Santri

Pencemaran Lingkungan Menurut Kacamata Fikih Bi’ah

Dewasa ini pencemaran lingkungan semakin menjadi-jadi banyak udara yang terkena polusi, air juga mengalami kontaminasi, banyak hutan yang gundul, penipisan lapisan ozon, pemanasan global Global Warming  maupun pencemaran yang lainnya. Pencemaran lingkungan bukan hanya di atur dalam undang-undang positif negara saja melainkan hukum Islam juga turut berpartisipasi untuk mengatur dan menanggulangi terhadap pencemaran lingkungan terutama dalam kajian fikih. Fikih sebagai undang-undang Islam perlu untuk mengatur permasalahan ini agar tidak terjadi kerusakan yang parah.

Mengambil manfaat dari alam memang merupakan suatu hal yang wajar namun hal ini bila dilakukan dengan cara serampangan dan tidak teratur malah akan berdampak buruk bagi kalangan manusia sendiri dalam salah satu kaidah fikih disebutkan bahwa:

درؤ المفا سد مقدم على جلب المصالح

Melalui kaidah fikih ini kita diajak untuk menolak suatu kerusakan itu lebih di dahulukan daripada mengambil kemaslahatan (manfaat) dalam hal ini kita di proritaskan untuk menolak suatu mafsadat yang akan datang dari pada menarik suatu kemaslahatan bila mafsadat itu lebih besar daripada manfaat yang akan diperoleh sehingga melakuakan pemanfaatan secara besar-besaran(eksploitasi) terhadap alam itu tidak dibenarkan menurut kacamata Islam dan sangat bertentangan dengan spirit yang diajarkan oleh Islam itu sendiri

Manusia pada saat sekarang lebih banyak yang menggunakan egosentrisme sehingga mereka banyak melakukan eksploitasi alam secara berlebihan dan tidak porposional sehingga banyak menimbulkan dampak yang siknifikan. Mereka tidak ingat bahwa generasi setelahnya juga memiliki hak untuk memanfaatkan dan menikmati terhadap kekayaan alam, mereka terlalu serakah akan kekayaan alam sehingga banyak hutan-hutan yang gundul, flora dan fauna banyak yang punah akibat terlalu berlebihan.

Menurut Kiai Ali yafie manusia memiliki tiga potensi. Yakni  manusia sebagai penghancur, manusia sebagai kreator atau pembangun, dan manusia sebagai penjaga. Sebagai penjaga, sudah selayaknya manusia menjaga kelestarian alam semesta ini. Allah menugaskan manusia sebagai khalifah di bumi guna merawat, melestarikan dan menjaga terhadap lingkungan sehingga ketika manusia telah menyalahi tugasnya maka Allah selaku penciptanya akan sangat marah kepada hambanya akibat tidak melaksanakan kewajibannya di bumi. Allah merawat bumi dengan cara melakukan ishlah sehingga manusia dilarang untuk menuai kerusakan di bumi sebagaimana di dalam ayat al-quran:

وَلَا تُفْسِدُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَٰحِهَا وَٱدْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ ٱللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ ٱلْمُحْسِنِينَ

Artinya: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Ala’raf : 56)

Untuk melahirkan kajian hukum yang baru dikarenakan fikih lingkungan merupakan kasus yang baru sehingga kita harus menggunakan kajian metodelogi usul fikih sehingga diharapkan dapat mengembalikan seluruh bangunan fiqh kepada landasan fundamentalnya, yaitu kembali kepada tujuan utamanya menjagan kemaslahatan baik di dalam agama maupun di dunia. Melalui kajian fiqh lingkungan (fiqh albî’ah), pesan lingkungan dari agama bisa ditransfer dan menjadi inspirasi baru bagi pengelolaan lingkungan hidup. Ijtihad yang dilakukan oleh kalangan yuridis tentang lingkungan sejatinya dapat digunakan sebagai panduan bagi kita untuk melakukan tindakan preventif supaya prilaku manusia tidak melawan alam dan serampangan melakukan pemanfaatan kepada alam demi meraut keuntungan dan kekayaan yang itu semua dapat berakibat fatal akan lingkungan hidup bila tidak tidak segera diatasi. Marilah kita bersama-sama membangun dunia ini dengan berlandaskan kepada fikih bi’ah dengan melakukan aksi reboisasi hutan, tidak melakukan eksploitasi, melindungi dan menjaga bumi agar dapat dirasakan manfaatnya oleh anak cucu kita kedepannya.

Penulis: Nur Hefni (Santri Aktif Ma’had Aly Situbondo)

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *