Aqidah

Begini Sikapnya Imam Hanbal Saat diZalimi Penguasa

Khalifah Harun al-Rasyid sangat membenci aliran Mu’tazilah. Pada zamannya, ada seorang ulama Mu’tazilah bernama Basyar al-Marisy yang berpendapat bahwa al-Qur’an itu adalah makhluk. Baginda Harun al-Rasyid tidak mau menerima pendapat tersebut, bahkan orang yang berpendapat demikian akan diberi hukuman. Karena ancaman itu akhirnya Basyar melarikan diri dari Baghdad. Sultan Harun al-Rasyid pernah berkata: “Kalau umurku panjang dan masih dapat berjumpa dengan Basyar niscaya akan kubunuh dia dengan cara yang belum pernah aku lakukan terhadap yang lain?” Selama 20 tahun lamanya Syekh Basyar menyembunyikan diri dari kekuasaan Sultan.

Pada akhir masa pemerintahan Khalifah Harun al-Rasyid, tampak jelas bahwa kekhilafahan telah melewati masa puncaknya. Beberapa provinsi perbatasan, seperti spanyol (di mana seorang pelarian Dinasti Umayyan telah mendirikan Dinasti saingan pada 756) mulai melepaskan diri dan perekonomian mengalami kemunduran, Harun al-Rasyid mencoba untuk memecahkan masalah dengan membagi kekaisaran di antara kedua putranya, yaitu al-Ma’mun dan al-Amin, namun hal ini hanya mengakibatkan perang sipil (809-813) antara keduanya setelah kematian Harun al-Rasyid. Perang saudara ini pada akhirnya dimenangkan oleh al-Ma’mun dan ia memulai pemerintahannya (813-833).

Kelompok Mu‘tazilah, secara khusus mendapat sokongan dari penguasa pada masa  Khalifah al-Ma’mun, bahkan al-Ma’mun menjadikan Mu’tazilah sebagai mazhab resmi Negara. Mereka, di bawah pimpinan Ibnu Abi Duad, mampu memengaruhi al-Ma’mun untuk membenarkan dan menyebarkan pendapat-pendapat mereka, di antaranya pendapat yang mengingkari sifat-sifat Allah, termasuk sifat kalam (berbicara). Berangkat dari pengingkaran itulah, pada tahun 212 H/828 M, Khalifah al-Ma’mun kemudian memaksa kaum muslimin, khususnya ulama mereka, untuk meyakini kemakhlukan al-Qur’an, peristiwa ini disebut dengan al-Mihnah. Selama masa pengujian tersebut, tidak terhitung orang yang telah dipenjara, disiksa, dan bahkan dibunuhnya disebabkan banyaknya ulama yang menolak tentang kemakhlukan al-Qur’an, termasuk di antaranya Imam Hanbali. Beliau tetap konsisten memegang pendapat yang hak, bahwa al-Qur’an itu kalamullah, bukan makhluk.

Al-Makmun sempat memerintahkan bawahannya agar membawa Imam Hanbali dan Muhammad bin Nuh ke hadapannya di kota Thursus. Kedua ulama itu pun akhirnya digiring ke Thursus dalam keadaan terbelenggu. Muhammad bin Nuh meninggal dalam perjalanan sebelum sampai ke Thursus, sedangkan Imam Hanbali dibawa kembali ke Baghdad dan dipenjara di sana karena telah sampai kabar tentang kematian al-Ma’mun (tahun 218 H/ 833 M). Sepeninggal al-Ma’mun, kekhalifahan berpindah ke tangan putranya, al-Mu‘tashim. Dia telah mendapat wasiat dari al-Ma’mun agar meneruskan pendapat kemakhlukan al-Qur’an dan menguji orang-orang dalam hal tersebut, dia pun melaksanakannya. Imam Hanbali dikeluarkannya dari penjara lalu dipertemukan dengan Ibnu Abi Daud dan teman-temannya. Mereka mendebat beliau (Imam Hanbali) tentang kemakhlukan al-Qur’an, tetapi beliau mampu membantahnya dengan bantahan yang tidak dapat mereka bantah. Akhirnya beliau dicambuk sampai tidak sadarkan diri lalu dimasukkan kembali ke dalam penjara dan mendekam di sana selama sekitar 28 bulan, selama itu beliau salat dan tidur dalam keadaan kaki terbelenggu.

Pada akhirnya, beliau dibebaskan dari penjara. Beliau dikembalikan ke rumah dalam ‎keadaan tidak mampu berjalan. Setelah luka-lukanya sembuh dan badannya telah kuat, beliau kembali menyampaikan pelajaran-pelajarannya di masjid sampai al-Mu‘tashim wafat (227 H/842 M). Selanjutnya, al-Watsiq diangkat menjadi khalifah. Tidak berbeda dengan ayahnya, al-Watsiq pun melanjutkan ujian yang dilakukan ayah dan kakeknya. Dia pun masih menjalin kedekatan dengan Ibnu Abi Duad dan teman-temannya. Akibatnya, Al-Watsiq melarang Imam Hanbali keluar dan berkumpul bersama orang-orang. Akhirnya, Imam Hanbali hanya tinggal di rumahnya, tidak keluar darinya meski hanya untuk mengajar atau menghadiri salat jamaah. Hal ini dijalaninya selama kurang lebih lima tahun hingga al-Watsiq meninggal pada tahun 232 H/847 M.

Sesudah al-Watsiq wafat, saudaranya yang bernama al-Mutawakkil naik menggantikannya. Selama dua tahun masa pemerintahannya, ujian tentang kemakhlukan al-Qur’an masih dilangsungkan. Kemudian pada tahun 234 H, dia menghentikan ujian tersebut. Maka diumumkanlah ke seluruh wilayah kerajaannya atas larangan pendapat tentang kemakhlukan al-Qur’an dan ancaman hukuman mati bagi yang melibatkan diri dalam hal itu. Dia juga memerintahkan kepada para ahli hadis untuk menyampaikan hadis-hadis tentang sifat-sifat Allah. Pada masa itu diadakan pembebasan terhadap semua ulama yang ditahan, termasuk Imam Ahmad bin Hanbal.

Menjelang wafatnya, beliau jatuh sakit selama sembilan hari. Mendengar sakitnya, orang-orang pun berdatangan ingin menjenguknya. Mereka berdesak-desakan di depan pintu rumahnya, sampai-sampai Sultan menempatkan orang untuk berjaga di depan pintu. Akhirnya, Pada hari Jumaat tanggal 12 Rabiul Awal tahun 241 H/855 M beliau meninggalkan dunia yang fana ini dengan tenang dalam usia 77 tahun. Setelah mendengar wafatnya beliau, seluruh Kota Baghdad menjadi gempar, jenazah beliau disembahyangkan oleh lebih dari 130,000 orang muslim. Demikian berakhirnya riwayat seorang penegak kebenaran dan mengagungkan ilmu pengetahuan, setelah melalui berbagai siksaan dan penganiayaan. Semoga mereka yang berjuang pada jalan Allah menjadi kekasih Allah, yang selalu mendapat keberkahan serta keridhaan-Nya.

Penulis: Admin Tanwirul Afkar

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *