu walad[6]. Dia (si budak) itu mencaci maki Nabi. Kemudian tuannya melarang perbuatannya itu akan tetapi ia tidak menggubris dan tetap saja menghina nabi. Pada suatu malam, tuannya yang buta itu mengambil cangkul kemudian dihantamkan pada perut si budak, dan ia terbunuh. Kisah tersebut sampai kepada nabi. Lantas beliau bersabda, “ketahuilah, sungguh darahnya (budak) telah halal”.[7]

Dan hadits berikut;

كَانَ رَجُلٌ شَتَمَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يَكْفِينِي عَدُوًّا لِي فَقَالَ خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ أَنَا فَبَعَثَهُ إلَيْهِ فَقَتَلَهُ

“Ada seseorang yang mencaci maki nabi Muhammad saw. Kemudian Nabi bersabda, ‘siapa yang ingin membelaku dari musuhku?’ ‘Aku!’ kata Khalid bin Walid. Lalu nabi mengutus Khalid untuk membunuh orang tersebut.”[8]

Namun demikian, ulama masih berdebat soal apakah pelaku pelecehan kepada Nabi ini masih diberi kesempatan untuk bertaubat. Secara umum ada dua pendapat dalam hal ini. Jika pelakunya adalah seorang muslim, maka dia langsung dibunuh tanpa dimintai pertaubatan. Namun, pendapat yang lain mengatakan masih diberi kesempatan untuk bertaubat, dan apabila mau bertaubat maka tidak dibunuh. Jika pelakunya nonmuslim, dia tidak dibunuh apabila masuk Islam.[9]

Ulama yang memberikan kesempatan bertaubat kepada pelaku pelecehan ini berhujjah dengan firman Allah swt;

قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَفَ وَإِنْ يَعُودُوا فَقَدْ مَضَتْ سُنَّتُ الْأَوَّلِينَ [الأنفال: 38]

 “Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi. Sesungguhnya akan Berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah tenhadap) orang-orang dahulu “.  (QS. Al-Anfal [8]: 38)

Agaknya, pendapat ulama yang memberikan kesempatan terhadap pelaku pelecehan kepada nabi ini lebih menunjukkan rahmat Islam. Ayat di atas membatasi (taqyid) terhadap hadits-hadits Nabi yang memvonis bunuh orang-orang yang mencelanya. Maka dari itu, hadits-hadits tersebut diperuntukkan bagi pelaku pelecehan yang tidak mau bertaubat. Meskipun demikian, dia harus mendapatkan hukuman yang setimpal sehingga ia tidak melakukan lagi perbuatan kriminalnya.

Maka dari itulah, siapa pun yang terlibat dalam pembuatan karikatur yang secara sadar melecehkan Nabi Muhammad itu harus meminta maaf kepada seluruh umat Islam. Mereka harus berjanji untuk tidak melakukan perbuatannya lagi. Itu bisa dilakukan dengan cara menghukum pelaku seberat-beratnya. Jika masih mengulangi lagi, pemerintah setempat mesti mengambil tindakan tegas dengan menghukum pancung pelaku. Sebab, diakui atau tidak, perbuatan tersebut memantik kekerasan dan kerusuhan sehingga mengganggu stabilitas keamanan di mana-mana.

[1] Kementerian Wakaf Kuwait, Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, j. 3, h. 249.

[2] Mahmud bin Abdillah Husain al-Alusi, Ruh al-Ma’ani fi Tafsiri al-Qur’an al-‘Adzim wa Sab’ al-Matsani, j. 16, h. 221.

[3] Mirqat Shu’ud al-Tashdiq fi Syarh Sullam al-Taufiq, h. 13; Is’adu al-Rafiq wa Bughyah al-Shadiq, j. 2, h. 84

[4]At-Thahawi, Mukhtashar Ikhtilaf al-Fuqaha’, j. 3, h. 50-51; Abdurrahman al-Jaziri, Al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah, j. 4, h. 107.

[5] Wahbah az-Zuhaily, Al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuh, j. 7, 517. Al-Qadli ‘Iyadl, As-Syifa, j. 2, h. 188.

[6] Budak perempuan yang memiliki anak hasil pernikahan dengan tuannya.

[7] Subulussalam, j. 3, h. 266.

[8] Fatawa as-Subky, j. 5, h. 24.

[9] Subulussalam, j. 3, h. 266; Al-Qadli ‘Iyadl, As-Syifa, j. 2, h. 188.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *