Kontemporer

Cinta, Pasangan Sempurna Hanya Ada di Film

Tatanan sosial telah dirusak oleh makhluk sosial itu sendiri. Carut-marutlah jadinya. Ditambah dominasi penguasa yang gemar menggasak sebanyak mungkin keuntungan di dalam tumpukan hak-hak rakyat, semacam rakusnya tikus yang secara mulus melibas makanan busuk hingga tak tersisa bungkus. Kebanyakan, kepentingan manusia di dunia ini mulai berubah haluan. “Jelas ini celaka”, menurut kelompok yang peduli. Akibatnya, lebih penting menumpuk keuntungan sebanyak mungkin dari pada mencari keberuntungan––yang padahal, menurut mereka sendiri, katanya itu abadi.

Tapi sayang, tak semuanya seperti kelompok itu, masih saja ada segelintir orang yang jauh dari kebisingan-kebisingan yang dikira “cipratan” trompet sangkakala itu. Adakalanya mereka memang tidak tahu apa yang terjadi. Atau setidaknya berusaha menutupinya, sehingga sampai pada titik di mana dengan sendirinya ia menjadi acuh. Ya! dia adalah Nurdin. Begitu dan karena itulah ia biasa dipanggil. Tapi lebih tepat, karena ia terlalu disibukkan dengan urusan pentingnya, yang ia anggap lebih penting dari pada “ngurusin tikus”.

“Omong-omong, apakah kamu tidak pernah berfikir untuk menikah?” begitu pertanyaan seorang teman kepada Nurdin––bujangan 28 tahun yang bernama lengkap Habil Nurdin Nurussalam. Sebenarnya, bagi pria yang seumuran dia, terbilang telat jika sampai saat ini tak kunjung menikah. Apalagi bagi orang yang didambakan banyak wanita sepertinya. Paras wajahnya pun tidak seburuk nasibnya, bahkan bisa dikatakan di atas standar laki-laki bujang lainnya. Tak hanya itu, ia juga sering disebut-sebut sebagai seorang pujangga. Maklum, ia sering berkelana, yang tentunya banyak mengenal budaya yang sebagiannya secara tidak langsung mengajarkan peribahasa cinta.

Yah! tentu saja,” jawaban Nurdin yang semenajak tadi wajahnya padam memerah. Tanggapannya begitu dingin dan apatis, meski sebenarnya untuk menutupi keprihatinan orang lain. Baginya, pertanyaan semacam itu ibarat minyak yang disiramkan ke hati yang terbakar.

Yah! Yah! Yah bagaimana maksudmu?” temannya makin bingung, tampak dari keningnya yang mulai mengerut. Pasalnya setiap kali ditanya ia selalu menjawab “Ia”, padahal sampai saat ini Nurdin tetap saja membujang.

“Aku masih memiliki penyesalan begitu dalam perihal mencari jodoh. Akupun belum yakin penyesalan ini akan mudah terhapus dari pikiranku. Pertanyaanmu hanya akan menambah mimpi buruk yang setiap malam aku alami.” tegas Nurdin. Bagi seorang yang memiliki kenangan buruk sepertinya, memang sulit menjawab pertanyaan semacam itu, karena penyesalan bukanlah sesuatu yang harus dikenang. Dengan mengenangnya, berarti meratapi kembali apa yang telah terjadi. Menyesal itu memang perlu, tapi untuk bangkit, bukan untuk menangisinya lagi.

“Andai saja engkau bukan sobat karibku, kawan! aku tak akan pernah meladeni pertanyaanmu itu.” Keluh Nurdin dalam pikirannya.

“Sekarang hanya tinggal penyesalan, kawan! hati ini pilu setelah sadar seperti apa diriku. Setelah kufungsikan betul-betul cerminan hidupku, aku sadar bahwa jalanku memang salah. Dan kuharap engkau tidak sepertiku dulu.” Jawaban jujur Nurdin semakin membuat kawannya menjadi penasaran mengenai apa yang pernah terjadi.

“Di masa remajaku dulu––masa-masa dimana aku membanggakan penampilan dan ketampanan, masa-masa di saat kumerasa menjadi orang yang paling sempurna, di masa itu aku bertekad mencari seorang wanita sempurna. Kusebrangi gurun, hingga saat tiba di Damaskus kukenal seorang wanita yang religius dan cantik. Tapi ia tidak tahu apa-apa tentang dunia. Kuanggap wanita itu masih belum layak aku persunting. ‘Seorang ibu harus menjadi guru pertama untuk anaknya. Tak terbayang bagaimana nasib anak-anakku kelak jika istriku tak bisa mendidik mereka dengan baik.’ Pikirku saat itu.

“Kulanjutkan perjalanan. Sesampainya di Isfahan, kutemukan seorang wanita yang menguasai pengetahuan dunia dan agama, tapi sayang ia tidak cantik. Sempat kuberfikir untuk menikahinya tapi aku masih terlalu bangga dengan paras yang menurutku tampan ini. Bagiku saat itu, ketampanan adalah hal yang patut dibanggakan. Aku khawatir, jika aku menikah dengannya apakah penerusku akan berparas indah sama sepertiku.

Kuputuskan untuk pergi menuju Kairo. Di sana, aku sempat makan malam di rumah seorang lajang cantik, religius dan mengenal realitas material. Kukira inilah wanita sempurna yang layak menjadi ibu dari anak-anakku kelak.” Kenang Nurdin.

“Lalu, kenapa kamu tidak menikah dengannya?” tanya temannya.

“Nah, itu dia, sobat! Sayangnya ia juga mendambakan pria yang sempurna. Kini aku sadar, betapa kesempurnaan itu sesuatu yang nisbi, relatif dan kadang absurd. Ketika orang-orang memburu kesempurnaan, maka kesempurnaan itu seolah berlomba dengan sendirinya––mencari kesempurnaan. Di atas kesempurnaan, pasti ada kesempurnaan yang lain. Dan akhirnya memang tidak akan pernah ketemu.” Pungkas Nurdin sambil berlalu meninggalkan sahabat karibnya.

Tanwirul Afkar Edisi 539

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *