Aswaja Tokoh Nusantara

Kiai As’ad, Pahlawan Umat Teladan Rakyat

Kiai As’ad dan NU bagaikan ruh dan jiwa, tidak bisa dipisahkan. Dedikasinya kepada NU susah dicarikan tandingannya. Dari awal berdirinya NU hingga hembusan nafas terakhirnya, Kiai As’ad setia mengkawal perjalanan oraganisasi ulama ini.

Telah banyak jasa yang beliau berikan kepada NU. Tak pelak jika sosok kiai ini dikenal dengan pahlawan NU, sosok kiai yang dalam jiwanya mengalir deras semangat NU. Dalam satu kesempatan, Kiai As’ad pernah mengatakan “ jiwa, raga, dan tulang sumsumnya adalah NU”. Itu artinya betapa besar semangat juang Kiai As’ad untuk NU.

Segala urusan yang berhubungan dengan NU selalu didukung oleh beliau. Jiwa dan raganya telah beliau korbankan untuk kepentingan NU. Berikut jasa-jasa Kiai As’ad

  1. Mediator NU

Dalam literatur sejarah berdirinya NU, Kiai As’ad memang jarang diungkap bahkan nyaris tidak ada yang tahu atas perannya sebagai mediator berdirinya oraganisasi NU. Bisa dimaklumi, barangkali memang kiai As’ad enggan menceritakan peran sejarahnya lantaran khawatir terbawa kedalam sifat riya’.

Menurut hemat beliau, betapa susahnya mendirikan jam’iyah ulama ini, hingga KH. Kholil Bangkalan, Madura, perlu dua kali mengutus dirinya pergi ke Tebuireng, Jombang, untuk menyampaikan isyarat-syarat kepada KH. Hasyim Asy’ari. Waktu itu Kiai As’ad memang sedang nyantri di Pondoknya KH. Kholil Bangkalan. Ada baiknya jika ditulis hasil rekaman yang dilakukan oleh tim buku “KHR. As’ad Syamsul Arifin Riwayat Hidup dan Perjuangannya”. Berikut isi rekamannya

“Berdirinya NU tidak seperti lazimnya perkumpulan lain. berdirinya NU tidak ditentukan oleh perizinan dari bupati atau gubernur, tapi langsung dari Allah SWT. Dan izin dari Allah itu juga ditempuh melalui perjuangan para wali songo. Karena itu, di dalam simbol NU terdapat bintang berjumlah sembilan”.   

Setelah melalui istikhoroh yang cukup lama oleh beberapa kiai, akhirnya isyarat pendirian jam’iyah NU datang kepada KH. Kholil Bangkalan yang seterusnya beliau memerintah Kiai As’ad untuk mengantarkan tongkat kepada KH. Hasyim As’arie. Tidak ada tanggal dan hari yang jelas tetapi yang pasti peristiwa itu terjadi pada tahun 1924.

Mendapat perintah demikian, kiai As’ad muda langsung berangkat ke Tebuireng Jombang, seraya menghafalkan ayat 17-23 surat Thaha yang juga perintah dari sang guru untuk dihafalkan.

Sesampainya di Tebuireng Jombang, Kiai As’ad langsung memberikan tongkat yang menjadi titipan gurunya kepada KH. Hasyim As’arie.

Kira-kira pada pertengahan tahun 1925 M. Kiai As’ad kembali mendapat tugas dari sang guru. Perintah kali kedua ini, beliau diberi tugas mengantarkan tasbih kepada KH. Hasyim As’arie. Seperti halnya tongkat, tasbih inipun disertai pesan Kiai Kholil berupa bacaan asmaul husna; ya jabbar ya qohhar 3x.

Tidak hanya itu, Kiai As’ad juga diminta oleh KH. Hasyim As’arie untuk mengantarkan surat kepada beberapa ulama terkemuka di Madura.

  1. Gagasan NU kembali Khittah

Gagasan NU kembali ke khittah berawal dari statusnya yang berubah dari organisasi islam menjadi partai politik. Setelah berjalan beberapa tahun ternyata dalam tubuh NU yang kini telah berubah Partai Politik banyak disusupi beberapa kepentingan yang jauh dari misi awal berdirinya NU sendiri. Hal ini dirasakan oleh beberapa ulama sesepuh termasuk Kiai As’ad.

Setelah melalui perbincangan panjang, akhirnya dengan dikomando oleh Kiai As’ad dan beberapa kiai lainnya berkumpul dalam acara Musyawaroh Nasional (MUNAS) yang bertempat di PP. Salafiyah Syafi’yah Sukorejo Situbondo. Dalam Munas yang diadakan sejak 18-21 Desember 1983 itu berhasil memutuskan “mengembalikan NU ke garis dan landasan perjuangan asalnya, yang kemudian populer dengan sebutan kembali ke khittah 1926 ”.

  Gagasan NU kembali ke khittah memiliki beberapa tujuan. Di antaranya:

  1. Mengembalikan aktivitas NU dari bidang politik ke bidang asalnya, yakni bidang dakwah, pendidikan sosial.
  2. Menyerahkan sepenuhnya kepada warga NU dalam menyalurkan aspirasi politiknya, apakah ke Golkar, PPP, maupun PDI yang memang dipandang baik dan tidak bertentangan dengan islam.
  3. Membenahi organisasi, setelah terperangkap dalam kemelut intern seusai Munas Kali Urang, Yogyakarta, 1981. (baca: KHR. As’ad Syamsul Arifin Riwayat Hidup dan Perjuangannya).

Kiai As’ad dan Masyarakat

Hubungan ayah dari kiai Fawaid ini dengan masyarakat secara luas bisa terbilang dekat. Meski memiliki kesibukan yang cukup padat di pondok pesantren, pengasuh kedua ini menyempatkan hadir beberapa undangan dari masyarakat. Hampir seluruh waktunya beliau gunakan untuk kepentingan pesantren dan masyarakat secara luas.

Dalam sejarah tercatat bahwa kiai As’ad adalah sosok kiai yang juga berteman atau bergaul dengan para bajingan. Dan ternyata pertemanan kiai dengan para bajingan itu bermaksud mengayomi dan bisa memberdayakan mereka ke jalan yang benar. Konon, Kiai As’ad memiliki wibawa tersendiri di mata para bajingan. Bajingan yang begitu keras, angkuh dan terkesan beringas itu, di hadapan Kiai As’ad menjadi luluh tak berdaya.

Usaha kiai As’ad membuahkan hasil yang cukup baik. Para bajingan itu akhirnya bertaubat dan ikut berjuang bersama Kiai As’ad yang kemudian beliau kumpulkan dalam perkumpulan palopor untuk keamanan pesantren dan masyarakat dari jajahan musuh.

 

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *